0
News
    Home Berita Featured Jakarta Romadhon Sembako Spesial

    Harga Sembako di Jakarta Pusat Naik Jelang Ramadan 2026 - Merdeka

    7 min read

     

    Harga Sembako di Jakarta Pusat Naik Jelang Ramadan 2026

    Menjelang Ramadhan, beberapa pasar di Jakarta Pusat mengalami kenaikan harga, dengan selisih antara Rp 2.000 hingga Rp 20.000.

    Ilustrasi pasar tradisional

    Kenaikan harga terjadi di pasar tradisional Jakarta Pusat yang berdampak pada beberapa kebutuhan pokok masyarakat. Menjelang bulan Ramadan, harga barang-barang tersebut meningkat mulai dari Rp 2.000 hingga mencapai Rp 20.000.

    "Kalau bicara ketersediaan pangan aman. Untuk kenaikan harga ini kita akan coba evaluasi dari sisi mana yang meningkat," ungkap Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, di Jakarta pada Kamis, 12 Februari 2026, seperti yang dilansir oleh Antara.

    Pemerintah Kota Jakarta Pusat telah melakukan pengecekan harga pangan di Pasar Johar Baru dan Pasar Modern Lottemart Green Pramuka dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek dan Ramadan. Hasil peninjauan menunjukkan bahwa harga pangan di pasar mengalami peningkatan antara Rp 2.000 hingga Rp 20.000.

    "Kita pantau harga-harga, barang-barang yang ada di Pasar Johar Baru. Tadi sudah ditanyakan kepada para pedagang. Pedagang bawang, cabai, telur, daging ayam, daging sapi, dan pedagang beras," jelas Arifin.

    Harga bawang merah meningkat sebesar Rp 5.000 per kilogram, sementara cabai rawit mengalami kenaikan hingga Rp 20.000 per kilogram. Selain itu, harga telur dan daging ayam juga mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan oleh cuaca ekstrem yang terjadi di beberapa lokasi produksi, sehingga mengakibatkan penurunan produksi.

    "Ayam yang memang agak sedikit melonjak yang awalnya harga satu ekornya Rp 35.000 sekarang menjadi Rp 45.000," tambah Arifin.

    Meskipun terjadi kenaikan harga, Arifin menegaskan bahwa ketersediaan pangan di Jakarta Pusat masih dalam kondisi aman. Ia berharap agar kenaikan harga ini dapat segera dikendalikan, sehingga masyarakat dapat membeli kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.

    Jelang Ramadan, Pemprov NTB Gelar Pasar Rakyat

    Pedagang menjajakan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Selasa (2/4/2019). Sejumlah pedagang di Pasar Induk Kramat Jati mengaku harga bawang merah dan bawang putih relatif stabi
    Pedagang menjajakan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Selasa (2/4/2019). Sejumlah pedagang di Pasar Induk Kramat Jati mengaku harga bawang merah dan bawang putih relatif stabi © 2026 Liputan6.com

    Menjelang bulan Ramadan, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) mengambil tindakan khusus untuk menjaga kestabilan harga bahan pokok. Dalam hal ini, mereka bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk mengadakan pasar rakyat serta bazar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

    Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, menyatakan bahwa tindakan ini diambil setelah terjadi lonjakan permintaan bahan pokok di beberapa pasar tradisional dalam beberapa hari terakhir.

    "Menjelang puasa, permintaan bahan pokok meningkat. Saya turun langsung ke pasar dan memang ada kecenderungan harga naik. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah perlu hadir melakukan intervensi, salah satunya melalui pasar murah," ujar Iqbal pada kegiatan Pasar Rakyat dan Bazar UMKM Makmur Mendunia Center (MMC) NTB di Kantor Camat Pringgabaya, Rabu, melansir Antara, Rabu 11 Februari 2026.

    Meskipun beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, Gubernur memastikan bahwa ketersediaan stok bahan pokok tetap aman selama tidak terjadi panic buying yang dapat menyebabkan lonjakan harga lebih tinggi. "Kami sudah memastikan stok aman dan tersedia. Masyarakat tidak perlu panik atau belanja berlebihan. Pemerintah menjamin pasokan tetap terpenuhi," ucap Iqbal.

    Makmur Mendunia Center (MMC) mendapat apresiasi karena telah berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pasar rakyat dan bazar UMKM tersebut. Gubernur menambahkan bahwa langkah ini tidak hanya berfungsi untuk mengontrol daya beli masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan pelaku UMKM lokal.

    Pemprov NTB Tak Gelar Pasar Murah

    Pedagang menjajakan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Selasa (2/4/2019). Sejumlah pedagang di Pasar Induk Kramat Jati mengaku harga bawang merah dan bawang putih relatif stabi
    Pedagang menjajakan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Selasa (2/4/2019). Sejumlah pedagang di Pasar Induk Kramat Jati mengaku harga bawang merah dan bawang putih relatif stabi © 2026 Liputan6.com

    Pemerintah Provinsi NTB tidak hanya mengadakan pasar murah, tetapi juga melaksanakan program penguatan ketahanan pangan di tingkat desa secara bertahap. Pada tahun ini, sebanyak 300 paket program akan disalurkan ke 300 desa, dan jumlah yang sama direncanakan untuk tahun kedua. Hingga tahun 2029, ditargetkan 1.166 desa dan kelurahan akan menerima program ketahanan pangan serta Desa Berdaya. "Kami ingin memastikan penguatan ekonomi tidak hanya bersifat insidentil, tetapi berkelanjutan hingga seluruh desa terjangkau," jelas Iqbal.

    Sementara itu, strategi yang diterapkan oleh Lombok Timur berbeda. Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, mengungkapkan bahwa pemerintah kabupaten telah menganggarkan dana untuk memberikan bantuan modal gratis kepada sekitar 23 ribu pelaku UMKM dengan total sebesar Rp 20 miliar yang akan disalurkan pada akhir tahun 2025. "Pelaku UMKM yang telah terverifikasi tetap akan menerima bantuan. Jika ada kendala teknis di salah satu bank, kami akan menyelesaikannya. Tidak ada yang tidak menerima selama sudah terverifikasi," tegas Iqbal.

    Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan pasar rakyat dan bazar UMKM sebagai upaya memperkuat ekonomi kerakyatan. Kegiatan serupa akan diadakan di Labuhan Haji pada akhir pekan ini. Langkah-langkah seperti pasar rakyat dan bazar UMKM MMC NTB merupakan bagian dari upaya terpadu pemerintah dalam menjaga stabilitas harga serta memperkuat UMKM, sekaligus memberikan rasa tenang kepada masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan dengan harga bahan pokok yang tetap terjangkau.

    Infografis Sejumlah daerah memiliki tradisi 'bersih-bersih diri' dengan cara mandi menyambut Ramadan (dok. Liputan6.com/Tri Yasni)


    Komentar
    Additional JS