Gawat AS dan Israel Salah Perhitungan, Pembalasan Iran Makin Beringas Bikin Donald Trump Syok? - Viva
Siap –Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei nampaknya salah perhitungan, pasalnya, hal tersebut tak membuat Iran melemah tapi makin mengganas.
Amerika Serikat dan Israel seakan masuk ke dalam mode autopilot sasaran tembak Iran yang lebih beringas.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC semakin agresif menggempur berbagai lokasi yang terafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.
Tak hanya itu saja, IRC juga menutup total Selat Hormuz dan tentara Amerika Serikat mulai menjadi korban jiwa dalam konflik yang kian tak terkendali.
Ambisi Trump meraih kemenangan kilat layaknya di Venezuela seketika gagal total.
Alih-alih merayakan kemenangan, seluruh pangkalan militer AS kini menjadi target hujan rudal Teheran.
Kondisi serupa dirasakan warga Israel. Sejak balasan pertama, mereka tidak ada yang berani keluar rumah dan memilih bertahan di dalam bunker.
Bahkan, pesawat kenegaraan Israel, Wing of Zion telah diungsikan ke Berlin Jerman guna menghindari serangan.
Lantas mengapa Iran justru semakin beringas setelah kepergian Ayatollah Ali Khamenei?
Dilansir dari kanal YouTube Kompas, Amerika Serikat kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Iran bukanlah sebuah piramida tunggal dengan satu orang di puncaknya.
Iran adalah negara hirarki yang saling terhubung dengan pusat-pusat kekuasaan yang saling tumpang tindih.
Adapun pusat kekuasaan ini tersebar mulai dari kantropin tertinggi revolusi pada intelijen hingga penjaga gerbang ulama.
Dalam sistem seperti ini, menghilangkan satu simpul bahkan yang paling simbolis sekalipun tidak seterta meruntuhkan seluruh struktur pemerintahan.
Redundansi dan rantai komando pengganti adalah ciri khas dari desain pemerintahan teokrasi Iran.
Oleh karena itu, narasi pemenggalan kepala rezim yang dianggap sukses oleh Trump di Venezuela kini lebih seperti pertaruhan pada kekacauan ketika dilakukan terhadap Ayatollah.
Teheran telah bergerak cepat dengan membentuk dewan sementara yang terdiri dari tiga orang untuk mengambil alih kekuasaan eksekutif.
Berdasarkan konstitusi Iran, pemilihan pemimpin tertinggi baru menjadi wewenang majelis pakar.
Majelis pakar adalah badan ulama beranggotakan 88 orang yang dipilih lewat pemilihan umum untuk masa jabatan 8 tahun.
Namun prosesnya sangat tertutup. Dengan mengacu pada mekanisme konstitusional dan mengaktifkan pengaturan pemerintahan sementara, dia berwenang bertujuan memberi sinyal bahwa sistem tetap utuh meskipun kehilangan tokoh puncaknya.
Ditambah sejarah menunjukkan bahwa serangan eksternal justru cenderung memperkuat rezim dan bukan menggulingkannya.
Sebab serangan membuat nasionalisme akan muncul dan perbedaan pendapat akan dicap sebagai pengkhianatan.
Dari sisi militer, Iran kini menerapkan taktik perang tanpa kepala.
Ini merupakan operasionalisasi langsung dari doktrin mosaic defense atau pertahanan mosaik.
Doktrin ini dirancang khusus oleh IRGC untuk menghadapi skenario pemenggalan pucuk pimpinan oleh militer yang lebih superior seperti Amerika Serikat.
Cara kerjanya adalah dengan melakukan desentralisasi. Struktur komando IRGC terbagi menjadi 31 unit independen.
Satu untuk Teheran dan 30 untuk provinsi lainnya.
Komandan di tiap daerah punya otonomi penuh untuk memutuskan kapan harus melunculkan rudal, drone, atau melakukan taktik gerilia tanpa perlu izin dari pusat.
Hal ini membuat Amerika Serikat dan Israel mustahil meraih kemenangan cepat.
Meskipun markas besar di Teheran telah dihancurkan, 30 pusat komando lainnya yang tersembunyi di balik pegunungan granit tetap aktif dan terus melawan.
Ancaman paling konstan terjadi di Selat Hormuz.
Angkatan laut IRGC terus menebar ranjau laut dan menggunakan taktis from attacks guna menyandera 20 persen pasokan minyak dunia.
Struktur yang terdesentralisasi ini menciptakan faktor ketidakpastian yang tinggi bagi Washington.
Sebab Amerika Serikat tidak tahu harus bernegosiasi dengan siapa, karena komandan lapangan tidak akan menerima perintah gencatan senjata sampai sosok pemimpin baru yang sah memberikan instruksi formal.
Para petinggi Iran dilaporkan jauh lebih takut menyerah daripada takut berperang. Financial Times melaporkan, Teheran percaya bisa bertahan dalam pertempuran jangka panjang.
Pejabat senior Iran Ali Larijani secara tegas telah menutup pintu negosiasi dengan Amerika Serikat.
Ia menuding Donald Trump telah menjerumuskan kawasan ke dalam kekacauan dan hanya mementingkan kekuasaan Israel di atas keselamatan tentara Amerika.
Larijani juga menyebut bahwa rakyat Iran hanya sedang membela diri dan tidak melancarkan invasi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi juga menolak peringatan Trump agar tidak membalas serangan besar besaran tersebut Minggu 1 Maret 2026.
Strategi Iran saat ini adalah menimbulkan kerusakan sebesar mungkin pada ekonomi global dan pasukan AS agar biaya perang ini menjadi terlalu mahal bagi Trump.
Ditambah, kenaikan harga minyak dan bertambahnya korban jiwa di pihak Amerika akan jadi pukulan bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu.
Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei ternyata tidak membuat Iran berlutut.
Kematiannya justru membuka kotak pandora peperangan asimetris yang sangat sulit dihentikan.
Dengan sistem pemerintahan berlapis dan doktrin pertahanan mosaic, Iran telah membuktikan bahwa mereka adalah lawan yang jauh lebih tangguh dibandingkan Venezuela.
Maka seberapa lama Amerika Serikat mampu bertahan dalam perang tanpa batas ini? Trump Syok dengan Pembalasan IRGC Iran terus melancarkan aksi balasan ke sejumlah pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dan kawasan Israel.
Disitat dari laman TasnimNews, serangan dengan sandi Operasi Janji Setia 4 ini menjangkau lebih banyak target musuh dengan kekuatan besar.
"Angkatan bersenjata Iran memberikan pukulan berat dan telak kepada pangkalan musuh dan pusat-pusat sensitif dan strategis di wilayah tersebut," kata seorang juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya dikutip pada Rabu, 4 Maret 2026.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengumumkan peluncuran gelombang ke-16 operasi tersebut.
Angkatan Udara IRGC melakukan serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap target di wilayah yang diduduki zionis Israel.
Operasi True Promise 4 atau Janji Setia 4 menandai respons signifikan dari pasukan militer Iran terhadap agresi berkelanjutan rezim Zionis dan AS terhadap rakyat Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku kaget dengan serangan balasan dari Teheran. Trump mengaku kaget lantaran konflik dan adu rudal jadi menyebar ke beberapa negara.
Ia mengaku tidak menyangka bahwa Iran berani melakukan serangan sampai membuat konflik melebar.
Presiden Amerika Serikat itu awalnya merasa Iran tidak akan berani menyerang negara di luar Israel karena sudah hidup berdampingan sejak lama.
"Sebut saja mereka netral, kan? Mereka hidup bersama untuk waktu yang lama. Saya pikir mereka terkejut. Saya juga terkejut. Saya pikir begitu, dan sekarang negara-negara itu semua berperang melawan mereka dan berperang dengan sangat keras melawan mereka," katanya.
"Suatu hari nanti mereka akan menulis sebuah cerita dan mereka akan mengatakan mengapa mereka melakukan itu.
Tetapi mereka menyerang negara-negara yang tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang terjadi.
Mereka seperti meninggalkan segalanya, tiba-tiba mereka memiliki rudal di sana," sambung Trump.
Trump kemudian memberikan penjelasan soal asal mula konflik Iran, Israel dan Amerika Serikat dimulai.
Menurutnya, konflik ini dimulai saat Amerika melakukan negosiasi dengan Iran beberapa waktu lalu.
Dari hasil negosiasi, Trump mengambil kesimpulan sepihak bahwa Iran akan melakukan penyerangan.
Setelah melakukan banyak pertimbangan, Trump akhirnya memilih menyerang duluan bersama dengan Israel.
Trump menyebut Israel lebih dulu menyatakan diri siap menyerang Iran.
Ia membantah Amerika Serikat menjadi pihak yang mendorong Israel melakukan penyerangan.
"Mereka akan menyerang duluan. Saya sangat yakin akan hal itu dan kami memiliki negosiator hebat, orang-orang hebat, orang-orang yang melakukan ini dengan sangat sukses dan telah melakukannya sepanjang hidup mereka dengan sangat sukses dan berdasarkan cara mereka, saya pikir mereka akan menyerang duluan dan saya tidak menginginkan itu."
Ratusan Prajurit AS Tewas
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC melaporkan, bahwa sebanyak 650 personil militer Amerika tewas atau dalam kondisi luka parah.
Dilansir dari kanal berita TasnimNews, Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini mengatakan ratusan prajurit Amerika itu jadi terkena serangan dalam dua hari pertama operasi pembalasan Iran berlabel True Promise 4.
Mereka tak berdaya ketika pasukan IRGC menargetkan pangkalan dan kapal perang Amerika di seluruh wilayah Timur Tengah.
True Promise 4 mencakup serangan rudal dan drone terhadap aset angkatan laut AS dan markas militer di Bahrain. IRGC juga mengklaim, aksi balasan ini memaksa mundurnya kapal induk USS Abraham Lincoln dari perairan pesisir Iran.
Mohammad Naeini juga mengkonfirmasi bahwa pasukan IRGC telah menimbulkan kerugian besar pada instalasi militer Amerika di wilayah Teluk Persia.
“Dalam dua hari pertama perang, 650 tentara Amerika tewas atau terluka,” kata Jenderal Naeini.
Lebih lanjut ia mengatakan, laporan ini tentu akan dibantah oleh musuh.
“Wajar bagi Amerika untuk menyangkal atau menyembunyikan korban jiwa ini.”
Namun Jenderal Naeni menekankan, bahwa intelijen Iran dan laporan medan perang telah mengkonfirmasi jumlah korban tersebut.
Naeini bahkan merinci bahwa rudal dan drone Iran telah berulang kali menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
Dalam salah satu serangan, katanya, 160 personel AS tewas atau terluka ketika pasukan Iran menargetkan fasilitas militer Amerika yang penting di negara tersebut.
Selain itu, kapal pendukung tempur MST Angkatan Laut AS mengalami kerusakan parah setelah terkena rudal angkatan laut Iran, menurut laporan tersebut.
Juru bicara IRGC itu juga mengungkapkan, bahwa angkatan laut-nya telah meluncurkan empat rudal jelajah ke USS Abraham Lincoln, yang berada sekitar 250 hingga 300 kilometer di lepas pantai Chabahar di Iran tenggara.
Setelah serangan tersebut, kata Naeini, kapal induk itu melarikan diri ke arah Samudra Hindia bagian tenggara.
Operasi True Promise 4 menandai respons signifikan dari pasukan militer Teheran terhadap agresi berkelanjutan oleh rezim zionis dan AS terhadap rakyat Iran.
Sejumlah laporan menyebutkan AS mulai menarik personel militer dari beberapa pangkalan di Timur Tengah, termasuk pangkalan udara Al-Udeid di Qatar.
Penarikan sekitar 1.000 pasukan juga dikabarkan terjadi setelah rencana serangan AS bocor ke publik.