Imlek, Ramadan dan Idul Fitri Berdekatan: Produsen Kue Keranjang di Cikarang Utara Panen Pesanan -
KABUPATEN BEKASI – Di sebuah rumah sederhana di Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, aroma manis kue keranjang menyeruak dari tungku tradisional. Menjelang perayaan Imlek yang berdekatan dengan hari besar keagamaan lainnya, dapur kecil itu berubah menjadi pusat produksi yang tak pernah sepi.
Produsen kue keranjang rumahan ini kebanjiran pesanan. Telepon dan pesan singkat terus berdatangan dari konsumen yang ingin memastikan mereka mendapat bagian dari kue simbol keberuntungan tersebut. Biasanya pesanan naik menjelang Imlek, tapi kali ini lebih ramai karena jarak antar hari besar cukup dekat.
Pemilik industri rumahan di Desa Karangasih Kesih (38) mengungkapkan tahun 2026 menjadi momentum panen rezeki. Kedekatan waktu antara Hari Raya Imlek, Ramadhan hingga Idul Fitri membuat pesanan melonjak tajam.
"Puncaknya sebetulnya sudah dari menjelang Natal tahun lalu. Alhamdulillah berlanjut sampai sekarang mau Imlek, disambung pesanan puasa dan lebaran. Bahkan biasanya terus sampai Lebaran Haji," katanya di Cikarang, Jumat (13/2).
Kesih menyebut kondisi ini sebagai maraton rezeki yang sudah dimulai sejak akhir tahun lalu. Kue keranjang produksinya di banderol Rp30.000 per kilogram, terdiri atas tiga buah kue. Dapur produksinya kini nyaris tidak pernah berhenti beroperasi.
Sejak sore hari, karyawan mulai mengolah gula hingga menjadi karamel. Ketan dicuci, dikeringkan lalu digiling halus. Proses memasak memakan waktu berjam-jam dan membutuhkan kesabaran ekstra. "Kalau masaknya pagi, baru matang itu nanti malam. Terus didinginkan sampai nanti dikirim," ujarnya.
Pada hari biasa, Kesih bersama 40 karyawan mampu memproduksi 5-10 drum besar per hari, setiap drum berisi rata-rata 125-130 kilogram. Memasuki Tahun Baru Imlek, kapasitas produksi meningkat hingga empat kali lipat.
Menariknya, meski tidak memiliki garis keturunan Tionghoa, Kesih berhasil membuktikan bahwa usaha tidak mengenal batas budaya. Ia mampu mempekerjakan kerabat maupun tetangga. Produknya pun kini dipesan oleh warga Indonesia di Jepang, Australia hingga Arab Saudi.
"Yang banyak juga di Tangerang, sampai Subang, Banten juga ada. Biasanya kalau lagi ramai, satu orang bisa pesan satu ton. Alhamdulillah selama mampu, kami produksi," ucapnya.
Tak jauh dari lokasi usaha Kesih, pemilik merek Kue Keranjang Cahaya Hidup, Candra (65) turut merasakan berkah serupa. Ia adalah generasi kedua yang meneruskan usaha keluarga sejak 1993 sekaligus menjadi saksi perjalanan kue keranjang sebagai bagian dari denyut ekonomi Cikarang.
Meski tren pasar mengalami fluktuasi, kedekatan jadwal Imlek, Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini menjadi peluang bisnis menjanjikan bagi usahanya.
"Walaupun memang tidak seramai tahun lalu, tapi terbantu dengan waktu antara Imlek sama bulan puasa kan nyambung, terus Idul Fitri. Jadi kami bisa terus produksi," katanya.
Baginya, mempertahankan usaha kue keranjang bukan sekadar persoalan omzet, melainkan menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Ia tetap setia pada metode produksi lama demi menjaga kualitas rasa.
"Tentu sudah menjadi kebiasaan. Karena kan untuk kebaikan juga, jadi dilakukannya juga untuk kebaikan. Sedangkan soal rezeki menjadi kuasa Yang Maha Esa," ujarnya.
Di Kabupaten Bekasi, kue keranjang kini bukan sekadar simbol perayaan satu komunitas. Ia telah menjadi jembatan ekonomi sekaligus simbol kerukunan, menjaga dapur warga tetap ngebul sepanjang tahun.