Fakta Viral Foto Murid SD di Jalan Berlumpur: Kami Butuh Perbaikan Jalan daripada MBG - Liputan6
Fakta Viral Foto Murid SD di Jalan Berlumpur: Kami Butuh Perbaikan Jalan daripada MBG
Pesan singkat namun tajam itu menjadi simbol kelelahan warga atas akses yang tak kunjung diperbaiki.
Liputan6.com, Jakarta - Perjuangan berat harus ditempuh puluhan pelajar di Kampung Babakan, Desa Mekarjaya, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. Kondisi jalan yang rusak parah dan dipenuhi lumpur tebal menjadi rintangan berbahaya yang harus dilewati sehari-hari. Terlebih jika musim hujan tiba.
Kondisi ini mencuat setelah viral foto yang memperlihatkan siswa SDN Sukamukti berdiri di tengah jalan berlumpur. Di tangan mereka, terbentang poster yang menyentil prioritas kebijakan pemerintah saat ini: 'Kami butuh perbaikan jalan daripada MBG!'.
Pesan singkat namun tajam itu menjadi simbol kelelahan warga atas akses yang tak kunjung diperbaiki.
Ketua RT 03/04 Kampung Babakan, Dedem, membenarkan bahwa foto aksi protes tersebut diambil di wilayahnya dan melibatkan anak-anak yang setiap hari melintasi jalur maut tersebut.
"Memang di sini lokasinya. Itu anak-anak sekolah yang sering lewat, karena kondisi jalannya rusak dan becek, mereka seringkali tidak bisa lewat sendiri. Akhirnya harus digendong sama ibunya," kata Dedem, Selasa (10/2/2026).
Senada dengan Ketua RT, Siti Latipah, warga setempat, menceritakan bagaimana setiap pagi para ibu harus adu fisik dengan medan jalan yang licin sejauh satu kilometer.
"Anak-anak mau ke sekolah juga repot harus digendong dan seragam anak juga kadang suka kotor pas sudah sampai ke sekolah. Ibu-ibu juga tiap hari harus antar, kadang gendong anak sambil jalan licin dan becek," keluhnya.
Anak-anak harus menempuh jarak sekitar satu kilometer dengan berjalan kaki di atas tanah yang licin dan becek. Kondisi ini memaksa para orang tua untuk mendampingi, bahkan menggendong anak-anak mereka agar tidak terjatuh.
Status Jalan Pemda
Dedem menjelaskan bahwa rusaknya jalan sepanjang 100 meter ini disebabkan oleh longsor yang terus berulang dalam dua bulan terakhir.
Meski warga sudah berupaya gotong royong, hasilnya selalu sia-sia karena tanah kembali menutup jalan setiap kali hujan turun.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan hambatan utama yang membuat perbaikan permanen tak kunjung terealisasi, yakni masalah status kewenangan jalan.
"Ini katanya jalan pemda (pemerintah daerah), jadi enggak bisa dibangun sama desa. Rusaknya sekitar 100 meter, tapi dampaknya besar bagi aktivitas warga dan sekitar 50 anak sekolah," tegas Dedem.
Jalur Darurat Hasil Swadaya
Tokoh masyarakat setempat, Ustaz Syamsuloh (60), menambahkan bahwa warga terpaksa membuka jalur baru secara swadaya karena jalan utama sudah putus total sejak Januari lalu akibat longsor.
"Motor enggak bisa lewat sama sekali. Anak sekolah tiap hari digendong. Sekolah diniyah juga digendong sama ibu atau bapaknya. Ditungguin sebentar, nanti jam 10.00 WIB balik lagi (digendong lagi)," ujar Syamsuloh dengan nada prihatin.
Warga berharap pemerintah daerah segera peka terhadap sindiran halus dari anak-anak SD tersebut dan segera melakukan perbaikan permanen sebelum jatuh korban jiwa.