Kenyang Santap Takjil Saat Berbuka Berisiko Kekurangan Protein, Ini Penjelasan Pakar Gizi - Republika
Kenyang Santap Takjil Saat Berbuka Berisiko Kekurangan Protein, Ini Penjelasan Pakar Gizi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan takjil sebagai sumber utama asupan saat berbuka puasa karena berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi penting.
“Biasanya takjil bahan utamanya karbohidrat, ada tambahan gula atau digoreng dengan minyak. Jadi kaya karbohidrat dan lemak saja, tapi rendah protein dan mikronutrien,” kata Rita yang merupakan Ketua Indonesia Asosiasi Ahli Gizi Olahraga (ISNA) saat dihubungi Jumat (20/2/2026).
Ahli gizi yang memperoleh gelar Magister Gizi dan Kesehatan di Universitas Gadjah Mada itu menjelaskan takjil yang umum dikonsumsi masyarakat umumnya berbahan dasar tepung, gula, dan minyak sehingga lebih dominan mengandung karbohidrat dan lemak, tetapi rendah protein serta mikronutrien.
Dosen kesehatan masyarakat di Universitas Faletehan Serang itu menilai kondisi tersebut dapat berdampak pada kecukupan gizi apabila seseorang sudah merasa kenyang karena takjil lalu melewatkan makan utama.
“Kalau seseorang hanya kenyang dengan takjil saja, berisiko kekurangan asupan protein yang merupakan zat gizi utama yang dibutuhkan tubuh, juga kekurangan serat dan beberapa mikronutrien,”kata dia.
Protein sendiri memiliki peran penting dalam menjaga massa otot, memperbaiki jaringan tubuh, serta mendukung sistem kekebalan selama berpuasa.

Halaman 2 / 3
Menurut dia, kebutuhan berbuka puasa sebenarnya bukan pada takjil, melainkan pada peningkatan kadar gula darah secara bertahap setelah seharian menurun. Hal itu dapat dipenuhi dengan konsumsi kurma atau buah serta cairan seperti air putih.
“Takjil itu bukan kebutuhan, tapi keinginan. Kalau ingin konsumsi, cukup satu sampai dua potong saja,” kata dia.
Ia menyarankan masyarakat tetap melanjutkan dengan makan utama yang mengandung karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam komposisi seimbang agar kebutuhan gizi harian tetap terpenuhi. Dengan begitu, masyarakat dapat menjalani puasa tanpa mengorbankan kecukupan protein dan zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh.
Konsumsi makanan berserat
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Tangerang Sari Nur Arofah mengatakan konsumsi makanan berserat saat sahur, seperti sayur dan buah membantu seseorang menjaga rasa kenyang lebih lama, khususnya saat puasa.
”Selain itu, hindari makanan berminyak agar tubuh tidak mudah mengantuk dan lemas di siang hari,” kata Sari di Tangerang, Sabtu.
Hal lain yang bagus dikonsumsi saat sahur adalah lauk pauk yang mengandung protein, karena berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh.
“Apa yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka sangat memengaruhi kondisi tubuh selama berpuasa. Oleh karena itu, pola makan selama Ramadhan perlu diperhatikan agar tubuh tetap mendapatkan asupan energi dan nutrisi yang cukup," kata dia.

Halaman 3 / 3
Sementara itu, saat berbuka puasa, masyarakat diimbau untuk makan secukupnya dan tidak berlebihan. Proses makan sebaiknya dilakukan secara bertahap agar perut tidak terasa sesak. Pilihlah menu bergizi seimbang serta kurangi konsumsi makanan yang terlalu manis, asin dan berlemak.
“Dinkes juga mengingatkan pentingnya mencukupi kebutuhan cairan dengan minum delapan gelas air per hari. Waktu minum dapat dibagi mulai saat sahur, berbuka, setelah sholat Maghrib, isya dan tarawih, serta sebelum tidur,” ujar Sari.
Selain menjaga pola makan, masyarakat juga dianjurkan untuk mengatur aktivitas fisik, mencukupi waktu tidur, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
"Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa puasa memiliki manfaat bagi kesehatan apabila dijalankan dengan pola hidup yang tepat,"kata dia.