Atas Nama Ratusan Pelajar Tewas, Iran Luncurkan Rudal Berat Khorramshahr-4 Serang Israel - Tribunnews
Atas Nama Ratusan Pelajar Tewas, Iran Luncurkan Rudal Berat Khorramshahr-4 Serang Israel
Iran menembakkan rudal berat Khorramshahr-4 ke Israel dan mengklaim sebagian berhasil menembus pertahanan udara Tel Aviv di tengah perang
Ringkasan Berita:
- Iran kembali meluncurkan rudal berat Khorramshahr-4 missile ke Israel dalam eskalasi konflik yang telah berlangsung tujuh hari.
- Korps Garda Revolusi Iran Islamic Revolutionary Guard Corps mengklaim rudal berkecepatan tinggi itu menembus pertahanan udara Israel.
- Serangan ini disebut sebagai balasan atas operasi militer Israel yang memicu perang sejak 28 Februari 2026.
TRIBUNNEWS.COM — Iran dan Israel kembali saling melancarkan serangan pada Jumat setelah tujuh hari konflik bersenjata yang dipicu operasi militer Israel terhadap Iran.
Dalam eskalasi terbaru, Iran dilaporkan menggunakan rudal berat berdaya hancur tinggi yang sulit dicegat sistem pertahanan udara Israel.
Media Israel menyebut Iran memiliki dua jenis rudal mematikan, yakni Khorramshahr-4 missile dan rudal Rastakhiz missile, yang dinilai mampu menyebabkan kerusakan luas, seperti diberitakan PUK Media.
Rudal Khorramshahr-4 dilaporkan mampu membawa hulu ledak hingga sekitar 1.500 kilogram.
Senjata tersebut juga disebut dapat terpecah menjadi puluhan fragmen sebelum mencapai target dalam radius sekitar delapan kilometer, sehingga meningkatkan potensi kerusakan pada area yang luas.
Pejabat Israel menyebut penggunaan rudal dengan daya rusak seperti itu berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang karena dapat menyebabkan kehancuran besar di wilayah sipil.
Namun di sisi lain, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan rudal tersebut digunakan sebagai bagian dari serangan balasan terhadap target militer Israel.
IRGC mengklaim telah menyerang Ben Gurion Airport serta pangkalan “Skuadron 27” milik Israeli Air Force menggunakan rudal berat Khorramshahr-4.
Menurut IRGC, rudal tersebut melaju dengan kecepatan sangat tinggi sehingga sulit dicegat sistem pertahanan udara Israel, termasuk sistem yang melindungi wilayah Tel Aviv.
Mereka juga mengklaim beberapa rudal berhasil menembus pertahanan udara dan mengenai target.
IRGC menambahkan sebagian rudal yang digunakan merupakan tipe fragmentasi yang mampu menghantam hingga 20 titik target sekaligus dalam area luas.
Baca juga: Foto Yahya Sinwar dan Hassan Nasrallah serta Kutipan Ayat Alquran pada Rudal Balistik Iran
Kemampuan tersebut disebut membuat sistem pertahanan udara kesulitan untuk menghentikannya.
Sumber Iran juga menyatakan salah satu rudal yang ditembakkan didedikasikan untuk mengenang para siswi yang tewas dalam serangan Israel terhadap sebuah sekolah dasar di Minab pada hari pertama perang.
Menurut pihak Iran, serangan tersebut menewaskan sekitar 160 pelajar.
Konflik terbaru antara Iran dan Israel pecah pada 28 Februari 2026 ketika Israel, dengan dukungan United States, melancarkan operasi militer terhadap Iran setelah kedua pihak gagal mencapai kesepakatan mengenai program nuklir Teheran.
Sejak saat itu, kedua negara terus saling melancarkan serangan udara dan rudal, meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional akan meluasnya perang di kawasan Timur Tengah.
Tak Ada Negosiasi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak akan ada negosiasi dengan Iran kecuali negara tersebut melakukan “penyerahan tanpa syarat”, setelah serangan militer besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel terhadap wilayah Iran.
Pernyataan keras tersebut muncul di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang dipicu operasi militer gabungan AS–Israel yang menargetkan fasilitas militer, sistem rudal, dan infrastruktur strategis Iran.
Serangan itu memicu gelombang balasan berupa serangan rudal dan drone dari Iran ke sejumlah wilayah di kawasan, termasuk ke Israel dan pangkalan militer yang terkait dengan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Trump menegaskan bahwa setiap kemungkinan kesepakatan hanya dapat terjadi jika Iran terlebih dahulu menyerah sepenuhnya.
Ia juga menyatakan Amerika Serikat dan sekutunya akan membantu membangun kembali Iran setelah perubahan kepemimpinan terjadi di negara tersebut.
Konflik tersebut merupakan bagian dari operasi militer besar yang diluncurkan pada akhir Februari 2026.
Dalam operasi itu, ratusan target di berbagai kota Iran diserang, termasuk instalasi pertahanan udara, fasilitas rudal, dan pusat komando militer. Operasi ini melibatkan sekitar 200 jet tempur Israel serta berbagai sistem senjata militer Amerika Serikat.
Serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara itu, Ali Khamenei, yang disebut tewas dalam salah satu serangan udara.
Kematian Khamenei semakin memperuncing ketegangan dan memicu kekhawatiran akan eskalasi perang regional.
Kritik terhadap Serangan Israel
Sejumlah pihak internasional menilai operasi militer yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel berpotensi melanggar hukum internasional serta memperburuk krisis kemanusiaan. Beberapa laporan bahkan menyebutkan adanya korban sipil akibat serangan udara tersebut.
Media Iran melaporkan sebuah sekolah dasar perempuan di provinsi Hormozgan terkena serangan udara yang menewaskan puluhan anak.
Laporan tersebut memicu kecaman luas karena serangan terhadap fasilitas sipil dianggap melanggar prinsip perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata.
Secara keseluruhan, konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel ini telah menelan lebih dari seribu korban jiwa di berbagai negara di kawasan Timur Tengah.
Selain korban manusia, perang juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, terutama karena gangguan pasokan energi dan ancaman kenaikan harga minyak dunia.
Para analis memperingatkan serangan militer Israel yang memicu eskalasi konflik berisiko memperluas perang ke kawasan yang lebih luas jika tidak segera dihentikan melalui jalur diplomasi internasional.
Situasi di Timur Tengah hingga kini masih sangat tegang, dengan kedua pihak terus meningkatkan operasi militer dan ancaman serangan balasan.