0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Pentagon Spesial

    Dalam 24 Jam Dua Jet Tempur Siluman AS Rontok, Sistem Pertahanan Udara Iran Runtuhkan Mitos ‘Invisible’ Pentagon / Kendari Pos

    4 min read

      

    Dalam 24 Jam Dua Jet Tempur Siluman AS Rontok, Sistem Pertahanan Udara Iran Runtuhkan Mitos ‘Invisible’ Pentagon


    KENDARIPOS. CO. ID -- Jagat militer internasional hari ini dikejutkan oleh laporan yang menggetarkan supremasi udara Amerika Serikat. Hanya dalam waktu 24 jam, dua jet tempur siluman F-35 --yang selama ini dianggap sebagai 'puncak rantai makanan' pesawat tempur-- dilaporkan berhasil dilumpuhkan oleh sistem pertahanan udara Iran.

    Insiden ini mengirimkan gelombang kejut luar biasa bagi para pakar militer dari Washington hingga Beijing dan Moskow. Bagaimana mungkin jet tempur bernilai triliunan rupiah yang didesain untuk 'tak terlihat' alias stealth justru berhasil dideteksi, dikunci, dan dihantam oleh sistem pertahanan yang selama ini dianggap remeh oleh Barat.

    Jet tempur siluman F-35 selama ini dipasarkan sebagai 'Final Boss' di langit. Keunggulan utamanya adalah mode siluman yang seharusnya membuat radar lawan hanya melihat kekosongan. Secara teori, F-35 tidak bisa dikunci karena di layar radar, ia dianggap tidak ada.

    Namun, fakta di lapangan dalam 24 jam terakhir memberikan pukulan telak (Massive L) bagi teknologi paling mahal dalam sejarah militer Amerika ini. 

    Juru Bicara Komando Pusat (CENTCOM) AS, Tim Hawkins, mengonfirmasi bahwa jet maut tersebut sedang menjalankan misi tempur di atas wilayah kedaulatan Iran saat insiden terjadi.

    "Pesawat berhasil mendarat dengan selamat di pangkalan militer AS di kawasan tersebut, dan pilot berada dalam kondisi stabil. Investigasi mendalam sedang dilakukan," ujar Hawkins singkat seperti dikutip dari Inilah. com, Sabtu (21/3/2026).

    Menariknya, insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah Menteri Perang AS Pete Hegseth sesumbar dalam konferensi pers di Pentagon bahwa sistem pertahanan udara Iran telah 'dilumpuhkan' total.

    Pernyataan optimistis Hegseth tersebut langsung dimentahkan oleh fakta di lapangan, sekaligus ditepis secara halus oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine. 

    Dalam kesempatan yang sama, Caine justru mengakui bahwa Teheran masih memiliki 'sebagian kemampuan' mematikan untuk menghantam aset AS dan sekutunya, termasuk fasilitas minyak strategis.

    Jika Iran benar-benar mampu melacak dan menembak jatuh dua unit sekaligus, maka investasi triliunan dolar AS untuk teknologi 'invisible' tersebut kini menjadi tanda tanya besar.

    Reaksi global pun beragam namun satu suara: terperangah. Pakar militer Rusia dan China dilaporkan sangat terkejut dengan kemampuan deteksi Iran yang melampaui ekspektasi.

    Namun, tingkat keterkejutan tertinggi dialami oleh para ahli militer Amerika Serikat yang kini berada dalam posisi syok berat.

    Lumpuhnya dua F-35 dalam waktu singkat bukan hanya soal kerugian material, melainkan runtuhnya doktrin pertahanan udara AS. Jika jet tempur generasi kelima ini bisa dijatuhkan oleh pertahanan udara Iran, maka seluruh strategi perang udara NATO perlu dirombak total.

    Insiden ini memicu debat panas di Washington mengenai efektivitas proyek pesawat tempur paling mahal di dunia tersebut.

    Selama dekade terakhir, AS meyakini bahwa F-35 adalah perisai yang tak tertembus. Kini, kenyataan pahit menunjukkan bahwa 'sang siluman' ternyata bisa terlihat dan bisa dihancurkan.

    Dunia kini menanti konfirmasi resmi dari Pentagon mengenai penyebab jatuhnya kedua pesawat maut tersebut. Apakah ini kegagalan sistemik pada teknologi F-35, ataukah Iran telah berhasil mengembangkan lompatan teknologi radar yang selama ini dirahasiakan. (int)


    Komentar
    Additional JS