Donald Trump: Keputusan Akhiri Perang AS–Israel vs Iran Akan Dibahas Bersama Netanyahu - SindoNews
Donald Trump: Keputusan Akhiri Perang AS–Israel vs Iran Akan Dibahas Bersama Netanyahu
Donald Trump menyebut keputusan mengakhiri perang AS–Israel melawan Iran akan diputuskan bersama Benjamin Netanyahu.
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump menyatakan keputusan mengakhiri perang AS–Israel melawan Iran akan diputuskan bersama PM Israel Benjamin Netanyahu.
- Trump juga menekan pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, dengan menyebut ia tak akan bertahan lama tanpa persetujuan Washington, di tengah eskalasi serangan balasan Iran di kawasan Timur Tengah.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa keputusan untuk mengakhiri perang AS–Israel melawan Iran akan diambil bersama dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Dalam wawancara dengan media Israel dan Amerika, Trump menyebut ia terus berkonsultasi dengan Netanyahu, sekaligus mengisyaratkan bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru akan membutuhkan persetujuan Amerika agar dapat bertahan.
Trump mengungkapkan bahwa setiap keputusan untuk mengakhiri kampanye militer AS–Israel terhadap Iran akan dilakukan melalui koordinasi dengan Netanyahu.
Dalam wawancara telepon dengan The Times of Israel, Trump menjawab “ya” ketika ditanya apakah Netanyahu memiliki peran dalam keputusan mengakhiri perang.
“Saya pikir itu keputusan bersama… sedikit banyak. Kami sudah berbicara. Saya akan membuat keputusan pada waktu yang tepat, tetapi semuanya akan dipertimbangkan,” kata Trump pada Minggu (8/3/2026).
Baca juga: Analisis Intelijen Barat: Bunuh Pemimpin Iran, AS Belum Tentu Menang Perang
Ketidakpastian Waktu Berakhirnya Perang
Ketika ditanya mengenai kemungkinan Israel melanjutkan serangan setelah Amerika Serikat menghentikan operasinya, Trump menepis skenario tersebut dengan mengatakan, “Saya tidak pikir itu akan diperlukan.”
Pernyataan itu muncul ketika perkiraan awal Gedung Putih bahwa konflik akan berlangsung empat hingga enam minggu mulai dipertanyakan.
Trump sendiri terus menolak menyebutkan batas waktu operasi militer tersebut.
Kampanye militer yang kini memasuki minggu kedua itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.200 warga Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi sekolah, serta sejumlah pejabat militer senior.
Tekanan AS terhadap Pemimpin Baru Iran
Dalam wawancara terpisah dengan ABC News, Trump juga menanggapi penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Ia memperingatkan bahwa penerus Ali Khamenei tersebut “tidak akan bertahan lama” tanpa persetujuan Amerika Serikat.
“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” ujar Trump.
Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat ingin memastikan situasi serupa tidak terus berulang di masa depan.
“Kami ingin memastikan bahwa kami tidak harus kembali menghadapi situasi seperti ini setiap 10 tahun, terutama ketika nanti tidak ada presiden seperti saya yang mau melakukan tindakan seperti ini,” katanya.
Baca juga: Trump Klaim Pemimpin Baru Iran Harus Dapat Persetujuan AS Jika Ingin Bertahan Lama
Konflik Meluas dengan Serangan Balasan Iran
Sementara itu, Teheran merespons ofensif AS–Israel dengan meluncurkan serangan balasan besar-besaran yang menargetkan pangkalan militer Amerika, fasilitas diplomatik, serta personel militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah, selain juga menyerang sejumlah kota di Israel.
Sedikitnya enam personel militer Amerika dilaporkan tewas dalam serangan balasan tersebut.
Laporan juga menyebut Iran meningkatkan eskalasi dengan menembakkan rudal yang membawa munisi klaster ke sejumlah target di Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, telah memperoleh dukungan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang menunjukkan bahwa sikap konfrontatif Teheran kemungkinan akan tetap berlanjut meskipun terjadi pergantian kepemimpinan.