Drama Suksesi Iran: Mojtaba Khamenei Disebut Hancurkan Wasiat Ayahnya - Beritasatu
Drama Suksesi Iran: Mojtaba Khamenei Disebut Hancurkan Wasiat Ayahnya
Jakarta, Beritasatu.com - Dunia internasional saat ini tengah menyoroti situasi internal Iran yang dilaporkan sedang memanas pascawafatnya Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei. Disebutkan Aljazeera, Minggu (8/3/2026) ini Majelis Para Ahli Iran dikabarkan sudah menyepakati sosok yang akan jadi pengganti Ayatollah Ali Khamenei.
Pada saat yang sama Israel melalui Tentara Pertahanan Israel atau Israel Defense Force (IDF) bersumpah akan memburu siapa pun yang terpilih nanti. Di tengah suksesi itu, The Week justru menyuarakan drama suksesi yang menarik.
Mereka menganalisa adanya sebuah peristiwa yang membuat pencarian sosok penting Iran itu jadi penuh drama. Ketegangan ini diketahui memuncak setelah akun media sosial resmi Mossad dalam bahasa Persia mengunggah sebuah pertanyaan provokatif yang memicu spekulasi luas: "Mengapa Mojtaba membakar surat wasiat ayahnya?". Unggahan ini seolah memberikan sinyal adanya perebutan kekuasaan yang sengit di balik pintu tertutup kantor Pemimpin Tertinggi Iran.
Laporan dari berbagai media Israel menyebutkan bahwa pertanyaan tersebut merujuk pada dugaan bahwa putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sengaja menghancurkan dokumen wasiat terakhir sang ayah. Langkah ini diduga dilakukan untuk memuluskan jalannya menuju kursi kepemimpinan dan menghapus instruksi terakhir yang mungkin bisa menghambat ambisi politiknya.
“Hal ini mengindikasikan adanya perpecahan serius di dalam lingkaran inti pemerintahan Iran,” analisa The Week.
Selama puluhan tahun masa kepemimpinannya, Ali Khamenei memang dikenal sangat tertutup dan sengaja tidak pernah menunjuk penerus resmi secara publik. Strategi ini diyakini dilakukan untuk menjaga stabilitas dan mencegah munculnya faksi-faksi rival saat ia masih berkuasa. Namun, strategi "diam" tersebut kini justru menciptakan kekosongan kekuasaan yang berbahaya dan memicu ketidakpastian politik di Iran.
Mojtaba Khamenei, yang selama ini dikenal sebagai sosok kuat di balik aparat keamanan dan kandidat favorit Garda Revolusi (IRGC), kini berada di posisi yang sulit. Meski namanya santer disebut sebagai calon kuat, fakta bahwa ayahnya tidak pernah mendeklarasikannya sebagai ahli waris secara sah di hadapan publik membuat legitimasinya di mata Majelis Para Ahli menjadi rapuh.
Beberapa analis berpendapat bahwa penghancuran surat wasiat tersebut merupakan indikasi kuat bahwa Ali Khamenei mungkin sebenarnya menunjuk sosok lain sebagai penerusnya, atau bahkan memerintahkan pembentukan dewan kepemimpinan kolektif. Dengan melenyapkan dokumen tersebut, Mojtaba diduga berusaha mengubah realitas politik di lapangan demi memastikan dirinya tetap menjadi pilihan tunggal bagi Majelis Ahli.
Di sisi lain, kantor berita Iran, Mehr News, memberikan informasi yang sedikit berbeda. Mereka menyatakan bahwa badan ulama yang bertugas memilih pemimpin baru sebenarnya telah mencapai konsensus mayoritas. Namun, yang menarik adalah mereka sama sekali tidak menyebutkan nama Mojtaba dalam laporan tersebut, yang semakin memperkuat dugaan adanya dinamika internal yang belum terselesaikan.
Tantangan bagi Mojtaba tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari dunia internasional. Amerika Serikat telah memberikan pernyataan tegas bahwa putra Khamenei tersebut adalah sosok ahli waris yang tidak bisa mereka terima. Bahkan, Donald Trump secara terbuka menuntut agar dirinya dan para sekutu memiliki pengaruh dalam menentukan siapa yang akan memimpin Iran ke depannya.
Saat ini, secara formal Iran dijalankan oleh dewan sementara yang melibatkan Presiden Pezeshkian beserta kepala otoritas lainnya. Namun, di balik layar, drama perebutan takhta antara tradisi, instruksi terakhir sang pemimpin lama, dan ambisi baru dari sang putra mahkota terus berlangsung, menentukan ke mana arah politik Iran akan berlabuh di masa depan