0
News
    Home Ayatollah Ali Khamenei Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    5 Kandidat Pengganti Khamenei Sebagai Pemimpin Iran - medcom

    6 min read

     

    5 Kandidat Pengganti Khamenei Sebagai Pemimpin Iran


    Jakarta: Kematian Ayatollah Ali Khamenei dipastikan pascaserangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026, berdasarkan laporan dari media pemerintah dan menyusul klaim serupa yang sebelumnya telah disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump dan diperkuat oleh pernyataan resmi pejabat Israel.


    "Rakyat Iran yang terhormat dan dibanggakan! Dengan duka cita dan kesedihan yang mendalam, diumumkan bahwa menyusul serangan brutal oleh pemerintah kriminal Amerika dan rezim Zionis yang keji, teladan iman, jihad, dan perlawanan, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Agung Imam Khamenei, telah meraih anugerah kesyahidan yang agung," demikian pernyataan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), dikutip dari saluran Telegram resmi mereka.

    Wafatnya Khamenei—figur yang memegang otoritas tertinggi di Iran sejak 1989—merupakan keberhasilan awal yang signifikan dalam operasi gabungan AS-Israel. 

    Rezim ulama Iran kini menghadapi prospek untuk mencari penerus Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei setelah kematiannya dalam serangan tersebut. Sebelumnya, sejumlah nama telah dilaporkan menjadi kandidat kuat untuk menggantikan Khamenei; berikut adalah daftarnya:
     

    1. Mojtaba Khamenei (56 tahun)


    Sumber: Morteza Nikoubazl/NurPhoto via CNN

    Putra kedua Ali Khamenei ini disebut sebagai figur yang memiliki pengaruh kuat di balik layar. Ia diketahui memiliki kedekatan erat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) serta milisi Basij—dua institusi keamanan paling berpengaruh dalam struktur kekuasaan Iran.

    Meski demikian, peluang Mojtaba tidak sepenuhnya mulus. Tradisi suksesi dari ayah ke anak cenderung dipandang negatif dalam struktur ulama Syiah, terlebih mengingat Iran lahir dari revolusi yang menggulingkan sistem monarki.

    Hambatan lain adalah statusnya yang bukan ulama berpangkat tinggi dan tidak memegang jabatan resmi dalam pemerintahan. Ia juga pernah dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat pada 2019.
     

    2. Alireza Arafi (67 tahun)


    Sumber: via Middle East Institute

    Arafi dikenal sebagai ulama mapan dengan rekam jejak panjang di lembaga pemerintahan. Ia menjabat sebagai wakil ketua Majelis Ahli—lembaga beranggotakan 88 ulama senior yang berwenang memilih pemimpin tertinggi Iran—serta pernah menjadi anggota Dewan Garda yang bertugas menyaring kandidat pemilu dan legislasi parlemen.

    Ia juga memimpin sistem seminari di Iran. Sejumlah analis menilai penempatan Arafi dalam posisi strategis menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi dari Khamenei terhadap kemampuan administratifnya.

    Namun, ia tidak dikenal sebagai figur politik kelas berat dan tidak memiliki kedekatan yang kuat dengan aparat keamanan seperti IRGC.
       

    3. Mohammad Mehdi Mirbagheri (awal 60-an)


    Sumber: Iran International

    Mirbagheri merupakan ulama garis keras yang mewakili sayap paling konservatif dalam struktur ulama Iran. Ia adalah anggota Majelis Ahli dan memimpin Akademi Ilmu Keislaman di Qom.

    Ia dikenal memiliki sikap yang sangat anti-Barat dan berpandangan bahwa konflik antara “kaum beriman dan kaum kafir” tidak terelakkan.

    Pandangan ideologisnya yang keras membuatnya dipandang sebagai kandidat yang dapat mempertahankan garis konfrontatif Iran terhadap Barat, namun di sisi lain berpotensi memperdalam isolasi internasional bagi negara tersebut.
     

    4. Hassan Khomeini (awal 50-an)


    Sumber: en.radiozamaneh.com

    Cucu pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, ini memiliki legitimasi simbolik yang kuat dari sisi sejarah revolusi. Ia saat ini menjabat sebagai pengelola mausoleum Khomeini.

    Namun, ia tidak memiliki jabatan publik strategis dan dinilai kurang memiliki pengaruh terhadap elite keamanan maupun lingkaran inti kekuasaan.

    Ia juga dikenal lebih moderat dibandingkan banyak ulama senior lainnya dan pernah dilarang mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Ahli pada 2016.
     

    5. Hashem Hosseini Bushehri (akhir 60-an)


    Sumber: Iran International

    Bushehri merupakan ulama senior yang memiliki kedekatan dengan institusi yang mengelola proses suksesi, khususnya Majelis Ahli, di mana ia menjabat sebagai wakil ketua pertama.

    Ia disebut memiliki hubungan baik dengan Khamenei, tetapi cenderung berprofil rendah di dalam negeri dan tidak diketahui memiliki hubungan kuat dengan IRGC. Posisi institusionalnya dapat menjadi keuntungan dalam proses formal pemilihan, meskipun pengaruh politiknya dinilai tidak sebesar kandidat lainnya.
    Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun
    Google News Metrotvnews.com

    Komentar
    Additional JS