Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp100 Ribu per Kg, Ternyata Ini Penyebabnya - Merdeka
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp100 Ribu per Kg, Ternyata Ini Penyebabnya
Menteri Perdagangan Budi Santosa mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan kenaikan harga cabai rawit di pasaran saat ini.

Menteri Perdagangan Budi Santosa memberikan tanggapan terkait harga komoditas cabai. Berdasarkan informasi dari Bapanas, harga cabai merah besar dan cabai merah keriting tetap stabil, sementara harga cabai rawit merah sebelumnya sempat mencapai Rp 110.000-120.000 per kg.
"Cabai merah, cabai yang lainnya di bawah HET. Cabai rawit naik dikit," ungkap Budi di Kementerian Perdagangan pada Rabu (18/2/2026).
Menurut Budi, kenaikan harga cabai rawit tidak disebabkan oleh kelangkaan produksi, melainkan oleh masalah distribusi yang terjadi akibat cuaca hujan yang terus-menerus di beberapa daerah penghasil. Pemerintah telah berkoordinasi dengan asosiasi petani untuk mengatasi situasi ini.
"Karena hujannya terus-terusan ya. Sebenarnya panennya, produknya ada banyak, cuma karena terganggu hujan sehingga distribusinya tidak berjalan dengan baik," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa faktor cuaca adalah penyebab utama dari kenaikan harga cabai rawit saat ini. Curah hujan yang tinggi dianggap lebih berpengaruh terhadap kelancaran distribusi dari petani ke pasar. "Kami sudah koordinasi dengan asosiasi petani. Lebih ke faktor karena hujan. Itu lebih mendominasi," kata Budi.
Pasar Murah Kemendag

Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebelumnya telah melaksanakan pasar murah untuk Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah tanpa menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Sekretaris Jenderal Kemendag, Isy Karim, menjelaskan bahwa acara ini sepenuhnya diorganisir oleh koperasi di lingkungan Kementerian Perdagangan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menyediakan kebutuhan pokok masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
"Penyelenggaraan pasar murah ini untuk pertama kalinya di lingkungan Kementerian Perdagangan tidak didukung oleh anggaran APBN. Ini murni kreasi koperasi di tengah efisiensi anggaran yang sedang kita lakukan," ujar Isy saat membuka pasar murah Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah di Kementerian Perdagangan pada Rabu (18/2/2026).
Isy menambahkan bahwa pasar murah ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan bagi pegawai Kementerian Perdagangan serta masyarakat sekitar kantor Kemendag. Tercatat sebanyak 75 tenant berpartisipasi, yang semuanya berasal dari para supplier, sehingga harga yang ditawarkan menjadi lebih terjangkau.
"Tenant-tenant ini hadir langsung dari supplier, jadi insya Allah harganya lebih murah dan bisa membantu masyarakat menjelang Ramadan," katanya. Selain melibatkan supplier besar, Kemendag juga memberikan kesempatan kepada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk membuka tenant. Langkah ini sekaligus menjadi ajang promosi bagi produk pangan dan kuliner lokal, yang dianggap sejalan dengan kebijakan Menteri Perdagangan dalam mendorong produk dalam negeri.
Voucher Belanja
Dalam kesempatan tersebut, Isy mengungkapkan bahwa anggota Koperasi Kementerian Perdagangan akan menerima voucher belanja senilai Rp 150.000 yang dapat digunakan di seluruh tenant pasar murah. Ia juga menjelaskan bahwa Koperasi Pemasaran Niaga Sejahtera Kementerian Perdagangan telah berdiri sejak tahun 1978 dan saat ini memiliki 1.210 anggota, yang merupakan sekitar 42% dari total pegawai Kemendag di pusat. Isy berharap agar semakin banyak pegawai yang mau bergabung sebagai anggota koperasi di masa mendatang.
Lebih lanjut, Isy menekankan bahwa koperasi ini sejalan dengan program prioritas Presiden yang berfokus pada penguatan koperasi, termasuk semangat Koperasi Merah Putih. "Masa kita pembina koperasi tapi tidak punya koperasi yang kuat," ujarnya. Dengan adanya dukungan dan partisipasi yang lebih besar dari pegawai, diharapkan koperasi ini dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi anggotanya.