0
News
    Home Amerika Serikat Dunia Internasional Featured Iran Israel Konflik Timur Tengah Spesial

    Israel Ultimatum AS: Jika Kalian Tak Serang Iran, Kami Sendiri yang Akan Serang! - Viva

    5 min read

     

    Israel Ultimatum AS: Jika Kalian Tak Serang Iran, Kami Sendiri yang Akan Serang!

    VIVA – Israel menyatakan telah memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka akan menyerang Iran jika AS tak kunjung menyerang Teheran. Pejabat pertahanan Israel seperti dilansir The Jerussalem Post, mengatakan Tel Aviv akan melancarkan serangan terhadap Iran tanpa persetujuan AS karena ancaman rudal balistik Iran nyata bagi mereka. 

    Venezuela Bebaskan 35 Oposisi Tahanan Politik Buat Perkuat Hubungan dengan AS

    "Kami telah memberi tahu pihak Amerika bahwa kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik," kata sumber tersebut 

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Menurut laporan itu, para pejabat Israel menyampaikan kepada mitra mereka di AS bahwa program pengembangan dan produksi rudal balistik Iran merupakan ancaman eksistensial bagi otoritas tersebut.

    Trump dan Umpan Clickbait Geopolitik

    Negara-negara Barat dan juga Israel, menganggap persenjataan rudal balistik Iran sebagai ancaman militer konvensional terhadap stabilitas kawasan.

    Diketahui, Iran memiliki persediaan rudal balistik terbesar dan memiliki daya jelajah maksimal di Timur Tengah. Rudal-rudal Iran memiliki jangkauan yang ditetapkan sendiri sejauh 2.000 km. Artinya rudal Iran mampu menjangkau dan menghancurkan Israel.  

    Iran "Lapor" Rusia dan China soal Hasil Negosiasi Nuklir dengan AS

    Dalam beberapa pekan terakhir, niat Israel untuk menggagalkan rencana pengembangan rudal Iran telah disampaikan kepada militer AS melalui berbagai jalur, termasuk mendesak AS memasukkan program rudal balistik Teheran bagian dari perundingan terbaru dalam pembicaraan di Oman.

    Selain menekan AS, militer Israel disebut telah menyiapkan rencana operasional, termasuk opsi serangan terhadap fasilitas-fasilitas produksi utama rudal balistik Iran.

    Sebelumnya, Iran kemungkinan bersedia menghentikan sementara program nuklirnya, dengan imbalan pencabutan sanksi oleh Amerika Serikat, demikian dilaporkan The New York Post pada Jumat, dengan mengutip sejumlah pejabat Iran.

    Menurut surat kabar tersebut, para diplomat AS dan Iran sedang bertemu di Oman untuk membahas situasi di Timur Tengah dan mencegah eskalasi di kawasan tersebut. Pertemuan ini menandai negosiasi pertama setelah jeda berbulan-bulan yang dipicu oleh fase terbuka konflik Iran-Israel pada Juni 2025, setelah lima putaran konsultasi sebelumnya.  

    Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara tim AS dipimpin oleh utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff. Menjelang pembicaraan pada Jumat, kedua delegasi mengadakan pertemuan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr Al Busaidi, menurut laporan dari media pemerintah Iran.  

    Presiden Trump mengatakan pada Januari bahwa "armada besar" sedang menuju Iran, menambahkan bahwa ia berharap Teheran akan setuju untuk bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan "adil dan merata" yang melibatkan penghentian total senjata nuklir.  

    Presiden memperingatkan bahwa jika tidak ada kesepakatan yang tercapai tentang program nuklir Iran, serangan AS terhadap negara itu akan "jauh lebih buruk" daripada serangan sebelumnya.  

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Iran telah membantah adanya dimensi militer dalam program nuklirnya. Bahkan, Teheran mengklaim nuklir tidak termasuk dalam doktrin pertahanan. Mereka sanggup mempertahankan diri tanpa menggunakan senjata pemusnah massal tersebut.

    Pada Juni, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan bahwa lembaganya belum melihat bukti konkret bahwa Iran memiliki program senjata nuklir yang aktif.


    Komentar
    Additional JS