0
News
    Home Antam Berita Donald Trump Dunia Internasional Emas Featured Greenland Spesial

    Penyebab Harga Emas Antam 'Menggila' di Angka Rp3,1 Juta: Isu Greenland dan Tarif Trump Jadi Pemicu Utama - Viva

    4 min read

     

    Penyebab Harga Emas Antam 'Menggila' di Angka Rp3,1 Juta: Isu Greenland dan Tarif Trump Jadi Pemicu Utama

    Jakarta, VIVA – Laju kenaikan harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara signifikan. Pada perdagangan Jumat, 30 Januari 2026, harga emas Antam bertengger di level Rp3.120.000 per gram. Jika ditarik garis ke belakang, angka ini merefleksikan lonjakan yang luar biasa, pasalnya pada 1 Januari 2026, harga emas masih berada di posisi Rp2.488.000 per gram.

    Pentagon dan Gedung Putih Rencanakan Serangan Militer ke Iran

    Lonjakan ini bukan tanpa alasan. Para pelaku pasar melihat instrumen logam mulia tengah bereaksi terhadap fase "Chaos Mode" yang melanda ekonomi global, dipicu oleh kombinasi eskalasi geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter di Amerika Serikat.

    Geopolitik dan Ancaman Proteksionisme

    Vladimir Putin Temui Pejabat Tinggi Keamanan Iran, Ada Apa?

    Sentimen utama yang menggerakkan pasar pekan ini adalah manuver politik luar negeri Donald Trump. Laporan Bloomberg menyoroti ketegangan diplomatik yang meruncing terkait ambisi strategis AS di Greenland. Isu ini menciptakan keretakan yang tidak terduga pada stabilitas NATO, yang secara otomatis memicu pelarian modal ke aset safe haven.

    Analis dari Capital.com dalam catatan risetnya menekankan bahwa pasar sedang merespons risiko geopolitik tanpa preseden. "Emas kembali menjadi satu-satunya tempat berlindung ketika aliansi tradisional Barat mulai menunjukkan keretakan," tulis tim riset tersebut.

    Harga Emas Hari Ini 31 Januari 2026: Produk Antam Terjun Bebas Turun Rp 260 Ribu Per Gram

    Di sisi lain, laporan Wall Street Journal mengenai potensi intervensi politik terhadap independensi Federal Reserve (The Fed) kian memperburuk keadaan. Keraguan pasar atas independensi bank sentral AS dalam menghadapi inflasi akibat tarif impor baru telah mendorong harga emas spot dunia melesat melampaui level psikologis USD 5.500 per troy ons.

    Tekanan Rupiah dan Respons World Gold Council

    Bagi investor di dalam negeri, kenaikan ini terasa lebih tajam akibat fenomena double kill. Selain mengikuti reli harga global, nilai tukar Rupiah yang terdepresiasi ke kisaran Rp16.800 - Rp17.000 per Dolar AS semakin mengerek harga konversi emas domestik.

    Merespons tren ini, World Gold Council (WGC) dalam ulasan pasar terbarunya mencatat lonjakan permintaan emas fisik yang signifikan di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

    Dewan pakar WGC menilai telah terjadi pergeseran paradigma pada investor ritel. Emas kini tidak lagi sekadar instrumen investasi jangka panjang, melainkan telah menjadi instrumen penyelamat nilai kekayaan (wealth preservation) yang paling krusial. Di tengah volatilitas mata uang dan ancaman inflasi global, kepemilikan aset fisik dianggap sebagai strategi paling efektif dalam melindungi portofolio.

    Meski harga sempat terkoreksi tipis dari puncaknya di Rp3.168.000 pada 29 Janauri 2026 karena adanya aksi profit taking di akhir bulan, fundamental emas diprediksi tetap kuat. Institusi finansial sekelas Morgan Stanley memproyeksikan emas masih akan menjadi primadona selama kebijakan perdagangan global tetap dalam ketidakpastian.


    Komentar
    Additional JS