Api Masih Muncul di Rumah Warga Sleman meski Septic Tank Diperbaiki, Pengamat: Kemungkinan Gas Lain- Tri
Api Masih Muncul di Rumah Warga Sleman meski Septic Tank Diperbaiki, Pengamat: Kemungkinan Gas Lain
Ringkasan Berita:
- Rumah warga di Sleman terjadi kebakaran berulang kali selama enam hari.
- Total sudah lebih dari 40 kali kebakaran terjadi di rumah milik warga bernama Mutfiana itu.
- Dugaan sementara kebakaran dipicu karena gas metana, namun pengamat menilai ada gas lain yang juga menjadi pemicu.
TRIBUNNEWS.COM - Gas yang sering menjadi pemicu utama kebakaran di antaranya Liquid Petroleum Gas (LPG), metana (gas alam), dan setilena (gas las).
Gas-gas ini memicu kebakaran dan ledakan dahsyat saat mengalami kebocoran di ruangan tertutup dan bercampur dengan udara atau oksigen, kemudian tersulut oleh percikan api.
Di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terjadi kebakaran berulang di rumah warga bernama Mutfiana.
Rumah itu berada di Padukuhan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
Kebakaran pertama kali terjadi pada Sabtu (23/5/2026) dini hari dan terus berlanjut hingga Kamis (28/5/2026).
Selama enam hari, total sudah lebih dari 40 kali kebakaran terjadi di rumah Mutfiana.
Titik api muncul di lokasi acak, berpindah-pindah di berbagai sudut rumah.
Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Tim Gegana telah diturunkan untuk mengatasi api misterius yang terus muncul di rumah tersebut.
Dari hasil pengecekan Tim Gegana Polda DIY, rentetan kebakaran itu diduga kuat dipicu akumulasi kebocoran gas metana di bawah tanah.
Sejumlah langkah penanganan pun telah dilakukan. Di antaranya perbaikan septic tank, penyedotan limbah, penggantian instalasi pipa peralon yang bocor.
Baca juga: Warga Sleman DIY Mengaku Diteror Api Misterius: 15 Titik Kebakaran di Rumah
Selain itu, pemasangan saluran pembuangan gas.
Namun, sisa gas yang terlanjut menyebar di bawah struktur bangunan disebut masih berpotensi memicu kemunculan api.
Terbukti, meski upaya penanganan telah dilakukan, api masih muncul di rumah Mutfiana.
Pada Kamis sekitar pukul 14.50 WIB, api membakar helm dan styrofoam yang berada di atas akuarium ruang depan rumah tersebut.
Hari sebelumnya, Rabu (27/5/2026) sekitar pukul 23.00 WIB, api membakar barang yang diletakkan di gagang pintu kamar tengah.
Barang itu berupa handuk merah yang kemudian terbakar dan jatuh ke lantai.
Kemungkinan Adanya Gas Lain
Tentang fenomena tersebut, dosen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Chandra Purnomo mengungkap adanya kemungkinan gas lain yang menjadi pemicu kebakaran.
Chandra menjelaskan kebakaran dapat terjadi karena ada unsur segitiga api.
Segitiga api itu adalah bahan bakar, udara atau oksigen dengan kadar tertentu, dan sumber api.
Ia menyebut kebakaran yang terjadi di rumah warga Sleman itu bisa terjadi karena adanya beberapa gas.
Sebab, menurutnya, gas metana yang terjebak di ruangan tertutup umumnya menimbulkan ledakan.
"Dan itu ada range persenannya, sekitar 5-15 persen. Juga harus terpenuhi segitiga api, ada oksigen atau udara, ada pemicu kebakarannya juga, misal puntung rokok, kompor, atau korek, atau mungkin stop kontak."
"Kalau metan yang terkumpul di ruang tertutup, kemudian tersulut, biasanya ledakan."
Baca juga: Kebakaran di Kampus Binus Kemanggisan, Warga Duga Korsleting Listrik Jadi Pemicu
"Tetapi kan di rumah itu ada pemotongan ayam ya, kemungkinan ada campuran-campuran gas tertentu, yang tidak hanya metan," katanya, Kamis (28/5/2026), dilansir TribunJogja.com.
Kemungkinan gas lain yang terbentuk seperti amonia, NH3, dan H2S.
Selain gas-gas tertentu yang terbentuk karena septic tank, ada juga bahan-bahan kimia yang ada di sekitar rumah.
Dia menyebut ada sejumlah bahan kimia yang uapnya mungkin dapat berbahaya. Di antaranya peroksida, klorin, dan lain-lain.
Uap dari bahan kimia itu dapat menambah potensi kebakaran.
"Kemungkinan tidak hanya limbah domestik, tidak hanya limbah rumah tangga, jadi mungkin lebih kompleks, apalagi kalau pakai desinfektan yang kemudian mengalir ke septic tank."
"Bisa jadi campuran-campuran itu menyebabkan slow ignition (pembakaran lambat yang menjadi pemicu kebakaran)," terangnya.
Tak hanya dari sisi gas, menurut Chandra, jalur listrik juga perlu dilakukan pengecekan.
Ada kemungkinan kabel mengelupas atau lembab yang bisa menjadi pemicu kebakaran.
Diduga Kebocoran Gas Septic Tank
Hasil pengecekan Tim Gegana Polda DIY menyatakan rentetan kebakaran ini diduga kuat dipicu akumulasi kebocoran gas metana di bawah tanah.
Gas itu menyebar luas di bawah keramik lantai rumah korban sehingga memicu munculnya kebakaran di lokasi yang berbeda-beda.
Kasi Humas Polresta Sleman Iptu Argo Anggoro mengatakan ancaman kemunculan titik api di dalam rumah tersebut masih berpotensi terjadi hingga beberapa pekan ke depan.
"Berdasarkan keterangan Tim Gegana yang sudah disampaikan kepada pemilik rumah."
"Gas metana ini sementara masih berpotensi muncul dalam kurun waktu sekitar satu minggu hingga satu bulan pascapenanganan."
"Karena gas sudah menyebar di bawah lantai," jelas Argo, Kamis, dilansir dari TribunJogja.com.
Sejauh ini, sejumlah upaya penanganan telah dilakukan untuk menghentikan sumber gas yang diduga menjadi penyebab kebakaran.
Upaya itu antara lain perbaikan septic tank, penyedotan limbah, penggantian instalasi pipa peralon, dan memasang pipa saluran pembuangan gas ke udara dari septic tank.
Namun, sisa gas yang terlanjut terjebak di bawah struktur bangunan masih menjadi ancaman.
Artinya, meskipun sudah dilakukan perbaikan pada saluran limbah, tetapi titik api masih berpotensi muncul.
"Hingga hari keenam sejak pertama kali kejadian, tercatat sudah lebih dari 40 kali kemunculan api di berbagai titik di dalam rumah tersebut," katanya.
Di sisi lain, Kapolsek Seyengan AKP Pujiono mengatakan karakteristik gas metana yang sudah terakumulasi di dalam bangunan tersebut sangat sensitif.
Gas itu tidak memerlukan pemantik api langsung untuk terbakar, melainkan dapat menyala akibat terpicu listrik statsi di sekitar lokasi.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Dosen Teknik Kimia Sebut Ada Kemungkinan Gas Lain yang Jadi Penyebab Teror Api di Seyegan Sleman
(Tribunnews.com/Nanda Lusiana, TribunJogja.com/Christi Mahatma Wardhani/Ahmad Syarifudin)