0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Garda Revolusi Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Garda Revolusi Iran: Perdamaian Hanya Bisa Tercapai Jika AS Tarik Pasukan - inews

    9 min read

      

    Garda Revolusi Iran: Perdamaian Hanya Bisa Tercapai Jika AS Tarik Pasukan

    Komandan IRGC Ali Reza Tangsiri desak pasukan AS keluar dari Teluk Persia saat perang Iran–Israel memasuki hari ke-17 dan harga minyak melonjak.

    Ringkasan Berita:
    • Komandan angkatan laut IRGC Ali Reza Tangsiri meminta seluruh pasukan Amerika Serikat keluar dari Teluk Persia demi meredakan ketegangan Timur Tengah. 
    • Seruan itu muncul saat perang Iran–Israel memasuki hari ke-17.
    • Sementara AS berupaya menggalang dukungan internasional untuk mengamankan Selat Hormuz dan harga minyak dunia terus melonjak.

    TRIBUNNEWS.COM - Komandan angkatan laut Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Ali Reza Tangsiri, menyerukan penarikan seluruh pasukan Amerika Serikat dari kawasan Teluk Persia sebagai langkah utama untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.

    Pernyataan tersebut disampaikan Tangsiri melalui media sosial, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut. 

    Ia menegaskan bahwa kehadiran militer Amerika Serikat dan negara-negara Barat selama ini tidak membawa stabilitas bagi kawasan.

    Menurut Tangsiri, Iran telah berulang kali memperingatkan para pemimpin negara monarki di kawasan Persian Gulf mengenai apa yang ia sebut sebagai kebijakan “munafik” Amerika Serikat dan sekutunya di Barat.

    Ia menilai negara-negara Barat hanya memanfaatkan negara-negara Teluk untuk kepentingan geopolitik dan ekonomi mereka sendiri, bukan untuk menciptakan keamanan regional yang berkelanjutan.

    “Amerika dan Eropa tidak membawa keamanan ke kawasan ini. Mereka hanya mengeksploitasi negara-negara Teluk Persia demi kepentingan mereka sendiri,” kata Tangsiri dalam pernyataannya.

    Ia menambahkan bahwa stabilitas Timur Tengah hanya dapat dicapai melalui persatuan negara-negara Islam di kawasan tersebut tanpa campur tangan kekuatan militer asing.

    Menurutnya, penarikan pasukan United States Armed Forces dari kawasan Teluk Persia menjadi satu-satunya jalan untuk memperbaiki situasi keamanan di Timur Tengah.

    Pernyataan pejabat tinggi militer Iran ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, serta konflik yang berpotensi meluas ke jalur strategis energi global di kawasan Teluk.

    Sejumlah analis menilai seruan tersebut mencerminkan posisi politik Iran yang sejak lama menentang kehadiran militer Barat di Timur Tengah, sekaligus menyerukan kerja sama regional antarnegara Islam untuk menjaga keamanan kawasan tanpa intervensi eksternal.

    Baca juga: Mengenal Rudal Sejjil, Berjuluk Rudal Menari Iran yang Warnai Langit Israel

     

    Apa Yang Terjadi di Hari ke-17 Perang AS-Israel vs Iran

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya menggalang dukungan internasional untuk mengamankan jalur pelayaran strategis Strait of Hormuz, setelah aktivitas pengiriman minyak di kawasan tersebut terganggu akibat konflik antara Amerika SerikatIsrael, dan Iran.

    Trump menyatakan pemerintahannya telah menghubungi sejumlah negara untuk membantu menjaga keamanan jalur vital tersebut.

    Ia mengaku telah menerima beberapa respons positif, meski ada juga negara yang memilih tidak terlibat langsung dalam konflik.

    “Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain dapat mengirim kapal perang untuk membantu mengamankan Selat Hormuz,” kata Trump.

    Namun hingga kini belum ada negara yang secara resmi berkomitmen mengirimkan kapal perang ke kawasan tersebut. Beberapa negara bahkan menyatakan masih mempertimbangkan langkah yang akan diambil.

    Pemerintah Jepang dan Australia diketahui belum memiliki rencana mengirim armada militer ke kawasan Teluk. Sementara Inggris menyebut masih membahas berbagai opsi.

    Di sisi lain, China justru menyerukan agar semua pihak segera menghentikan konflik yang semakin meluas di Timur Tengah.

    Konflik yang telah memasuki hari ke-17 ini terus memicu ketegangan global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia karena sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi wilayah tersebut.

    Sejak konflik dimulai, sedikitnya 20 kapal dilaporkan mengalami serangan di kawasan Persian Gulf, Selat Hormuz, dan Gulf of Oman, menurut badan keamanan maritim Inggris.

    Ketegangan ini berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak melonjak tajam hingga mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Harga minyak mentah Brent tercatat naik hingga sekitar 106 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat menembus sekitar 101 dolar AS per barel.

    Di lapangan, serangan antara Israel dan Iran masih terus berlangsung. Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 200 target militer Iran dalam sehari terakhir, termasuk fasilitas rudal balistik dan sistem pertahanan udara.

    Sebaliknya, Iran menyatakan telah meluncurkan sekitar 700 rudal dan 3.600 drone ke arah target Amerika Serikat dan Israel sejak konflik dimulai.

    Ketegangan juga meluas ke negara-negara lain di kawasan. Sebuah tangki bahan bakar dilaporkan terbakar di dekat Dubai International Airport setelah insiden yang diduga melibatkan drone, sehingga penerbangan sempat dihentikan sementara.

    Di Baghdad, beberapa roket dilaporkan menghantam area sekitar Baghdad International Airport, termasuk fasilitas yang digunakan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat.

    Sementara itu, misi penjaga perdamaian United Nations di Lebanon juga dilaporkan menjadi sasaran tembakan sebanyak tiga kali dalam satu hari oleh kelompok bersenjata non-negara.

    Korban jiwa akibat konflik ini terus meningkat. Berdasarkan berbagai laporan otoritas di kawasan, lebih dari 2.200 orang dilaporkan tewas di Timur Tengah sejak perang dimulai.

    Korban terbanyak berasal dari Iran dengan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia, sementara sekitar 850 orang dilaporkan tewas di Lebanon dan puluhan lainnya di negara-negara tetangga.

    Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah pihak internasional terus menyerukan de-eskalasi konflik untuk mencegah krisis yang lebih luas, terutama karena dampaknya terhadap stabilitas energi global dan keamanan kawasan.

    (CNN/News.am/Tribunnews)


    Komentar
    Additional JS