0
News
    Home Berita Featured Spesial

    Takut Perceraian Hingga Beban Finansial Tinggi, Jadi Alasan Generasi Muda di Kota Solo Ragu Menikah - Tribunnews

    8 min read

     

    Takut Perceraian Hingga Beban Finansial Tinggi, Jadi Alasan Generasi Muda di Kota Solo Ragu Menikah

    Paparan informasi perceraian dan kekerasan rumah tangga di media sosial memperkuat kekhawatiran generasi muda untuk membina rumah tangga.

    Takut Perceraian Hingga Beban Finansial Tinggi, Jadi Alasan Generasi Muda di Kota Solo Ragu Menikah
    Ringkasan Berita:
    • Generasi muda takut konflik rumah tangga dan perceraian.
    • Biaya hidup tinggi membuat pernikahan dianggap beban berat.
    • Paparan media sosial memperkuat keraguan untuk menikah.

     

    Laporan Wartawan TribunSolo.com, Putradi Pamungkas

    TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ketakutan terhadap konflik rumah tangga dan tingginya biaya hidup menjadi faktor kuat yang membuat generasi muda di Kota Solo ragu menikah.

    Hal ini turut berkontribusi pada penurunan angka pernikahan dalam tiga tahun terakhir.

    Sosiolog UNS Prof. Drajat Tri Kartono menyebut banyak generasi muda kini mengaitkan pernikahan dengan potensi luka emosional dan beban finansial.

    “Yang penting bagi mereka itu bebas dari sakit hati, pertengkaran, perceraian. Ternyata rumah tangga yang gagal, rumah tangga toxic, itu berimbas kuat pada kesadaran manusia,” ujarnya.

    Baca juga: Angka Pernikahan Solo Turun Tajam 3 Tahun Terakhir, Ternyata Bukan Sekedar Tren Lokal Tapi Dunia

    Paparan informasi perceraian dan kekerasan rumah tangga di media sosial memperkuat kekhawatiran tersebut.

    “Soal kekerasan dalam rumah tangga atau perceraian, dari media sosial itu berita mengalir luar biasa. Walaupun belum mengalami, itu sangat memengaruhi pikiran mereka,” tambahnya.

    Selain itu, biaya hidup yang tinggi membuat pernikahan dipandang sebagai komitmen finansial besar.

    “Menikah itu pasti perlu rumah. Setelah itu punya anak, dan biaya anak itu besar sekali,” jelasnya.

    Kombinasi faktor psikologis dan ekonomi membuat banyak generasi muda memilih menunda bahkan menghindari pernikahan.

    Angka Pernikahan Merosot Tajam

    umlah pernikahan di Kota Solo terus menurun dalam tiga tahun terakhir.

    Hal itu dinilai menjadi sinyal krisis keluarga di masyarakat perkotaan. 

    Data Kementerian Agama (Kemenag) Kota Solo mencatat, angka pernikahan pada 2023 mencapai 3.051 pasangan, turun menjadi 2.969 pada 2024.

    Di mana angka itu kembali merosot pada 2025 menjadi 2.828 pernikahan.

    Baca juga: Di Balik Sepinya Akad Nikah, Menerka Perubahan Cara Anak Muda Solo Memandang Pernikahan

    Penurunan konsisten ini dinilai bukan sekadar perubahan pilihan individu, melainkan mencerminkan persoalan sosial yang lebih dalam terkait melemahnya institusi keluarga.

    Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si., menyebut kondisi tersebut sebagai gejala krisis keluarga dalam perspektif sosiologi.

    “Kalau orang tidak mau menikah atau menunda pernikahan, otomatis pembentukan keluarga terhambat. Kalau pembentukan keluarga terhambat, maka masyarakat secara luas juga mengalami keterlambatan dalam proses pengembangannya,” ujar Drajat saat berbincang dalam program Podcast TribunSolo.com, Jumat (6/2/2026).

    Ia menilai keluarga merupakan unit dasar masyarakat.

    Ketika pembentukannya tertunda, maka pembangunan sosial juga ikut melambat.

    Lebih Ekstrem di Negara Maju

    Menurutnya, tren ini tidak hanya terjadi di Solo, tetapi juga di berbagai belahan dunia.

    Fenomena penurunan angka pernikahan bahkan lebih ekstrem di sejumlah negara maju.

    Baca juga: Makna Prosesi Menginjak Telur, Ritual Sakral Pernikahan Adat Jawa yang Masih Eksis di Solo Raya

    “Di dunia pun mengalami penurunan. Seperti Jepang misalnya, sekarang sampai harus membayar orang supaya mau menikah atau bahkan mengundang orang luar datang ke Jepang dengan syarat sudah menikah,” jelasnya.

    Perubahan nilai, gaya hidup, serta struktur sosial modern menjadi faktor yang memengaruhi keputusan generasi muda untuk menikah.

    Jika tren ini terus berlanjut, dampak jangka panjang terhadap struktur sosial dan pembangunan masyarakat dikhawatirkan semakin besar.

     


    Komentar
    Additional JS