0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Israel Konflik Timur Tengah Rusia Spesial Zionis

    BREAKING NEWS: Rusia Ambil Ancang-Ancang Gabung Iran Lawan AS dan Zionis Israel? Begini Kata Sergey Lavrov! - Viva

    13 min read

      

    BREAKING NEWS: Rusia Ambil Ancang-Ancang Gabung Iran Lawan AS dan Zionis Israel? Begini Kata Sergey Lavrov!

    Siap – Babak baru konflik global kini resmi dimulai. Rusia, salah satu kekuatan militer terbesar dunia, secara terbuka mengambil posisi untuk bergabung dalam poros perlawanan melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

    Cuma Butuh 4 Hari, Iran Lumpuhkan Banyak Pangkalan Militer Amerika

    Menteri Luar Negeri Federasi Rusia, Sergey Lavrov mengatakan bahwa pihaknya akan memastikan invasi Amerika Serikat (AS) dan Zionis Israel terhadap Iran akan berhenti.

    Pernyataan ini dikeluarkan di tengah memanasnya perang yang telah memasuki hari keenam sejak serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

    Gawat! Korea Utara Resmi Gabung Perang Lawan Zionis Israel dan AS, Nuklir Hwasong 20 Siap Dikirim ke Iran

    Ini adalah eskalasi paling serius dalam hubungan Rusia dengan Barat sejak invasi Ukraina tiga tahun lalu.

    "Rusia dan negara-negara pencinta damai lainnya akan melakukan segala upaya untuk menciptakan suasana di mana operasi AS dan Israel terhadap Iran menjadi mustahil," kata Lavrov seperti dikutip dari sputniknews.africa, Kamis, 5 Maret 2026.

    Tak Manusiawi! Video Brutal Pasukan AS dan Zionis Israel Serang 8 Lokasi Pemukiman Iran

    Putin Gunakan Senjata Energi

    Sementara itu, Presiden Rusia, Vladimir Putin mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan dunia.

    Ia mengatakan bakal menghentikan pasokan gas ke negara-negara Eropa.

    Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Rusia akan memangkas pasokan gas ke negara-negara Eropa yang mendukung AS dalam menyerang Iran.

    Dalam wawancara dengan jurnalis Kremlin, Putin menjelaskan bahwa keputusan ini terkait dengan rencana Eropa yang ingin menghentikan impor gas Rusia.

    "Sekarang pasar lain sedang terbuka. Mungkin akan lebih menguntungkan bagi kami untuk berhenti memasok ke pasar Eropa. Kami bisa beralih ke pasar yang sedang terbuka dan memantapkan diri di sana," ujar Putin seperti dikutip, k.sina.com.cn.

    Pernyataan Putin ini langsung menggetarkan pasar energi global.

    Negara-negara Uni Eropa (UE) selama ini sangat bergantung pada pasokan gas Rusia untuk kebutuhan industri dan rumah tangga mereka.

    Meski telah berusaha mengurangi ketergantungan sejak perang Ukraina, banyak negara Eropa masih belum sepenuhnya lepas dari energi Rusia.

    Putin juga menyoroti situasi di Timur Tengah sebagai pemicu kenaikan harga energi.

    "Karena situasi di Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz, muncullah klien yang ingin membeli gas yang sama dengan harga lebih tinggi. Ini fenomena alam, tidak ada politik di sini, murni bisnis," tambahnya.

    Perkirakan negara-negara Uni Eropa akan mengubah pendirian mereka setelah ini.

    Lavrov: NATO Terseret ke Dalam Perang

    Dalam pernyataan terpisah, Lavrov juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa NATO kini ikut terseret dalam konflik ini.

    "NATO sedang ditarik ke dalam perang yang dilancarkan AS dan Israel melawan Iran," kata Lavrov.

    Ia merujuk pada pernyataan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte yang mengatakan bahwa aliansi tersebut siap mengaktifkan Pasal 5 tentang pertahanan kolektif jika diperlukan.

    Menurut Lavrov, pernyataan Rutte itu menunjukkan bahwa kepentingan NATO terletak di mana pun mereka menyatakannya.

    Lavrov juga mengungkapkan bahwa negosiasi antara AS dan Iran sebenarnya hampir mencapai kesuksesan pada Juni tahun lalu, sebelum akhirnya terhenti akibat pecahnya perang 12 hari.

    "Hal yang sama terjadi sekarang," tambahnya, dikutip dari sputnikglobe.com.

    Harga Gas Melonjak, Sikap Terpecah

    Ancaman Putin ini datang di saat Eropa sudah menghadapi krisis energi akibat perang di Timur Tengah.

    Menurut laporan BBC, harga gas Eropa melonjak ke level yang belum pernah terlihat sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022.

    Situasi ini memaksa negara-negara Eropa mengambil sikap berbeda.

    Spanyol, misalnya, dengan tegas melarang penggunaan pangkalan militernya untuk operasi penyerangan ke Iran.

    Sementara Inggris justru menyetujui penggunaan dua pangkalan militernya untuk serangan defensif terhadap situs rudal Iran.

    Jerman yang secara historis enggan terlibat konflik militer, dengan tegas menyatakan tidak akan menambah kehadiran militernya di Timur Tengah.

    "Ini karena Jerman masih sangat konflik-shy, sebagian besar didasarkan pada masa lalu negara mereka," tulis BBC.

    Mengapa Rusia Membela Iran?

    Dukungan Rusia dan Korea Utara ke Iran

    Keputusan Rusia untuk secara terbuka membela Iran bukanlah tanpa alasan.

    Ada beberapa faktor strategis yang melatarbelakangi langkah berani ini:

    • Aliansi Strategis Poros Perlawanan – Rusia, Iran, dan China selama ini memang membentuk poros yang berseberangan dengan blok Barat pimpinan AS. Iran adalah mitra penting Rusia di Timur Tengah, terutama dalam konflik Suriah di mana keduanya sama-sama mendukung pemerintah Bashar al-Assad.
    • Respons atas Serangan ke Sekutu – Serangan AS-Israel ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dipandang Moskow sebagai tindakan agresi yang tidak bisa ditoleransi. Jika dibiarkan, preseden ini bisa digunakan untuk menyerang sekutu Rusia lainnya.
    • Mengalihkan Perhatian dari Ukraina – Dengan meletusnya perang besar di Timur Tengah, perhatian dunia dan sumber daya AS terpecah. Ini memberi keuntungan bagi Rusia di medan perang Ukraina yang masih berlangsung. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bahkan mengakui bahwa pengiriman senjata ke negaranya bisa berkurang jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut .
    • Senjata Energi – Dengan mengancam menghentikan pasokan gas ke Eropa, Putin menggunakan senjata paling ampuh yang dimilikinya. Eropa yang tidak siap menghadapi musim dingin tanpa gas Rusia akan terpaksa merekalkulasi kebijakan mereka terhadap konflik ini.

    Dampak Global

    Kombinasi perang di Timur Tengah dan ancaman pemutusan gas Rusia ke Eropa telah menciptakan gejolak ekonomi global yang luar biasa:

    • Harga minyak mentah dunia melonjak ke level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Harga minyak mentah Brent sempat mencapai $82 per barel, tertinggi dalam 14 bulan.
    • Harga gas di Eropa melonjak hingga 50% dan diprediksi akan terus naik.
    • Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengancam pasokan 20% minyak dunia, atau sekitar 20 juta barel per hari.
    • Produsen gas utama Qatar bahkan terpaksa menghentikan produksi LNG setelah fasilitas mereka diserang.

    Para analis memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz benar-benar ditutup dalam waktu lama, harga minyak bisa menembus $100 per barel, atau bahkan $120-150 dalam skenario terburuk.

    Respons Global dan Sikap Amerika

    Di tengah ancaman Rusia ini, AS dan Israel tampaknya bergeming.

    Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengulangi pernyataannya bahwa operasi akan terus berlanjut hingga ancaman dari Iran benar-benar hilang.

    Sementara itu, juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa AS tidak akan terintimidasi oleh ancaman Rusia dan akan terus mendukung Israel serta melindungi kepentingan nasional AS di kawasan.

    Lavrov sendiri mengusulkan moratorium total terhadap serangan yang menimbulkan korban sipil dan menghancurkan infrastruktur sipil.

    Ia juga menyerukan negara-negara Teluk untuk bergabung dalam upaya menghentikan serangan AS-Israel terhadap Iran.

    Dunia di Ambang Perang Besar

    Apa yang kemarin masih berupa spekulasi kini menjadi kenyataan.

    Rusia resmi mengambil posisi dalam konflik ini, dan dengan ancaman Putin untuk menghentikan pasokan gas ke Eropa, dimensi perang meluas dari sekadar konflik regional menjadi krisis global.

    Dunia kini menanti langkah berikutnya. Apakah China akan bergabung?

    Apakah negara-negara Eropa akan mengubah sikap mereka di bawah tekanan energi?

    Akankah AS dan Israel tetap melanjutkan operasi mereka meski harus berhadapan dengan Rusia?

    Satu hal yang pasti: pernyataan Lavrov bahwa operasi AS dan Israel terhadap Iran akan dibuat mustahil dan hasilnya akan dilihat di medan perang adalah ancaman paling serius yang pernah dilontarkan Rusia sejak Perang Dingin berakhir.

    Perkirakan negara-negara Uni Eropa akan mengubah pendirian mereka setelah ini. Pertanyaannya, apakah sudah terlambat?


    Komentar
    Additional JS