Harga minyak sudah melonjak 25% sejak Amerika serang Iran - IDN Finansial
Harga minyak sudah melonjak 25% sejak Amerika serang Iran

JAKARTA - Harga minyak dunia melonjak tajam di tengah eskalasi konflik Iran, memicu kekhawatiran baru terhadap lonjakan inflasi global dan gangguan pasokan energi.
Dikutip theguardian, harga minyak mentah Brent sempat mencapai US$91,89 per barel pada Jumat, level tertinggi sejak April 2024. Kenaikan ini dipicu laporan bahwa Kuwait mulai memangkas produksi di beberapa ladang karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. Sebelum konflik pecah, harga Brent masih berada di kisaran US$72,50 per barel.
Secara keseluruhan, harga minyak acuan internasional itu telah melonjak lebih dari 25% sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Kenaikan ini menjadi lonjakan mingguan terbesar sejak awal pandemi Covid-19 pada April 2020.
Konsultan energi Kpler memperingatkan fasilitas penyimpanan minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berpotensi mencapai kapasitas maksimum dalam sekitar 20 hari. Jika hal itu terjadi, produsen minyak terbesar di kawasan Teluk bisa terpaksa menghentikan produksi.
Langkah tersebut biasanya dihindari karena proses memulai kembali produksi memerlukan biaya besar dan waktu berminggu-minggu.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, memperingatkan dampak perang terhadap ekspor energi kawasan Teluk. Ia mengatakan kepada Financial Times bahwa jika konflik terus berlanjut, eksportir energi Teluk dapat menghentikan produksi dalam beberapa minggu dan harga minyak berpotensi melonjak hingga US$150 per barel.
Serangan drone Iran juga dilaporkan merusak salah satu terminal ekspor gas alam cair (LNG) penting di Qatar. Al-Kaabi mengatakan bahkan jika perang berakhir segera, dibutuhkan waktu “berminggu-minggu hingga berbulan-bulan” bagi negara tersebut untuk memulihkan ekspor LNG.
Qatar sendiri menyumbang sekitar 20% dari ekspor LNG global. Gangguan ini mendorong harga gas di pasar Inggris melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun, di tengah kekhawatiran Eropa harus bersaing dengan pembeli Asia untuk mendapatkan pasokan LNG.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengancam akan “set ablaze” kapal tanker Barat yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan rute strategis bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia. Lloyd’s List melaporkan setidaknya sembilan kapal telah diserang di kawasan Teluk sejak serangan terhadap Iran dimulai pada 28 Februari.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah menawarkan asuransi dan pengawalan militer bagi kapal tanker yang melintasi jalur tersebut. Namun pasar dinilai masih meragukan efektivitas langkah tersebut.
Ketegangan energi ini juga memicu gejolak di pasar keuangan global. Harga obligasi pemerintah Inggris turun, mendorong imbal hasil obligasi lima dan 10 tahun menuju kenaikan mingguan terbesar sejak krisis “mini-budget” pada September 2022.
Ekspektasi penurunan suku bunga di Inggris bulan ini ikut merosot. Pasar uang kini hanya memperkirakan peluang 15% untuk pemangkasan suku bunga, turun tajam dari sekitar 80% pada pekan sebelumnya.
Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik yang bergantung pada impor energi dari Timur Tengah juga mengalami tekanan. Bursa di kawasan tersebut mencatat kinerja mingguan terburuk sejak awal pandemi Covid-19.
Di Eropa, indeks FTSE 100 Inggris turun lebih dari 5% sepanjang pekan, sementara indeks pan-Eropa Stoxx 600 juga melemah lebih dari 5%. Sektor penerbangan termasuk yang paling terdampak. Saham International Airlines Group, induk perusahaan British Airways, turun lebih dari 12%. Maskapai berbiaya rendah Wizz Air bahkan kehilangan sekitar 20% nilai pasarnya setelah memperingatkan krisis Timur Tengah dapat memangkas laba hingga €50 juta.
Sementara itu, dolar AS menguat sejak konflik memanas. Namun harga emas justru turun sekitar 3,5% sepanjang pekan menjadi di bawah US$5.100 per ounce.(DH)