Sosok Ali Larijani, Tokoh Kunci yang Diyakini Mengambil Kendali Iran usai Wafatnya Khamenei - Tribunnews
Sosok Ali Larijani, Tokoh Kunci yang Diyakini Mengambil Kendali Iran usai Wafatnya Khamenei
Larijani dikenal sebagai orang kepercayaan Khamenei dan figur berpengalaman yang telah lama berada di lingkaran elite politik Iran.
Ringkasan Berita:
- Nama Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran (SNSC), kini menjadi sorotan dunia setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel
- Sejumlah analis dan laporan internasional kini menempatkan Larijani sebagai tokoh sentral yang berkemungkinan memegang kendali kekuasaan.
- Larijani dikenal sebagai orang kepercayaan Khamenei dan figur berpengalaman yang telah lama berada di lingkaran elite politik Iran.
SERAMBINEWS.COM, TEHERAN — Nama Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran (SNSC), kini menjadi sorotan dunia setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.
Kematian Khamenei telah dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran dan memicu kekosongan kepemimpinan tertinggi di Republik Islam tersebut.
Kendati konstitusi Iran belum secara resmi menunjuk pengganti Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi, sejumlah analis dan laporan internasional kini menempatkan Larijani sebagai tokoh sentral yang berkemungkinan memegang kendali kekuasaan selama periode transisi.
Larijani dikenal sebagai orang kepercayaan Khamenei dan figur berpengalaman yang telah lama berada di lingkaran elite politik Iran.
Berbeda dengan pemimpin spiritual, Larijani bukan seorang ulama, tetapi memiliki keluarga besar yang erat kaitannya dengan struktur keagamaan dan politik negara.
Lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Iraq, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga clerical dan meniti karier di berbagai jabatan penting politik dan militer Iran.
Sebagai Sekretaris SNSC, Larijani memegang peran strategis dalam mengoordinasi kebijakan pertahanan, negosiasi nuklir, dan hubungan luar negeri terutama di tengah konflik yang meningkat dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Belakangan ini, dia menjadi tokoh utama yang mewakili Iran dalam pertemuan dengan pejabat internasional, termasuk pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan pejabat negara Teluk yang berupaya menjadi mediator dalam meredakan ketegangan.
Sejak konflik berskala besar dengan Israel pada 2025, Larijani kembali menjabat sebagai Kepala SNSC — posisi yang telah pernah ia pegang hampir dua dekade lalu — dan kini memainkan peran lebih menonjol dibanding pendahulunya.
Menurut pengamat politik Ali Vaez dari International Crisis Group, Larijani adalah operator politik yang cerdik dan memahami secara mendalam seluk‑beluk sistem politik Iran, serta memiliki hubungan sangat dekat dengan Khamenei sebelum wafatnya pemimpin tertinggi itu.
Di tengah spekulasi tentang kepemimpinan masa depan Iran, belum ada pengumuman resmi tentang siapa yang akan dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi berikutnya.
Konstitusi Republik Islam Iran mengatur bahwa Majelis Ahli harus segera berkumpul untuk memilih penerus, namun prosesnya masih berlangsung dan belum diputuskan.
Meskipun demikian, Ali Larijani tetap menjadi figur yang paling sering disebut sebagai pengatur kekuasaan sementara dan tokoh penting yang memegang kendali atas keamanan serta arah kebijakan negara dalam periode paling genting ini, di tengah tekanan internasional dan konflik yang berkecamuk.
Baca juga: Jenazah Khamenei Ditemukan di Bawah Reruntuhan Kediamannya, Trump dan Netanyahu Sudah Lihat Fotonya
Orang kepercayaan Khamenei
Dikutip dari AFP, Rabu (25/2/2026), Larijani baru-baru ini dipilih Iran untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskwa, serta sejumlah pejabat negara Teluk yang berperan sebagai mediator antara Teheran dan Washington.
Pria berkacamata dan dikenal karena nada bicaranya yang terukur ini diyakini memiliki hubungan sangat dekat dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Pengalamannya yang panjang di militer, media, dan legislatif membuatnya memahami seluk-beluk sistem politik Iran secara mendalam.
Larijani kembali menjabat sebagai Kepala SNSC tak lama setelah konflik Iran-Israel pecah pada 2025.
Jabatan ini merupakan posisi yang pernah ia pegang hampir dua dekade lalu, yang mengoordinasikan strategi pertahanan serta pengawasan penuh terhadap program nuklir.
"Dia sekarang memainkan peran yang lebih menonjol daripada kebanyakan pendahulunya," kata Ali Vaez, direktur proyek International Crisis Group untuk Iran.
"Larijani adalah orang dalam sejati, seorang operator yang cerdik, memahami cara kerja sistem dan memahami kecenderungan pemimpin tertinggi," lanjutnya.
Baca juga: Arab Saudi Ancam Balas Serangan Iran, Ketegangan Timur Tengah Meningkat
Berasal dari keluarga elite
Lahir di Najaf, Irak pada 1957 dari seorang ulama terkemuka yang dekat dengan pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini, keluarga Larijani memiliki berpengaruh dalam sistem politik Iran selama beberapa dekade.
Beberapa kerabatnya telah menjadi sasaran tuduhan korupsi selama bertahun-tahun, yang semuanya mereka bantah.
Latar belakang pendidikannya pun mumpuni dengan gelar PhD di bidang Filsafat Barat dari Universitas Teheran.
Sebagai veteran Korps Garda Revolusi Islam selama perang Iran-Irak, Larijani kemudian memimpin lembaga penyiaran negara, IRIB selama satu dekade dari 1994 sebelum menjabat sebagai ketua parlemen dari pada periode 2008-2020.
Pada 1996, ia diangkat sebagai perwakilan Khamenei di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC).
Meski sempat kalah dalam Pilpres 2005 dari Mahmoud Ahmadinejad dan didiskualifikasi pada pencalonan 2021 serta 2024, kembalinya Larijani ke pucuk keamanan nasional dianggap sebagai tanda kembalinya manajemen keamanan yang pragmatis.
Baca juga: Cincin Perak di Jari Ali Khamenei dengan Ukiran Ayat Al-Quran Surah Asy-Syuara, Ini Artinya
Antara hak nuklir dan ancaman
Larijani secara konsisten membela hak kedaulatan Iran dalam pengayaan uranium, namun tetap mendukung penyelesaian cepat melalui jalur negosiasi.
Ia memperingatkan, tekanan eksternal yang terus-menerus bisa memicu perubahan sikap nuklir Iran demi membela diri.
"Kami tidak bergerak menuju senjata (nuklir), tetapi jika Anda melakukan kesalahan dalam masalah nuklir Iran, Anda akan memaksa Iran untuk bergerak ke arah itu karena mereka harus membela diri," katanya kepada televisi pemerintah.
Setelah konflik dengan Israel, ia menggambarkan kekhawatiran Barat atas program nuklir Iran sebagai dalih untuk konfrontasi yang lebih luas.
Dia berulang kali menegaskan bahwa negosiasi dengan Washington harus tetap terbatas pada isu nuklir dan membela pengayaan uranium sebagai hak kedaulatan Iran.
"Kami menginginkan penyelesaian yang cepat untuk masalah ini," katanya dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan Al Jazeera, merujuk pada pembicaraan dengan AS.
Larijani menilai perang terbuka antara Iran dan AS kecil kemungkinan terjadi.
Baginya, Washington akan menyadari bahwa risiko kerugian jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang didapat dari konflik bersenjata.
Vaez meyakini, perhitungan politik Larijani dibentuk oleh ambisi jangka panjang.
"Dia adalah pria ambisius yang mengincar jabatan yang lebih tinggi. Larijani jelas ingin menjadi presiden," kata Vaez. "Hal itu menciptakan dua insentif, pertama untuk menjaga sistem dan kedua untuk tidak membakar kartunya."
Siapa pemimpin Iran selanjutnya?
Dikutip dari Al Jazeera, konstitusi Iran telah mengatur prosedur jika pemimpin tertinggi meninggal dunia.
Dalam proses tersebut, akan ada dewan yang terdiri dari tiga orang, termasuk presiden Iran, kepala lembaga peradilan, dan seorang ulama dari Dewan Penjaga Konstitusi, yang akan mengambil alih kendali negara.
Saat ini, wewenang tertinggi Iran disebut diberikan kepada Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani.
Sementara itu, kantor berita Reuters menyebutkan, Khamenei kemungkinan digantikan oleh tokoh-tokoh garis keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menurut dua sumber yang diberi informasi tentang intelijen tersebut.
Menurut sumber ketiga yang mengetahui masalah tersebut, pengambilalihan kekuasaan oleh tokoh-tokoh IRGC adalah salah satu dari berbagai skenario yang muncul.