0
News
    Home Berita Featured Kisah Inspirasi Kisah Inspiratif Spesial

    Perjuangan Pasutri Karanganyar Pedagang Bunga Kuliahkan 2 Anaknya, Jualan Sejak Subuh hingga Magrib - Tribunnews

    8 min read

     

    Perjuangan Pasutri Karanganyar Pedagang Bunga Kuliahkan 2 Anaknya, Jualan Sejak Subuh hingga Magrib


    Dari usaha sederhana tersebut, mereka berhasil mengantarkan anak-anaknya hingga jenjang pendidikan tinggi.

    Perjuangan Pasutri Karanganyar Pedagang Bunga Kuliahkan 2 Anaknya, Jualan Sejak Subuh hingga Magrib
    Ringkasan Berita:
    • Sarwono (61) dan istrinya, Tjahjadi Widyawati alias Ipung (55), berjualan bunga tabur di pinggir Jalan LawuKaranganyar, sejak pukul 04.00 WIB hingga 18.00 WIB setiap hari
    • Usaha bunga tabur ditekuni sejak 2019 setelah menutup warung makan karena tak menutup modal, dengan bunga didatangkan dari Bandungan dan Cepogo
    • Dari hasil berjualan bersama, mereka berhasil menyekolahkan dua anak hingga perguruan tinggi, salah satunya kini bekerja di Kementerian Kesehatan RI

    Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

    TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR – Sejak subuh hingga adzan Magrib berkumandang, Sarwono (61) dan istrinya, Tjahjadi Widyawati atau yang akrab disapa Ibu Ipung (55), setia menekuni usaha bunga tabur di pinggir Jalan Lawu, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar.

    Pasangan suami istri asal Dusun Papahan RT 08 RW 05, Desa Papahan itu menjalani rutinitas berjualan bersama setiap hari, dimulai sekitar pukul 04.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB.

    Dari usaha sederhana tersebut, mereka berhasil bertahan di tengah tekanan ekonomi sekaligus mengantarkan anak-anaknya hingga jenjang pendidikan tinggi.

    Berjualan Bersama Sejak Subuh Hingga Magrib

    Setiap pagi, Sarwono dan Ibu Ipung sudah berada di lokasi lapak mereka. Keduanya duduk berdampingan di tepi jalan, menata bunga tabur di atas tampah bambu sambil menunggu pembeli yang melintas.

    Bunga tabur yang dijual berasal dari Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, serta Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Selain bunga tabur biasa, mereka juga menyiapkan paket bunga mawar merah tabur yang disusun dalam keranjang plastik agar menarik perhatian pengguna jalan.

    "Bunga-bunga ini saya ambil dari Bandungan Kabupaten Semarang sama Cepogo Boyolali, para pembeli beli mulai Rp 5 ribu sampai Rp 600 ribu," kata Sarwono, Kamis (5/2/2025).

    Meski lapak resmi ditutup saat Magrib, pasangan ini tetap melayani pembeli pada malam hari selama stok bunga tabur masih tersedia.

    BUNGA TABUR - Tjahjadi Widyawati (55) alias Ipung, warga Dusun Papahan RT 08, RW 05, Desa Papahan, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar berjualan bunga tabur, Kamis (5/2/2026). Harga bunga kini sedang melambung.
    BUNGA TABUR - Tjahjadi Widyawati (55) alias Ipung, warga Dusun Papahan RT 08, RW 05, Desa Papahan, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar berjualan bunga tabur, Kamis (5/2/2026). Harga bunga kini sedang melambung. (TribunSolo.com/Mardon Widiyanto)

    Dari Warung Makan ke Lapak Bunga Tabur

    Saat ditemui TribunSolo.com, Sarwono yang merupakan pensiunan pengawas SPBU menuturkan bahwa usaha bunga tabur yang kini mereka tekuni bukanlah usaha pertama.

    Pada tahun 2010, Sarwono dan istrinya sempat membuka warung makan kecil di pinggir jalan.

    Seiring waktu, lokasi di depan rumahnya mulai ramai dimanfaatkan pedagang bunga tabur.

    Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada 2019, Sarwono memutuskan untuk ikut membuka lapak bunga tabur di depan warung makannya.

    "Saat itu kami buka warung kecil dulu, karena saat itu lahan di depan rumah saya jadi rebutan buat jualan bunga, namun tahun 2019 saya putuskan untuk buka lapak bunga tabur juga," kata Sarwono.

    Awalnya, kedua usaha tersebut berjalan bersamaan dan masih bisa dijalani.

    Baca juga: Sadranan di Boyolali : Tradisi Kolektif yang Berbeda dengan Ziarah Makam Biasa

    Fokus Menekuni Usaha Bunga Tabur

    Namun pada 2020, Sarwono dan Ibu Ipung mengambil keputusan untuk menutup warung makan dan fokus sepenuhnya berjualan bunga tabur.

    Keputusan itu diambil karena usaha warung makan dinilai tidak lagi mampu menutup modal operasional.

    "Saya tutup warung saya tidak bisa nutup modal untuk jualan makanan dan kami fokuskan untuk lanjutkan jual bunga tabur di sini," kata dia.

    Sejak saat itu, lapak bunga tabur menjadi satu-satunya sumber penghasilan yang mereka jalani bersama setiap hari.

    Ramai Pembeli di Momen Tertentu

    Sarwono mengungkapkan, pada hari-hari biasa pembeli bunga tabur tidak terlalu ramai, kecuali saat ada keluarga yang sedang berduka.

    Namun, ketika tradisi nyadran tiba, jumlah pembeli bisa meningkat hingga sekitar 25 orang per hari.

    Keramaian pembeli justru paling terasa saat Jumat Kliwon.

    Pada hari tersebut, hampir 200 orang datang untuk membeli bunga tabur di lapak mereka.

    Mengantarkan Anak Hingga Perguruan Tinggi

    Dari hasil berjualan bunga tabur yang dijalani bersama sejak subuh hingga Magrib itu, Sarwono dan Ibu Ipung mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga bangku kuliah.

    Anak pertama mereka, Elia Rahayu Andryawati (28), kini bekerja di Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI di Kota Semarang.

    Sementara anak kedua, Gideon Permadi (23), saat ini tengah menempuh pendidikan Sosiologi di Universitas Terbuka.

    "Alhamdulillah, dengan jualan ini, kami bisa menyekolahkan dua anak kami hingga ada anak kami yang kerja di kementerian kesehatan di Semarang," kata dia.

    (*)


    Komentar
    Additional JS