Analis Turki, Rusia, dan Barat, Kompak: Perang AS-Iran Masuki Fase Paling Mematikan - Republika
Analis Turki, Rusia, dan Barat, Kompak: Perang AS-Iran Masuki Fase Paling Mematikan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika Donald Trump mengunggah ancaman terbarunya di Truth Social pada Sabtu malam, 22 Maret 2026, memperingatkan Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam 48 jam atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya, dunia kembali disuguhi sebuah pertunjukan yang sudah lama dikenali: kepastian yang diucapkan dengan lantang, namun tak sepenuhnya mencerminkan kenyataan di lapangan.
Tiga pekan setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran resmi dimulai, konflik ini telah memasuki fase yang paling berbahaya, bukan karena intensitasnya yang meningkat, melainkan karena arahnya yang semakin kabur.
Baca Juga :
Dulu Bocor, Kini Diledakkan Iran, ini Profil Orang yang Berani Bongkar Rahasia Dapur Nuklir DimonaTiga suara dari tiga sudut pandang yang berbeda, seorang kolumnis Turki, seorang analis Rusia, dan seorang jurnalis BBC, menawarkan peta pembacaan yang saling melengkapi sekaligus saling bertegangan. Dibaca bersama, ketiganya membentuk satu gambaran yang lebih utuh tentang di mana perang ini sesungguhnya berada.
Kabut yang Tebal di Atas Selat Hormuz
Anthony Zucker dari BBC merumuskannya dengan tepat: "kabut perang" kali ini bukan hanya mengaburkan kalkulasi militer, tetapi juga meracuni persepsi para politisi dan publik. Trump menyebut perang "hampir selesai," namun pasukan Marinir baru terus bergerak ke kawasan.
Pemboman diklaim sedang mereda, namun serangan terhadap target Iran, termasuk pangkalan gabungan AS-Inggris di Diego Garcia, terus berlangsung tanpa jeda.
Kontradiksi itu bukan sekadar inkonsistensi komunikasi. Ia mencerminkan sebuah dilema strategis yang nyata: AS telah memulai perang tanpa garis finis yang jelas.
Tujuan-tujuan yang semula dicanangkan Trump, menghancurkan militer Iran, melumpuhkan infrastruktur pertahanannya, dan menyingkirkan program nuklir, kini bergeser perlahan. Yang mencolok adalah apa yang justru tidak lagi disebut: tidak ada seruan perubahan rezim, tidak ada lagi frasa "penyerahan tanpa syarat."
Dalam pembaruan tujuan terbarunya, Trump bahkan tidak memasukkan pembukaan Selat Hormuz sebagai sasaran resmi AS, sebuah pengakuan implisit bahwa tujuan itu jauh lebih sulit dicapai dari yang pernah ia klaim.
Ilusi Operasi "Cepat dan Bersih"
Di sinilah analisis dari Moskow menjadi relevan secara militer. Kolumnis Ria Novosti membedah dengan dingin sebuah premis yang tampaknya sedang beredar di kalangan perencana Pentagon: bahwa AS bisa melakukan operasi darat "terbatas" di Iran, merebut Pulau Kharg atau Qeshm, memutus ekspor minyak, dan memaksa Tehran bernegosiasi tanpa harus terseret ke dalam perang panjang.
Halaman 2 / 4
Premis itu, menurut analisis tersebut, adalah ilusi yang berbahaya. Garis pantai Iran di sepanjang Selat Hormuz membentang lebih dari 200 kilometer. Dari setiap titiknya, drone dan rudal dapat diluncurkan ke kapal-kapal yang melintas, bahkan jika beberapa pulau telah dikuasai pasukan Amerika.
Tentara reguler Iran berjumlah 350 ribu personel, Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) 190 ribu, dan milisi Basij menyumbang 90 ribu aktif ditambah 600 ribu cadangan. Yang lebih signifikan, doktrin tempur Iran telah berevolusi ke model "peperangan mozaik", di mana setiap unit dirancang untuk beroperasi secara otonom bahkan jika komando pusat hancur.
Direktur Intelijen Nasional AS sendiri, Tulsi Gabbard, menyampaikan kepada Kongres bahwa meski Iran telah melemah secara signifikan, "pasukan intinya tampaknya masih utuh." Pernyataan itu adalah pengakuan yang tidak bisa diabaikan, bahwa tiga minggu kampanye udara intensif belum menghancurkan kapasitas tempur musuh secara fundamental.
Perbandingan dengan Iwo Jima yang dimunculkan dalam analisis Rusia bukan sekadar retorika. Sebelum pendaratan bersejarah itu pada 1945, Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS membombardir pulau kecil tersebut selama sembilan bulan penuh, dan korban tetap mencapai satu dari tiga Marinir. Iran, dengan luas empat kali Irak dan topografi yang jauh lebih kompleks, bukanlah Iwo Jima. Ia juga tidak terisolasi seperti Jepang di pengujung Perang Dunia II.
Pertaruhan Kapital: Siapa Sesungguhnya Target Perang Ini?
Pembacaan paling provokatif datang dari kolumnis Turki di Yeni Safak, yang menawarkan kerangka analisis yang berbeda sama sekali: bahwa pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah AS bisa mengalahkan Iran secara militer, melainkan apakah negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi, adalah target sesungguhnya dari siklus geopolitik ini.
Halaman 3 / 4
Tesis itu dibangun di atas sejarah yang sulit dibantah. Sejak embargo minyak 1973 memungkinkan akumulasi kapital besar-besaran di kawasan Teluk, AS secara berkala telah menemukan mekanisme untuk menyedot kembali kekayaan itu: melalui penjualan senjata selama Perang Iran-Irak, "perlindungan" berbayar saat Saddam Hussein dinyatakan akan menyerang Arab Saudi, pembiayaan invasi Irak kedua, hingga janji triliunan dolar dari Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan Emir Qatar kepada Trump dalam kunjungan-kunjungan terbarunya.
Argumen ini tidak berarti bahwa Arab Saudi akan diserang secara militer dalam waktu dekat. Namun ia mengajukan pertanyaan yang lebih halus dan lebih dalam: dalam peta kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah yang sedang mengalami pergolakan terbesar dalam beberapa dekade, seberapa aman posisi negara-negara Teluk yang kini tengah berlomba-lomba mendiversifikasi ekonomi mereka melalui Visi 2030 dan proyek-proyek serupa? Dan apakah kemakmuran yang sedang mereka bangun justru menjadikan mereka target yang semakin menarik?
Pertanyaan itu relevan karena Iran yang melemah dan Israel yang menguat adalah kombinasi yang secara historis tidak menciptakan stabilitas bagi tetangga-tetangganya, melainkan vakum kekuasaan yang selalu mengundang ekspansi.
Persimpangan yang Sesungguhnya
Ketiga analisis ini, meski berbeda latar belakang dan sudut pandang, bertemu pada satu kesimpulan: perang ini telah mencapai persimpangan yang sesungguhnya, dan setiap jalan yang tersedia membawa risikonya masing-masing.