0
News
    Home Berita Featured Lintas Peristiwa Spesial Yogyakarta

    Yogyakarta Dilanda Cuaca Ekstrem, Warga Diimbau Tak Padusan di Sungai dan Pantai - Kompas

    7 min read

     

    Yogyakarta Dilanda Cuaca Ekstrem, Warga Diimbau Tak Padusan di Sungai dan Pantai

    YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Padusan atau tradisi masyarakat Jawa untuk membersihkan diri dilakukan sebelum hari pertama puasa.

    Padusan pada tahun ini diwarnai dengan cuaca buruk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Kasatpol PP DIY, Bagas Senoaji mengimbau agar masyarakat mencari tempat padusan di lokasi aman, tidak harus ke pantai.

    Bagas menyampaikan beberapa hari terakhir cuaca tak bersahabat untuk mengunjungi kawasan pantai.

    Ratusan Ribu Orang Demo di Toronto Kanada, Tuntut Pergantian Rezim Iran

    Kondisi saat ini bisa membahayakan wisatawan atau warga yang hendak melakukan padusan.

    Baca juga: Cuaca Ekstrem di Pasuruan, 10 Rumah dan Sekolah Rusak, 1 Ekor Sapi Mati Tertimpa Pohon

    “Jadi kalau berkaitan dengan cuaca itu teman-teman SAR selalu siap siaga mengingatkan bagi masyarakat, mungkin yang melaksanakan wisata kan ini liburan empat hari cukup menarik perhatian untuk wisatawan berkunjung ke Jogja,” ujar Bagas saat dihubungi, Senin (16/2/2026).

    “Jadi saya juga mengimbau kepada masyarakat mungkin yang berkunjung ke Jogja, mungkin masyarakat yang akan melakukan padusan, carilah tempat padusan yang mungkin aman, tidak harus di pantai,” imbuhnya.

    Bagas menyampaikan Sar Satlinmas Rescue Istimewa yang berada di Satpol PP DIY bakal terus mengingatkan masyarakat yang bermain ke daerah pantai.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    “Kita kan lebih cenderung ke pencegahan ya. Lebih baik kita mencegah daripada kita istilahnya menolong korban,” ucapnya.

    Dia juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak melaksanakan padusan di sungai.

    Baca juga: Cuaca Ekstrem Ancam Malang di Libur Imlek, Wisatawan Diminta Waspada

    Sebab, sungai juga merupakan daerah yang berbahaya saat terjadi cuaca ekstrem.

    Ia menambahkan, sungai besar di Kota Yogyakarta berhulu di kawasan lereng Merapi.

    Bagas mencontohkan saat sungai di Yogyakarta cuaca cerah, namun hulunya hujan deras maka sungai di Yogyakarta berisiko banjir.

    Baca juga: Komisi I DPR Nilai Pengiriman Prajurit TNI ke Gaza Tak Perlu Sampai 20.000

    “Padusan yang lain itu kan banyak ya, umbul-umbul (mata air) itu kan banyak toh di Jogja ini. Ya, tetapi jangan padusan itu di sungai. Sungai itu juga tidak aman,” kata dia.

    “Mungkin di daerah hulu sana dia itu lagi hujan deras, yang di tengah-tengah kita tidak tahu tiba-tiba terjadi apa banjir bandang dan sebagainya,” imbuhnya.

    Saat cuaca ekstrem ini pihaknya telah menyiapkan ratusan personel SRI.

    Baca juga: Momen Tegang Penodongan Wali Kota Bekasi yang Tak Berujung Proses Hukum

    Ia menyampaikan anggota SRI tersebar di berbagai wilayah dengan rincian sebagai berikut;

    1. Wilayah I Sadeng : 35 personel

    2. Wilayah II Baron : 64 personel

    3. Wilayah III Parangtritis : 69 personel

    4. Wilayah IV Samas : 30 personel

    5. Wilayah V Glagah : 43 personel

    6. Wilayah VI Waduk Sermo : 20 personel

    7. Wilayah VII Kaliurang : 44 personel

    8. Bantuan operasi : 23 personel

    Terpisah, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta, Warjono mengatakan tiga hari ke depan DIY masih rawan hujan dengan intensitas lebat.

    “Ini dua hari ini kita siaga ya, siaga cuaca. Kalau hari ini dan hari ketiganya tetap waspada,” ujar dia.

    Cuaca hujan dengan intensitas lebat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor.

    Baca juga: Cuaca Ekstrem Masih Mengintai, Bupati Jember Berlakukan Tanggap Darurat Bencana

    Pertama, terdapat Madden-Julian Oscillation (MJO) sebuah fenomena atmosfer skala besar di wilayah tropis yang ditandai dengan pergerakan gugusan awan konvektif/uap air dari barat ke timur (Samudra Hindia ke Pasifik) dalam siklus 30-60 hari.

    “Ya, di samping ada MJO, memang ada penumpukan awan jadi semacam konvergensi gitu ya. Ada konvergensi yang menyebabkan sepanjang Jawa kondisinya akan banyak mengalami hujan,” beber Warjono.

    “Sedang ke lebat dan berpotensi terjadinya hujan lebat yang disertai angin dan petir,” imbuhnya.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS