0
News
    Home Berita BPJS BPJS kesehatan BPJS PBI BPJS PBI JK Featured Kesehatan Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Spesial

    Purbaya soal Ramai PBI BPJS Kesehatan Nonaktif: Uang yang Dikeluarkan Sama! - detik

    3 min read

     

    Purbaya soal Ramai PBI BPJS Kesehatan Nonaktif: Uang yang Dikeluarkan Sama!


    Purbaya di DPR. Foto: Anisa Indraini
    Solo -

    Ramainya warga yang mengeluhkan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK) mendadak dinonaktifkan menuai respons keras dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

    Dilansir detikFinance, Purbaya memastikan uang yang dikeluarkan pemerintah untuk program tersebut tidak berkurang.

    Dia mengatakan, penonaktifan sejumlah peserta PBI JK pada prinsipnya untuk meningkatkan kualitas dan tata kelola program JKN agar lebih tepat sasaran, melindungi masyarakat miskin dan tidak mampu. Ia meminta pemutakhiran dan tidak menimbulkan keributan.

    "Jangan sampai yang sakit, tiba-tiba begitu mau cuci darah, tiba-tiba nggak berhak, kan itu kayaknya kita konyol, padahal uang yang saya keluarin sama. Saya rugi di situ, uang keluar, image jelek jadinya, pemerintah rugi dalam hal ini," kata Purbaya kepada Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti, dalam rapat konsultasi pimpinan Komisi DPR RI terkait jaminan sosial, Senin (9/2/2026).

    "Kalau itu membuat uang yang saya keluarkan untuk Anda lebih kecil, saya mendukung ribut dikit nggak apa, tetapi ini kan sama, uang yang dikeluarkan sama, ribut lagi. Saya rugi banyak pak, ke depan tolong dibetulin," sambungnya.

    Purbaya juga mengusulkan agar penonaktifan peserta PBI JK dapat dipertimbangkan untuk tidak langsung berlaku, tapi diberikan jangka waktu 2-3 bulan yang disertai dengan sosialisasi kepada masyarakat.

    Dengan demikian, begitu masyarakat tidak lagi masuk ke daftar PBI JK, seharusnya dilakukan sosialisasi kepada yang bersangkutan sehingga mereka bisa melakukan tindakan yang diperlukan. Dalam periode tersebut, peserta yang dinonaktifkan dapat menyampaikan sanggahan jika merasa masih layak menjadi PBI (miskin dan rentan).

    Lebih lanjut, Purbaya meminta penentuan jumlah PBI JK dilakukan dengan hati-hati dan terukur dengan mengedepankan ketepatan sasaran, kemudahan akses layanan dan menjaga keberlanjutan program JKN.

    "Jadi kita masalahnya adalah masalah operasional, masalah manajemen dan masalah sosialisasi yang harus bisa dibereskan secepatnya," tegasnya.

    Purbaya menjelaskan, jumlah penghapusan peserta PBI JK pada Februari 2026 mencapai 11 juta orang sehingga membuat keributan di masyarakat.
    Menurut dia, penghapusan itu bisa diperkecil setiap bulannya sehingga tidak menimbulkan kejutan di masyarakat.

    "Sebelumnya 7 (juta), 1 (juta), 1 (juta), 1 (juta), 1 (juta), di bawah 1 juta. Jadi ini yang menimbulkan kejutan kenapa tiba-tiba ramai di Februari karena sebagian besar orang yang berpengaruh dan mereka tidak tahu bahwa mereka sudah tidak masuk dalam daftar lagi sehingga kerasa lah itu. Jadi ini yang mesti dikendalikan ke depan. Kalau angkanya drastis seperti ini, ya di smooth-in sedikit lah di atas 3 bulan atau 4 bulan terserah, tetapi jangan menimbulkan kejutan seperti itu," ucap Purbaya.


    Komentar
    Additional JS