Tarif Resiprokal AS Diputus 19 Persen, Ekonom Ingatkan Jangan Tumbalkan Program Hilirisasi - Inilah
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal di Jakarta, Selasa (19/11/2024). (Foto: ANTARA/Maria Cicilia Galuh)
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, perjanjian tarif dengan Amerika Serikat (AS), jangan sampai bertentangan dengan kebijakan hilirisasi nasional.
Menurut dia, pengecualian tarif 19 persen yang diputuskan pemerintah AS terhadap sejumlah komoditas asal Indonesia, seperti minyak sawit mentah (CPO), kakao, kopi, dan teh, membawa manfaat jangka pendek.
Artinya, jika keran ekspor atas komoditas tersebut dibuka lebar-lebar, justru berisiko melemahkan arah kebijakan industri dalam negeri, jika hanya fokus komoditas mentah. “Jangan sampai kita step back, kembali mengekspor bahan komoditas mentah,” kata Faisal di Jakarta, dikutip Minggu (15/2/2026).
Selain itu, Faisal menyoroti keinginan AS untuk memperoleh akses penuh terhadap mineral kritis Indonesia. Jika yang dimaksud adalah bahan mentah tambang, kesepakatan tersebut jelas bertentangan dengan strategi hilirisasi Indonesia yang mendorong pengolahan di dalam negeri sebelum ekspor.
Dia menjelaskan, meski pembebasan tarif dapat menjaga ekspor CPO ke AS yang kini menjadi negara tujuan ekspor terbesar keempat dunia. Nantinya, tekanan tetap besar bagi produk manufaktur dan industri olahan yang masih dikenakan tarif tinggi.
Padahal, sektor ini diharapkan menjadi motor peningkatan ekspor bernilai tambah. Untuk itu, dia menekankan pentingnya diplomasi dagang yang lebih kuat agar kepentingan Indonesia tidak dikorbankan dalam negosiasi dengan mitra besar yang punya pengaruh kuat seperti AS. “Negara tetangga seperti Vietnam, Taiwan dan Malaysia bisa mendapatkan deal yang lebih baik dibandingkan kita,” ujarnya.
Dengan demikian, meski ada ruang positif dari pengecualian tarif untuk komoditas tertentu, Faisal menegaskan bahwa Indonesia harus berhati-hati.
Perjanjian dagang dengan AS, lanjut dia, tidak boleh mengorbankan arah kebijakan hilirisasi yang menjadi strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah ekspor dan memperkuat daya saing nasional.
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan terbang ke AS pada Kamis (19/2) untuk menandatangani dokumen final kesepakatan tarif resiprokal Indonesia–AS bersama Presiden AS Donald Trump setelah penyusunan draf perjanjian rampung.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia berkomitmen membuka akses pasar bagi produk AS, mengatasi hambatan non-tarif, serta memperkuat kerja sama perdagangan digital, teknologi dan keamanan.
Sebaliknya, AS akan memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di negeri Paman Sam, seperti minyak sawit, kakao, kopi dan teh.