0
News
    Home Berita Featured Sastia Prama Putri Spesial

    Cerita Sastia Prama Putri, Ilmuwan RI 21 Tahun di Jepang yang Bangga Berpaspor Indonesia - SindoNews

    7 min read

     

    Cerita Sastia Prama Putri, Ilmuwan RI 21 Tahun di Jepang yang Bangga Berpaspor Indonesia


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Rabu, 25 Februari 2026 - 15:41 WIB


    Cerita Sastia Prama Putri, ilmuwan asal Indonesia yang kini berkarier di Jepang patut menjadi inspirasi. Foto/IG @sas.tiaputri.

    JAKARTA - Cerita Sastia Prama Putri, ilmuwan asal Indonesia yang kini berkarier di Jepang patut menjadi inspirasi. Unggahan di Instagramnya dengan caption 21 tahun di Jepang, bangga masih paspor Indonesia pun viral dan mendapat ratusan ribu like.

    Ilmuwan Indonesia yang telah 21 tahun berkarier di Jepang itu menegaskan kebanggaannya tetap memegang paspor Indonesia meski lama tinggal dan berkontribusi di Negeri Sakura.

    Baca juga: Cara Mendapatkan Beasiswa LPDP seperti Dwi Sasetyaningtyas, Link Pendaftaran hingga Tips n Trik

    Dalam unggahannya, Sastia menulis, “21 tahun di Jepang, bangga masih paspor Indonesia. Jangan lelah mencintai Indonesia ????????.," dikutip dari Instagramnya @sas.tiaputri, Rabu (25/2/2026).

    Ia juga memberikan penegasan bahwa dirinya tidak memiliki ikatan dinas dan selama studi mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Jepang.

    Perjalanan akademiknya dimulai saat ia pertama kali datang ke Jepang sekitar 20 tahun lalu sebagai research trainee setelah menyelesaikan studi sarjana di Indonesia. Awalnya, ia mengira hanya akan tinggal selama satu tahun. Namun pengalaman tersebut mengubah jalan hidupnya.

    Baca juga: Mau Jadi WNI Antre, Indonesia Adalah Masa Depan bagi Mereka yang Paham!

    “I first came to Japan about 20 years ago from Indonesia as research trainee, just after I finished my undergraduate study. At that time I thought I would stay in Japan only for 1 year,” tulisnya.

    Setelah setahun menetap, ia mulai mencintai budaya dan kehidupan di Jepang, hingga akhirnya melanjutkan studi dengan dukungan beasiswa pemerintah Jepang.

    Sastia menempuh pendidikan Sarjana Biologi di Institut Teknologi Bandung pada 2004. Ia kemudian melanjutkan program Magister dan Doktor di Osaka University pada bidang Biotechnology Engineering, masing-masing lulus pada 2008 dan 2010.

    Baca juga: Berapa Duit Dana Beasiswa LPDP yang Harus Dikembalikan Suami Dwi Sasetyaningtyas?

    Kini, ia bukan hanya berkarier sebagai akademisi, tetapi juga mendidik mahasiswa Jepang di salah satu kampus terbesar di negara tersebut. Ia mengaku sempat diragukan banyak orang karena dianggap mustahil bagi perempuan asing yang telah berkeluarga untuk meraih posisi kepemimpinan dan status permanen di universitas Jepang.

    “Kalau dulu aku terus mendengarkan orang-orang untuk jangan pernah berkarir di negara Jepang karena mustahil seorang perempuan, bahkan asing, bahkan punya anak bisa punya posisi leadership bahkan permanen di kampus terbesar di Jepang, aku gak bakalan ada di titik ini,” tulisnya.

    Meski demikian, ia menegaskan bahwa perjuangannya bukan untuk mencari validasi atau pengakuan. “Aku tidak pernah berjuang untuk orang lain. Tidak pernah risau apa yang orang pikir. Tidak pernah sibuk cari validasi dari dapat award ini itu. Yang aku sibuk lakukan adalah pengen tahu seberapa tinggi aku bisa terbang,” ungkapnya.

    Selama 21 tahun di Jepang, kontribusinya tidak hanya di bidang akademik. Ia membantu inovasi tempe agar lebih dikenal di dunia internasional, mendorong peningkatan ekspor komoditas prioritas Indonesia ke Jepang, serta membimbing puluhan mahasiswa yang telah dan akan kembali mengabdi ke Tanah Air.

    Atas dedikasinya, Sastia menerima Momofuku Ando Award 2024 yang diberikan oleh mantan Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizumi. Dalam momen tersebut, ia menyampaikan harapannya agar risetnya dapat memberikan kontribusi bagi Jepang maupun Indonesia.

    “I hope that my research can contribute to the well-being of Japanese society and my home country Indonesia as well. I hope I can continue to be a bridge between the two countries,” tulisnya.

    Unggahan Sastia pun mendapat respons dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie. Dalam kolom komentar, Stella menulis, “Jika kita menggunakan beasiswa LPDP dengan tepat, akan lebih banyak lagi yang seperti Mbak Sastia ????????.”

    Bagi Sastia, hidup bukan sekadar tentang pencapaian pribadi. “All I ever wanted in life is to live a life filled with purpose and meaning. Aku hanya berdoa agar tiap hal yang aku lakukan tiap harinya dapat memberikan manfaat bagi orang lain,” tulisnya.

    Kisah Sastia Prama Putri menjadi inspirasi bahwa dedikasi, keberanian, dan kecintaan pada Tanah Air dapat berjalan beriringan, meski berkarier dan berkontribusi di panggung internasional.

    (nnz)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Infografis

    11 Perang Terlama dalam...

    11 Perang Terlama dalam Sejarah Manusia, Ada yang hingga 781 Tahun

    Komentar
    Additional JS