Waspada, Kurma Israel yang Beredar di Pasaran Pakai Merek Kurma Palestina, Ini Cara Membedakannya - Merdeka
Waspada, Kurma Israel yang Beredar di Pasaran Pakai Merek Kurma Palestina, Ini Cara Membedakannya
Pejabat Palestina mengatakan kurma yang beredar di pasaran saat ini patut diwaspadai karena ada sejumlah produk kurma Israel yang memakai nama kurma Palestina.

Dua pejabat perdagangan Palestina menyerukan agar dilakukan pemeriksaan cermat terhadap sertifikat asal, barcode, dan dokumen resmi lainnya saat membeli kurma. Mereka memperingatkan adanya pemasaran kurma yang diproduksi di permukiman ilegal Israel sebagai produk Palestina.
Mohammad Sawafteh, perwakilan dari Lembaga Swadaya Masyarakat Union of Date Exporters, mengatakan bahwa kurma yang diproduksi di kawasan cekungan Laut Mati “secara visual sulit dibedakan karena kondisi iklim yang serupa.”
Dilansir laman Anadolu, Kamis (19/2), ia menegaskan pentingnya “produk tersebut secara jelas diidentifikasi sebagai produk Palestina dan dipasok serta diekspor oleh perusahaan Palestina yang dikenal.”
Produk Palestina Makin Berkualitas

Sawafteh menyoroti kerja sama antara aparat keamanan, Kementerian Pertanian, dan perusahaan Palestina.
Kerja sama tersebut, katanya, “telah mempersempit ruang gerak praktik pemasaran kurma Israel dengan nama yang menyesatkan dan menurunkan jumlah produk dari sumber yang tidak jelas. Fenomena ini dulu lebih meluas.”
Ia menyebut produksi Palestina telah berkembang dari segi kuantitas dan kualitas, dengan volume meningkat dan standar yang membaik, “yang berkontribusi pada stabilitas pasar.”
“Tidak ada lagi alasan untuk memasukkan produk Israel dengan dalih kualitasnya lebih tinggi,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa produk Palestina yang ditujukan untuk ekspor “disegel dan memuat data perusahaan eksportir dan importir, serta telah menyelesaikan seluruh prosedur teknis yang menegaskan asal Palestina.”
Verifikasi asal dilakukan melalui sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Kementerian Pertanian Palestina, sertifikat “EUR.1” yang dikeluarkan oleh departemen bea cukai Kementerian Keuangan, serta sertifikat asal Palestina yang diterbitkan oleh Kamar Dagang, ujarnya.
Cara Membedakan
Senada dengan itu, Ibrahim Daeeq, Ketua Dewan Kurma dan Palma Palestina (organisasi nonpemerintah), mengatakan bahwa verifikasi sumber bergantung pada dokumen resmi dan sistem pelacakan yang disetujui oleh Kementerian Pertanian dan Kamar Dagang.
Daeeq mengatakan kepada Anadolu bahwa pembedaan secara visual tidak mudah bagi konsumen rata-rata, terutama di luar Palestina.
“Kurma Palestina tunduk pada pendataan jumlah di setiap kebun (…) serta penerbitan sertifikat asal dan sertifikat kesehatan sebelum ekspor,” katanya.
“Pohon kurma Palestina diairi dari mata air dan sumur air bersih, sementara pohon kurma di permukiman ilegal diairi dengan air limbah daur ulang, yang memengaruhi kualitas dan rasa,” tambah Daeeq, seraya menunjuk pada “perbedaan warna, ukuran, dan rasa.”
Ia menjelaskan bahwa kurma Palestina cenderung berwarna madu alami dan berukuran sedang, sementara kurma dari permukiman ilegal berwarna lebih gelap dan berukuran besar, dengan perbedaan kadar gula dan komponen nutrisi akibat irigasi air limbah.
Ia menambahkan bahwa produk Palestina memiliki barcode resmi, karena produk Palestina diekspor menggunakan barcode Yordania dengan nomor 625.
“Sedang diupayakan untuk membuat barcode khusus bagi produk Palestina,” tambahnya.
Sebaliknya, produk Israel dipasarkan dengan barcode yang diawali angka 729 dan terkadang 871, menurut Daeeq.
Barcode
Barcode merupakan kode identifikasi yang memuat identitas produk; ketika dipindai, akan muncul data seperti nama produk, perusahaan pembuat, dan negara asal.
Daeeq menyebut produk Palestina diekspor dengan label “Product of Palestine” disertai bendera Palestina, sementara produk Israel dapat menggunakan nama seperti Jordan River, Mehadrin, Hadiklaim, King Solomon Dates, Carmel Agrexco, Star Dates, Anna and Sarah, dan Medjool Plus.
Namun ia memperingatkan adanya upaya pengelabuan, dengan mengatakan bahwa merek Israel di beberapa pasar dikemas ulang dalam karton khusus yang mencantumkan nama perusahaan pengemasan.
“Dinas keamanan Palestina bekerja untuk mengendalikan dan mencegah penyelundupan atau masuknya produk dari permukiman ilegal ke pasar Palestina serta ekspornya sebagai produk Palestina, dan fenomena ini telah menurun dalam beberapa tahun terakhir,” tambahnya.
Daeeq mengatakan delegasi Turki mengunjungi kebun-kebun Palestina untuk memverifikasi mekanisme produksi, penyimpanan di lemari pendingin, serta tahapan penyortiran dan pengemasan sebelum melakukan kontrak.
“Terdapat sistem pengawasan yang diawasi para insinyur dari Kementerian Pertanian yang mencakup pendataan dan estimasi jumlah di setiap kebun, pencatatan dalam sistem yang menetapkan ‘kuota’ bagi setiap petani, pemberian izin ekspor khusus untuk setiap pedagang, pengujian residu pestisida dan bahan kimia, serta penerbitan sertifikat kesehatan dan sertifikat asal,” jelasnya.
Ia menilai prosedur tersebut memastikan bahwa produk Palestina benar-benar berasal 100 persen dari Palestina dan melindungi pasar dari upaya penipuan.
Ia mengatakan komite boikot internasional, bekerja sama dengan Dewan Palma dan asosiasi lokal, memantau upaya penjualan kurma dari permukiman ilegal dengan nama Arab atau Palestina, yang membantu menekan praktik manipulasi.
Seiring umat muslim di seluruh dunia menyambut bulan suci Ramadan, pasar menyaksikan peningkatan permintaan, menurut Daeeq, yang mengatakan bahwa lebih dari 90 persen kurma Palestina tersedia di pasar global.
Lembah Yordan
Produksi kurma terkonsentrasi di Lembah Yordan Palestina, yang memiliki sekitar 400.000 pohon kurma. Sekitar 7.000 pemuda dan pemudi bekerja di sektor ini, menjadikannya salah satu sektor pertanian terbesar yang menyerap tenaga kerja di Palestina, menurut Daeeq.
Ia menunjukkan bahwa sebagian besar kebun berada di wilayah yang diklasifikasikan sebagai “Area C” di Tepi Barat yang diduduki.
Area C, berdasarkan Perjanjian Oslo II tahun 1995, mencakup sekitar 61 persen wilayah Tepi Barat dan seharusnya tetap berada di bawah kendali Israel hingga tercapai perjanjian status permanen pada Mei 1999, namun hal itu tidak terjadi akibat penundaan oleh Tel Aviv.
Ia menjelaskan bahwa Lembah Yordan berada sekitar 350 meter di bawah permukaan laut.
“Kondisi iklim ini memberikan karakteristik khas pada kurma Palestina,” kata Daeeq.
Ia menyimpulkan bahwa jenis “Medjool” paling diminati di pasar global dan dijuluki sebagai “raja kurma” karena kualitasnya yang tinggi, dengan permintaan kuat terutama selama Ramadan, yang mencerminkan penerimaan konsumen internasional terhadap produk Palestina.