0
News
    Home Berita Featured Fenomena Fenomena Alam Komet Spesial

    Komet Ini Secara Misterius Berbalik Arah setelah Melewati Matahari - SindoNews

    6 min read

     

    Komet Ini Secara Misterius Berbalik Arah setelah Melewati Matahari


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Jum'at, 20 Februari 2026 - 23:00 WIB

    Komet Ini Secara Misterius Berbalik Arah.Foto/Science Alert

    LONDON - -Sebuah komet yang melesat melintasi Tata Surya telah membuat para ilmuwan takjub dengan melakukan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

    Pada awal tahun 2017, komet41P/Tuttle-Giacobini-Kresákmelakukan pendekatan terdekatnya ke Matahari, atau perihelion, setelah 5,4 tahun.

    Saat melakukan itu, putarannya tampak melambat hingga berhenti total, sebelum kemungkinan mulai berputar lagi ke arah yang berlawanan, menurut astronom David Jewitt dari Universitas California, Los Angeles.

    Pembalikan arah putaran itu sendiri bukanlah bagian yang mengejutkan; perubahan putaran komet memang terkadangterjadiketika benda-benda es ini mendekati Matahari. Yang mengejutkan adalah seberapa cepat dan dramatis pembalikan arah putaran itu terjadi.

    "Rekor sebelumnya untuk perlambatan putaran komet dipegang oleh 103P/Hartley 2, yang memperlambat rotasinya dari 17 menjadi 19 jam selama 90 hari,"kata astronom Dennis Bodewitsdari Universitas Maryland, menjelaskan fase perlambatan pada tahun 2018.

    "Sebaliknya, 41P mengalami penurunan lebih dari 10 kali lipat hanya dalam 60 hari, jadi baik besarnya maupun laju perubahan ini adalah sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya."

    Urutan kejadiannya adalah sebagai berikut. Pengamatan yang dilakukan pada Maret 2017 menunjukkan bahwa periode rotasi 41P sekitar 20 jam. Pada bulan Mei, rotasi melambat menjadi lebih dari dua kali lipat durasi tersebut, dengan satu rotasi setiap 53 jam atau lebih.

    Namun, menjelang Desember, sesuatu yang sangat aneh telah terjadi. Periode rotasi komet tersebut memendek menjadi 14,4jam– sebuah perubahan, menurut Jewitt, yang paling baik dijelaskan jika rotasinya melambat hingga berhenti total sekitar bulan Juni 2017 dan kemudian berubah arah.

    Secara teori, ini sebenarnya cukup mudah dijelaskan. Komet adalah gumpalan batuan dan es yang menghabiskan sebagian besar periode orbitnya hanya dengan bergerak perlahan. Namun, saat mereka mendekati Matahari, es di dalam tubuh mereka mulai berubah langsung menjadi gas, sebuah proses yang disebutsublimasi.

    Semburan dangeysermenyembur keluar, memancarkan uap ke angkasa. Setiap semburan ini memberikan torsi pada inti komet.

    Inilah sebabnya mengapa begitu banyak komet mengubah putarannya saat mengorbit Matahari, beberapa berputar hingga kecepatan sangat tinggi sehinggahancur sepenuhnya.

    Selain itu, putaran komet yang lebih kecil berubah lebih mudah daripada putaran komet yang lebih besar.

    Dengan lebar sekitar satu kilometer – kira-kira sepanjang 10 lapangan sepak bola yang disusun berderet – 41P cukup kecil sehingga semburan gas tersebut dapat memberikan efek yang sangat besar.

    Jika Matahari memanaskannya secara tidak merata, atau jika distribusi kandungan esnya tidak seimbang, pembalikan cepatnya relatif mudah dijelaskan secara matematis.

    Nah, masih ada sedikit tanda tanya. Pengukuran kurva cahaya yang diambil dari 41P dapat memberikan laju putarannya, tetapi bukan arah putarannya.

    Jewitt sampai pada kesimpulannya dengan memplot kurva cahaya bersama dengan perkiraan baru ukuran komet, yang dihitung dari data arsip Teleskop Luar Angkasa Hubble. Dia hanya bisa membuat kurva-kurva itu sejajar dengan mulus jika putaran komet melambat hingga nol dan kemudian berbalik arah.

    "Perubahan cepat yang diamati adalah konsekuensi alami dari torsi yang dihasilkan oleh zat volatil yang dilepaskan dan bekerja pada inti yang sangat kecil,"tulis Jewitt dalam pratinjau makalahnya, yang belum ditinjau oleh rekan sejawat.

    Jika putaran 41P terus berevolusi dengan laju yang terlihat pada tahun 2017, ia dapat hancur dalam beberapa dekade mendatang, menurut temuan Jewitt.

    Kita belum tahu apakah itu yang akan terjadi. Belum ada data laju putaran yang dipublikasikan dari perihelionnya pada September 2022. Kesempatan berikutnya untuk mengukur laju putarannya adalah pada perihelionnya tahun 2028.

    Komet adalah salah satupeninggalan paling menarikdari awal Tata Surya. Komet rapuh dan berubah dengan cepat, tetapi entah bagaimanamereka masih ada di sini, 4,5 miliar tahun setelah Tata Surya terbentuk.

    Perubahan yang ditunjukkan oleh 41P sepanjang tahun 2017, dan dekade-dekade sebelumnya, menunjukkan bahwa komet ini mungkin merupakan sisa dari komet yang jauh lebih besar yang secara bertahap terkikis oleh tarian panjang dan lambatnya dengan Matahari.

    (wbs)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Infografis

    7 Fakta Pulau Pedofil...

    7 Fakta Pulau Pedofil Jeffrey Epstein: Kuil Misterius hingga Dugaan Kejahatan Seksual

    Komentar
    Additional JS