Gawat! Korea Utara Resmi Gabung Perang Lawan Zionis Israel dan AS, Nuklir Hwasong 20 Siap Dikirim ke Iran - Vib6
Siap – Babak baru konflik global kini resmi dimulai. Di tengah memanasnya perang antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel, Korea Utara (Korut) tiba-tiba muncul sebagai aktor baru yang siap mengubah peta kekuatan.
Korut akan bergabung dalam perang melawan AS dan Israel, dan mendukung Iran. Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika diplomatik.
Pyongyang bergerak cepat, menunjukkan keseriusannya dengan aksi nyata di lapangan.
Pemimpin tertingginya, Kim Jong un, bahkan melontarkan klaim paling provokatif yang pernah ada.
"Entitas Zionis akan lenyap ketika waktunya tiba," demikian yang disampaikan dari Iran Army, Kamis 5 Maret 2026.
Tiga rudal balistik antarbenua (ICBM) nuklir Hwasong 20 diluncurkan di tengah hujan deras.
Satu Rudal Cukup untuk "Lenyapkan" Israel
Dalam pernyataan yang mengguncang dunia, Kim Jong un secara terbuka menyatakan kesiapan negaranya untuk memasok rudal ke Iran jika Teheran memintanya.
Ia bahkan mengeluarkan peringatan keras yang tidak main-main.
"Jika Iran minta, satu rudal saja cukup untuk melenyapkan Israel," ujar Kim seperti dikutip media internasional beberapa waktu lalu.
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung atas serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.
Pyongyang mengecam keras aksi tersebut sebagai tindakan agresi ilegal dan pelanggaran berat terhadap kedaulatan sebuah negara.
Yang mengejutkan, nada bicara Pyongyang ini berubah drastis hanya dalam hitungan minggu.
Sebelumnya, dalam kongres partai di Pyongyang, Kim Jong-un sempat mengisyaratkan kesediaan untuk membuka dialog dengan Presiden AS Donald Trump.
Namun, serangan ke Iran mengubah segalanya.
Kurang dari 24 jam setelah serangan dimulai, Korea Utara mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam Washington.
Tiga Rudal Hwasong 20 Diluncurkan di Tengah Hujan Deras
Korut gabung perang, 3 rudal nuklir Hwasong-20 diluncurkan.
- Siap.viva/AFP
Tidak hanya omong kosong, Korea Utara langsung menunjukkan taringnya.
Dalam sebuah gelaran yang dramatis, tiga rudal balistik antarbenua (ICBM) nuklir Hwasong 20 diluncurkan di tengah guyuran hujan deras.
Rudal Hwasong 20 bukanlah mainan. Ini adalah senjata paling mematikan yang pernah dimiliki Pyongyang.
Pertama kali dipamerkan dalam parade militer Oktober 2025, rudal ini digambarkan oleh media pemerintah Korea Utara, KCNA, sebagai "sistem senjata strategis nuklir paling kuat" milik militernya.
Berikut adalah spesifikasi mematikan dari rudal Hwasong-20:
- Jangkauan: Diperkirakan mencapai 15.000 km, cukup untuk menjangkau seluruh wilayah daratan Amerika Serikat, termasuk Washington DC dan New York.
- Daya Dorong: Menggunakan mesin berbahan bakar padat dengan serat karbon yang mampu menghasilkan daya dorong hingga 1.971 kilonewton – 40 persen lebih kuat dari pendahulunya, Hwasong-18.
- Hulu Ledak: Diduga mampu membawa hulu ledak nuklir dan berpotensi dilengkapi teknologi MIRV (Multiple Independently Targetable Reentry Vehicle) yang memungkinkan satu rudal membawa beberapa hulu ledak untuk target berbeda.
- Sistem Pemandu: Menggunakan sistem navigasi inersia yang dikombinasikan dengan GPS atau sensor optik, bahkan disebut-sebut mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan untuk meningkatkan akurasi.
Peluncuran tiga rudal sekaligus di tengah hujan deras ini merupakan pesan yang sangat jelas: Korea Utara siap tempur, dan kondisi cuaca buruk tidak menjadi halangan.
Mengapa Korea Utara Membela Iran?
Senjata mengerikan Iran siap ladeni Amerika Israel
- Istimewa
Hubungan Korea Utara dan Iran bukanlah rahasia.
Keduanya telah lama menjalin kerja sama militer, terutama dalam pengembangan rudal.
Namun, kali ini ada dimensi ideologis yang lebih dalam.
Menurut analisis yang dikutip oleh The Diplomat, Korea Utara memandang konflik ini bukan hanya sebagai contoh lain dari tekanan militer AS terhadap rezim yang bermusuhan, tetapi juga sebagai serangan terhadap mitra diplomatik dan militer yang telah lama menjalin hubungan.
Dalam pernyataan resminya melalui KCNA, Pyongyang menggambarkan AS dan Israel memiliki sifat hegemonik dan seperti gangster.
"Tindakan agresi semacam itu tidak dapat dibenarkan dengan cara apa pun, dan tidak dapat ditoleransi dalam keadaan apa pun," tegas media pemerintah Korea Utara itu.
Di sisi lain, langkah ini juga menjadi momentum bagi Kim Jong un untuk memperkuat posisi politik dan militernya di tengah ketegangan global.
Dengan bergabung dalam poros anti-AS, Pyongyang menunjukkan diri sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan, sejajar dengan Rusia dan China.
Persiapan Militer: Kapal Perang Bersenjata Nuklir
Tidak hanya rudal, Korea Utara juga mempersenjatai armada lautnya.
Dalam perkembangan terpisah, Kim Jong-un baru-baru ini menginspeksi uji coba kapal pemusnah terbarunya, kelas Choe Hyon.
Yang membuat dunia waspada, Kim menegaskan bahwa negaranya sedang dalam proses melengkapi Tentara Laut dengan senjata nuklir.
Kapal Choe Hyon adalah kapal pemusnah seberat 5.000 ton yang dilengkapi dengan senjata paling berkuasa – diduga peluru berpandu taktikal jarak dekat yang mampu membawa hulu ledak nuklir.
"Pemodenan Tentera Laut dengan senjata nuklir sedang menunjukkan kemajuan yang memuaskan," kata Kim seperti dipetik KCNA.
"Semua kejayaan ini merupakan perubahan radikal dalam mempertahankan kedaulatan maritim kita, sesuatu yang tidak kita capai selama setengah abad," tambahnya.
Para analis melihat langkah ini sebagai unjuk kekuatan di tengah situasi Iran yang sedang memanas serta menjelang latihan ketenteraan bersama Korea Selatan-AS yang akan datang .
Respons Global dan Ancaman Perang Dunia
Dengan masuknya Korea Utara ke dalam pusaran konflik, peta perang berubah total.
Jika sebelumnya konflik terpusat di Timur Tengah antara Iran melawan AS-Israel, kini Asia Timur ikut terseret.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, telah melontarkan ancaman keras terhadap kepemimpinan Iran.
Ia menyatakan bahwa siapa pun yang ditunjuk untuk melanjutkan program penghancuran Israel dan mengancam Amerika serta sekutunya akan menjadi target eliminasi.
Sementara itu, AS sedang mempertimbangkan kemungkinan yang sangat kontradiktif.
Di satu sisi berperang melawan Iran yang didukung Korea Utara. Namun, di sisi lain Washington dikabarkan sedang menjajaki kemungkinan sidang kemuncak antara Presiden AS Donald Trump dan Kim Jong un tahun ini.
Kim sendiri bulan lalu berkata kedua negara bisa hidup bersama secara harmoni sekiranya Washington menerima status nuklir Pyongyang.
Namun, setelah serangan ke Iran, pintu dialog itu sepertinya tertutup rapat.
Akankah Rudal Hwasong-20 Benar-Benar Dikirim?
Pertanyaan besarnya adalah: seberapa serius Korea Utara mengirim rudal ke Iran?
Jika benar rudal Hwasong-20 dikirimkan ke Teheran, maka ini akan menjadi eskalasi terbesar dalam sejarah konflik modern.
Dengan jangkauan 15.000 km, rudal ini tidak perlu diluncurkan dari Korea Utara untuk mencapai Israel atau AS.
Cukup ditempatkan di wilayah Iran, seluruh Timur Tengah dan pangkalan-pangkalan AS di kawasan itu akan berada dalam jangkauan.
Namun, para pakar masih meragukan beberapa hal.
Rudal Hwasong-20 sejauh ini baru menjalani uji coba darat dan belum pernah diuji terbang.
Akurasi dan kemampuan hulu ledaknya untuk bertahan saat masuk kembali ke atmosfer masih dipertanyakan.
Yang Uk, peneliti dari Asan Institute for Policy Studies, menegaskan bahwa pesan Pyongyang sudah jelas.
Menurutnya, Korea Utara menegaskan diri sebagai negara nuklir yang setara dengan Rusia dan China, dan tidak ada yang boleh berharap mereka akan menyerahkan senjata nuklirnya.