Ray Dalio: Emas kini mata uang terbesar kedua di dunia - IDN Financial
Ray Dalio: Emas kini mata uang terbesar kedua di dunia
JAKARTA – Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, menyampaikan peringatan keras tentang transformasi radikal yang tengah berlangsung dalam tatanan keuangan global.
Dalam diskusi mendalam bersama Alan Murray di World Economic Forum (WEF) Davos, Dalio menegaskan bahwa emas kini telah berevolusi menjadi “mata uang cadangan terbesar kedua” di dunia, setelah dolar AS.
Perubahan status ini didorong oleh pergeseran besar di kalangan bank sentral dan sovereign wealth funds yang semakin agresif mengurangi kepemilikan surat utang Amerika Serikat (US Treasuries) dan beralih ke emas fisik. Pemicu utamanya adalah meningkatnya ancaman “perang modal” (capital wars) serta risiko sanksi geopolitik terhadap aset berbasis dolar.
Dikutip dari Kitco News (27/1/2026), Dalio menjelaskan bahwa dunia kini terjebak dalam konvergensi berbahaya antara siklus utang global yang mencapai puncak dan eskalasi konflik internasional. Ia mengingatkan bahwa “utang satu pihak adalah aset bagi pihak lain.”
Namun, dalam lingkungan global yang semakin menyerupai kondisi perang (war-like environment), memegang utang negara lain—khususnya Amerika Serikat—menjadi semakin berisiko. “Jika Anda China, tidakkah Anda khawatir akan disanksi? Dan jika Anda Amerika Serikat, selalu ada risiko utang itu tidak lagi diminati pembeli,” ujar Dalio.
Kondisi ini mengubah kalkulus risiko global. Emas muncul sebagai aset pilihan utama karena memiliki risiko penyitaan (confiscation risk) yang jauh lebih rendah. Tidak seperti aset kertas atau digital yang bergantung pada sistem perbankan dan lembaga pihak ketiga, emas fisik tidak dapat dibekukan, disita, atau dihapus nilainya oleh pemerintah asing.
Dalio kemudian memaparkan strategi investasi yang ia tulis dalam tesis panjang di LinkedIn pada 30 Oktober lalu. Ia menekankan bahwa emas harus dipandang sebagai “uang fundamental” (fundamental money), bukan sekadar instrumen spekulatif untuk perdagangan jangka pendek.
Ia merekomendasikan alokasi aset strategis sebesar 5–15 persen dari total portofolio dalam bentuk emas. Namun, ia menekankan nuansa penting: porsi tersebut perlu ditingkatkan secara signifikan (overweighted) hanya pada masa kerusakan sistem moneter atau perang ekonomi.
Sebaliknya, dalam periode stabil dan damai, emas sebaiknya dikurangi (underweighted), karena secara historis merupakan aset yang berkinerja relatif lemah dan tidak produktif dibandingkan saham atau properti.
Di bagian akhir, Dalio mengaitkan lonjakan harga emas—yang naik sekitar 67 persen dalam periode terakhir—dengan pola sejarah yang berulang. Ia mengaku heran masih banyak pihak yang terkejut dengan kenaikan tersebut. “Hubungkan titik-titiknya (connect the dots),” tegasnya.
Sejak sistem moneter global sepenuhnya meninggalkan standar emas dan beralih ke sistem fiat pada 1971, negara-negara yang terjerat utang berlebih pada akhirnya akan mencetak uang untuk membiayai kewajibannya. Proses ini memicu inflasi dan secara bertahap mendevaluasi nilai mata uang kertas.
Dalam setiap siklus kerusakan sistem moneter (monetary system breakdowns) itulah, Dalio menegaskan, emas secara konsisten membuktikan diri sebagai penyimpan nilai daya beli paling tangguh, jauh melampaui janji-janji pemerintah. (SF)