Ada 51 Spesies Baru, Pakar Dorong Pemetaan Keanekaragaman Hayati Nasional - deTick
Sebanyak 51 spesies baru ditemukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sepanjang 2025, meliputi 32 fauna, 16 flora, dan 3 mikroba. Temuan ini diungkap oleh Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN.
Dilansir dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, sebanyak 49 di antaranya ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Temuan ini menegaskan status negeri ini sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati terbesar di dunia.
Para peneliti menilai, penemuan ini bukan hanya pencapaian ilmiah, tetapi juga pengingat bahwa masih banyak potensi alam Indonesia yang belum terungkap. Di sisi lain, temuan ini menjadi alarm bagi pentingnya eksplorasi dan konservasi di tengah ancaman kerusakan lingkungan yang terus meningkat.
Data Biodiversitas Jadi Kunci Konservasi
Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) sekaligus Guru Besar Fakultas Biologi UGM, Prof Budi Setiadi Daryono, menyebut penemuan 51 spesies baru oleh BRIN merupakan langkah besar dalam memperkaya data keanekaragaman hayati nasional.
Ia menegaskan, pengumpulan data primer yang valid dan terverifikasi penting untuk menjaga kelestarian ekosistem di masa depan.
"Nah ini yang membuat kita senang, bahwa penentuan spesies itu sudah semakin presisi, datanya semakin valid dan terverifikasi. Jadi sebagai orang yang berkecimpung di bidang biodiversitas, justru ini yang harus didorong oleh pemerintah melalui kegiatan-kegiatan eksplorasi," ujarnya, dikutip dari UGM.
Melestarikan Spesies Endemik Indonesia
Menurut Budi, sebagian besar spesies baru tersebut merupakan spesies endemik yang hanya hidup di habitat tertentu. Tanpa pendataan yang akurat, keberadaan mereka bisa saja terancam tanpa pernah tercatat.
"Bahayanya kalau kita belum bisa mendata sementara ekosistemnya sudah rusak, kita tidak bisa mengetahui apakah spesies tersebut sudah punah atau belum karena kita tidak punya data," ujar Prof. Budi.
KOBI mencatat, antara 2020 hingga 2024, telah terhimpun lebih dari 16 ribu data biodiversitas yang mencakup 1.912 famili, 4.606 genus, dan 7.904 spesies. Data tersebut dikumpulkan dari berbagai lembaga penelitian dan universitas di Indonesia untuk disusun menjadi Indeks Biodiversitas Nasional.
"Emas Tersembunyi"
Budi menyoroti fokus penelitian keanekaragaman hayati selama ini masih dominan di kawasan daratan. Padahal, sebagian besar kekayaan biodiversitas Indonesia menurutnya justru berada di laut.
Dengan wilayah perairan yang luas, ia menilai eksplorasi laut harus menjadi prioritas utama untuk melengkapi data yang masih terbatas.
"Biodiversitas di laut adalah emas tersembunyi. Jika data sudah lengkap, harus didorong untuk konservasi berkelanjutan dan melihat potensinya yang ke depan dapat bermanfaat bagi pengembangan industri," tuturnya.
Ia menambahkan, penelitian biodiversitas laut penting untuk konservasi sekaligus untuk pengembangan ilmu pengetahuan. tak hanya itu, dampaknya bisa terasa pada sektor farmasi dan pengembangan ekonomi berkelanjutan, termasuk dengan sumber daya hayati lain yang bernilai ekonomi tinggi.
Dengan begitu, Budi mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan lembaga riset agar eksplorasi laut dapat terus berlanjut secara sistematis dan berkelanjutan.
(rhr/twu)