0
News
    Home Amerika Serikat Berita Bisnis Featured Spesial Tarif Resiprokal

    Tarif Resiprokal AS-Indonesia 19% Bawa Sentimen Positif ke Pasar Modal, Sektor Ini Diuntungkan - Liputan6

    4 min read

     

    Tarif Resiprokal AS-Indonesia 19% Bawa Sentimen Positif ke Pasar Modal, Sektor Ini Diuntungkan



    Kesepakatan tarif resiprokal antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia sebesar 19% lebih memberikan kepastian bagi pelaku pasar modal di tanah air.

    Liputan6.com, Jakarta - Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai kesepakatan tarif resiprokal antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia sebesar 19% lebih menghadirkan kepastian bagi pelaku pasar dibandingkan tekanan sentimen negatif bagi pasar modal domestik. Menurutnya, kepastian angka tarif menjadi faktor utama yang diperhatikan investor. Ia menegaskan, 

    “Disini yang terpenting adalah kepastian, karena dengan adanya kepastian ini biasanya menurut saya ini bukan merupakan sentimen negatif. Investor kan menghendaki adanya kepastian, yang paling penting itu. Kecuali jika tidak ada kepastian, akan memberikan dampak atau sentimen negatif bagi market kita atau IHSG misalnya,” ujarnya kepada Liputan6.com, Jumat (20/2/2026).

    Nafan menambahkan, dengan adanya kepastian tarif di level 19%, pelaku pasar memiliki ruang untuk melakukan mitigasi risiko. Namun demikian, ia memandang volume ekspor Indonesia ke AS berpotensi mengalami penurunan, seiring tren pelemahan ekspor yang telah terjadi dan membuat surplus neraca perdagangan relatif menyempit meski masih berada di zona positif.

    Dari sisi nilai tukar, ia melihat depresiasi rupiah terhadap dolar AS juga menjadi salah satu efek lanjutan dari dinamika kebijakan tarif tersebut. Produk-produk seperti tekstil, garmen, serta sektor manufaktur yang memiliki pangsa pasar besar di AS dinilai turut terdampak. Selain itu, sektor perikanan dan udang juga berpotensi terkena imbas kebijakan tersebut.

    Di sisi lain, ia menyebut crude palm oil (CPO) termasuk komoditas yang dikecualikan dari penetapan tarif, sehingga berpotensi memberikan keuntungan bagi produk sawit Indonesia di pasar AS, terutama karena dinilai lebih efisien dibandingkan minyak nabati lain seperti bunga matahari dan kedelai.

    Sektor yang Diuntungkan 

    20170210- IHSG Ditutup Stagnan- Bursa Efek Indonesia-Jakarta- Angga Yuniar

    Suasana pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

    Untuk sektor yang berpotensi diuntungkan, Nafan menyoroti sektor energi, khususnya batubara dan gas, seiring preferensi kebijakan energi konvensional di AS. Emiten berbasis ekspor produk konsumsi juga dinilai memiliki peluang, terutama yang memiliki pasar domestik kuat dan jaringan ekspor yang luas.

    Sementara itu, sektor keuangan, khususnya perbankan, disebut masih memiliki tingkat likuiditas yang memadai sebagai bantalan menghadapi dinamika global. 

    “Jadi kalau dengan adanya kepastian, dengan angka yang pasti di 19%, tentunya ada mitigasi resikonya, hemat saya demikian. Seperti itu. Yang jelas memang volume ekspor Indonesia ke AS memang bisa menurun, hemat saya demikian,” pungkasnya. 

    Komentar
    Additional JS