Keajaiban Puasa Menurut dr Gia Pratama: IGD Sepi Pasien dan Akan Meledak Kembali Pasca Lebaran! - Priangan Timur News
Keajaiban Puasa Menurut dr Gia Pratama: IGD Sepi Pasien dan Akan Meledak Kembali Pasca Lebaran!
Sebuah fenomena unik yang diungkapkan oleh dr. Gia Pratama, seorang praktisi medis yang kerap bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Ia menyebutkan adanya penurunan signifikan jumlah kunjungan pasien selama bulan puasa, sebuah kenyataan yang ia labeli sebagai sesuatu yang "ajaib."
Dalam sebuah bincang-bincang hangat dengan Habib Husein bin Ja'far Al Hadar yang diunggah di akun Instagram @kitanotice, dr. Gia menyoroti bagaimana pola konsumsi menjadi akar dari berbagai masalah kesehatan di Indonesia.
Menurutnya, saat masyarakat menjalankan ibadah puasa dan disiplin menahan diri untuk tidak memenuhi lambung secara berlebihan, grafik penyakit justru menurun drastis.
"Ini ajaib banget. Saya sampai berpikir, apakah semua sumber masalah penyakit itu memang berawal dari makanan?" ujar dr. Gia. Ia menekankan bahwa kebiasaan mengontrol apa yang masuk ke dalam mulut selama Ramadhan terbukti menjadi obat alami yang paling efektif untuk menjaga stabilitas tubuh.
"Balas Dendam" yang Memmatikan di Hari Raya:
Namun, tren positif ini sayangnya seringkali bersifat sementara. dr. Gia memberikan peringatan tajam mengenai pasien yang terjadi tepat setelah Ramadhan berakhir.
Begitu memasuki masa Lebaran, pintu IGD kembali diterima pasien dengan keluhan yang jauh lebih serius.
"Pas Lebaran, naik lagi jumlah pasiennya. Banyak yang lupa menahan diri, semua dimakan dari pagi sampai malam. Serangan jantung dan stroke itu justru sering terjadi setelah Lebaran," tegasnya.
Kondisi "bablas" dalam mengonsumsi hidangan khas hari raya menjadi pemicu utama. Masyarakat cenderung melupakan kendali diri yang sudah dibangun selama sebulan penuh, beralih dari pola makan teratur menuju konsumsi makanan tinggi lemak dan gula tanpa batas.
Bahaya Makanan Tinggi Kalori Tanpa Nutrisi:
Lebih lanjut, dr. Gia menyoroti pola makan generasi saat ini, termasuk Gen Z, yang gemar mengonsumsi makanan dengan kalori tinggi namun minim nutrisi. Ia menyebutkan dua "primadona" yang kerap menjadi beban bagi kesehatan tubuh yakni gorengan dan seblak.
“Makanan yang tinggi kalori, tidak ada nutrisinya boro-boro vitamin atau protein tapi tetap saja dimakan,” tambahnya.
Kombinasi makanan rendah nutrisi dan hilangnya kendali diri pasca-puasa inilah yang menciptakan "badai" penyakit di ruang-ruang darurat rumah sakit.
Fenomena ini menjadi refleksi tajam bagi kita semua: bahwa puasa sebenarnya adalah sistem detoksifikasi terbaik yang sudah teruji secara medis.
Tantangan sesungguhnya bukanlah bertahan menahan lapar saat Ramadhan, melainkan menjaga agar “keajaiban” kesehatan tersebut tidak hancur seketika akibat euforia makan yang tak terkendali di hari kemenangan.
Sehat itu dimulai dari apa yang kita masukkan ke mulut, dan akhirnya, obat terbaik adalah dengan berhenti sebelum kenyang.***