AS Boncos, Biaya Perang Melawan Iran Bisa Mencapai Rp 109 Miliar per Hari - Tribunnews
AS Boncos, Biaya Perang Melawan Iran Bisa Mencapai Rp 109 Miliar per Hari
Biaya perang AS melawan Iran diperkirakan mencapai Rp 109 miliar per hari, pemborosan senjata canggih bisa mengancam operasi.
Ringkasan Berita:
- Operasi Epic Fury yang dilakukan AS-Israel untuk melawan Iran diperkirakan menghabiskan anggaran sekitar Rp 109 miliar per hari.
- AS dan Israel menggunakan lebih dari 20 sistem senjata canggih, termasuk pesawat tempur B-2, F-35, serta rudal jelajah Tomahawk dan sistem pertahanan rudal Patriot dan THAAD.
- Meskipun AS memiliki anggaran besar, kekurangan senjata canggih menjadi ancaman. AS hanya bisa memproduksi sedikit pencegat dibandingkan dengan Iran yang dapat memproduksi 100 rudal per bulan.
TRIBUNNEWS.COM - Perang besar yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran bukan hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga menyebabkan pemborosan dana dalam jumlah yang sangat besar.
Pada 28 Februari 2026, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi melalui video di platform Truth Social bahwa AS telah terlibat dalam "operasi tempur besar" di Iran, yang dinamakan Operasi Epic Fury.
Tujuan utama dari operasi ini adalah untuk memastikan bahwa Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir, serta untuk menghancurkan infrastruktur rudal mereka.
Sejak dimulai pada hari Sabtu, lebih dari 1.250 target di Iran telah dihancurkan, termasuk fasilitas nuklir dan fasilitas militer utama.
Serangan ini melibatkan berbagai sistem senjata canggih dari AS dan Israel, mulai dari pesawat pembom B-1 dan B-2, jet tempur F-35 dan F-22, hingga pesawat perang elektronik EA-18G Growler.
Selain itu, sistem pertahanan rudal seperti Patriot dan THAAD juga dikerahkan untuk menghadang serangan balik dari Iran.
Buntut serangan yang dilakukan AS dan Israel, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas akibat serangan terhadap kediamannya. Hingga Senin, jumlah korban tewas di Iran telah mencapai 555 orang, menurut Bulan Sabit Merah Iran.
Estimasi Biaya Perang: Rp 109 Miliar per Hari
Akan tetapi serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran tidak hanya mengakibatkan korban jiwa, tetapi juga menimbulkan pemborosan dana yang sangat besar.
Biaya operasional dari kampanye militer ini diperkirakan mencapai miliaran dolar AS. Pengeluaran tersebut mencakup biaya senjata, peralatan militer, dan juga pengeluaran untuk mendukung pasukan yang terlibat dalam konflik.
Selain itu, penggunaan persenjataan canggih yang intensif turut meningkatkan potensi pemborosan sumber daya negara.
Biaya yang dikeluarkan AS untuk mendukung perang ini sangat tinggi. Menurut laporan yang dikutip dari Al Jazeera, total pengeluaran AS terkait operasi ini diperkirakan mencapai antara 31,35 miliar dolar AS hingga 33,77 miliar dolar AS sejak dimulai pada Oktober 2023.
Baca juga: Ada Blokade Iran di Selat Hormuz, Indonesia Alihkan Impor Minyak ke AS
Untuk Operasi Epic Fury, diperkirakan AS menghabiskan sekitar 779 juta dolar AS hanya dalam 24 jam pertama, dengan biaya tambahan sebesar 630 juta dolar AS untuk logistik dan mobilisasi pasukan.
Sementara biaya operasional harian sebuah kapal induk seperti USS Gerald R. Ford diperkirakan sekitar 6,5 juta dolar AS, sedangkan serangan menggunakan rudal Tomahawk bisa menelan biaya hingga 1-2 juta dolar AS per unit.
Jika operasi ini berlanjut dengan intensitas tinggi, AS bisa menghabiskan sekitar Rp 109 miliar per hari untuk mendanai operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Masalah Persediaan Senjata: Risiko Bagi AS
Meskipun AS memiliki anggaran pertahanan yang besar, para analis memperingatkan bahwa persediaan senjata canggih terutama rudal pencegat seperti Patriot dan THAAD adalah titik lemah yang berpotensi mengancam keberlanjutan operasi.
Christopher Preble, analis dari Stimson Center, menjelaskan bahwa senjata-senjata ini tidak dapat diproduksi dengan cepat. Rudal pencegat seperti Patriot dan SM-6, yang digunakan untuk menghadang serangan rudal balistik, membutuhkan waktu produksi yang lama dan sangat mahal.
Selain itu, Iran dapat memproduksi hingga 100 rudal per bulan, sedangkan AS hanya mampu memproduksi sekitar 6 hingga 7 pencegat dalam periode yang sama.
Ketidakseimbangan ini dapat melemahkan efektivitas pertahanan AS dalam perang jangka panjang, terutama jika serangan datang dalam jumlah besar dan terkoordinasi.
Para ahli juga mengkhawatirkan bahwa senjata-senjata ini dialokasikan untuk medan pertempuran lain, seperti di Ukraina dan Indo-Pasifik, yang semakin membatasi ketersediaan persediaan bagi AS di Timur Tengah.
Preble memperingatkan, tanpa solusi logistik yang memadai, kehilangan persediaan senjata bisa menjadi masalah besar bagi AS jika perang berlangsung lebih lama.
Jika situasi ini tidak diatasi dengan peningkatan kapasitas produksi atau solusi logistik lainnya, AS berisiko terjebak dalam perang yang tidak hanya mahal secara ekonomi, tetapi juga bisa melemahkan posisi militernya secara global.
(Tribunnews.com / Namira)