Idul Fitri 2026 di Tengah Perang Timur Tengah, Gaza dan Beirut Rayakan Lebaran di Pengungsian - Tribunnews
Idul Fitri 2026 di Tengah Perang Timur Tengah, Gaza dan Beirut Rayakan Lebaran di Pengungsian
Idul Fitri 2026 di Timur Tengah dibayangi perang, pengungsian, krisis ekonomi, dan penutupan akses ibadah.
Ringkasan Berita:
- Idul Fitri 2026 di Timur Tengah dirayakan di tengah perang, pengungsian, dan krisis ekonomi.
- Warga Gaza, Beirut, Yerusalem Timur, dan Iran tetap berlebaran dalam situasi yang jauh dari normal.
- Perayaan hari raya tahun ini menjadi potret ketabahan umat Muslim di tengah konflik berkepanjangan.
TRIBUNNEWS.COM – Umat Islam di berbagai negara merayakan Idul Fitri 2026 dalam suasana yang kontras antara sukacita hari raya dan bayang-bayang perang di Timur Tengah.
Di satu sisi, masjid-masjid dipenuhi jamaah untuk salat Idul Fitri.
Di sisi lain, banyak keluarga di Gaza, Yerusalem Timur, Lebanon, dan Iran menjalani Lebaran di tengah pengungsian, kerusakan, krisis ekonomi, hingga ketidakpastian akibat konflik yang belum mereda.
TRT World melaporkan Idul Fitri tahun ini dirayakan di tengah perpaduan tajam antara doa, ketabahan, dan konflik bersenjata yang terus mengguncang kawasan Timur Tengah.
Laporan itu menyebut, dari masjid-masjid besar di Istanbul hingga tempat penampungan darurat di zona perang, hari raya tetap dijalani umat Islam meski suasana perayaan jauh dari normal.
Secara tradisional, Idul Fitri identik dengan berkumpul bersama keluarga, membeli pakaian baru, saling berkunjung, dan berbagi hidangan.
Namun tahun ini, perang, pengungsian, dan tekanan ekonomi membuat makna perayaan berubah drastis bagi banyak warga di kawasan konflik.
Idul Fitri Tetap Dirayakan, Tetapi Suasananya Berbeda
Di Istanbul, Turki, jamaah memadati masjid-masjid besar untuk menunaikan salat Idul Fitri.
TRT World menyebut pemandangan itu berbanding terbalik dengan situasi di wilayah lain di Timur Tengah yang justru merayakan Lebaran di tengah serangan udara dan pengungsian.
Baca juga: Menag Bersyukur Malam Takbiran Jelang Lebaran Idulfitri Berlangsung Khusyuk dan Damai
Di Mesir, Yunani, dan Rusia, komunitas muslim juga tetap merayakan Idul Fitri sebagaimana tradisi pada umumnya.
Tetapi suasana meriah tersebut sangat kontras dengan kondisi di Gaza, Yerusalem Timur, Lebanon, dan Iran yang masih dibayangi perang.
Di Yerusalem Timur yang diduduki Israel, warga Palestina disebut menunaikan doa di luar tembok Kota Tua setelah Masjid Al-Aqsa tetap ditutup akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, seperti dilaporkan TRT World.
Gaza Jalani Lebaran di Tengah Krisis dan Keterbatasan
Al Jazeera melaporkan banyak warga Palestina di Gaza ingin tetap merayakan Idul Fitri, tetapi krisis ekonomi yang dipicu perang membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan paling dasar untuk hari raya.
Pembatasan Israel terhadap masuknya barang ke Gaza disebut semakin memperburuk keadaan.
Harga kebutuhan pokok, termasuk mainan anak-anak, ikut melonjak menjelang Lebaran.
Seorang warga Gaza bernama Khaled Deeb, 62 tahun, yang tinggal di rumah rusak sebagian di Kota Gaza, datang ke pasar pusat Remal untuk melihat harga buah dan sayuran menjelang Idul Fitri.
Menurut Al Jazeera, Khaled menggambarkan suasana pasar tampak ramai dan meriah dari luar, tetapi kondisi ekonomi warga sebenarnya sangat buruk.
Ia mengatakan banyak orang kehilangan rumah, tinggal di tenda atau lokasi pengungsian, dan kehilangan hampir seluruh harta benda akibat perang.
Khaled mengaku tak lagi mampu membeli buah dan sayuran.
Ia mengenang masa sebelum perang ketika masih memiliki supermarket dan dapat menyiapkan hadiah, pakaian baru, serta makanan untuk keluarganya saat Lebaran.
Kini suasana itu tak lagi bisa ia rasakan.
Kondisi serupa juga dirasakan Shireen Shreim, ibu tiga anak di Gaza.
Al Jazeera melaporkan, Shireen mengatakan kegembiraan Idul Fitri terasa tidak utuh setelah dua tahun perang dan kesulitan hidup yang berkepanjangan.
Ia menggambarkan kehidupannya kini berlangsung di apartemen dengan dinding rusak, yang ditutup seadanya menggunakan terpal dan kayu.
Menurut dia, banyak keluarga lain hidup dalam kondisi yang jauh lebih buruk karena tinggal di tenda kain dan penampungan tidak layak.
Lebaran di Beirut Diwarnai Pengungsian
Situasi berat juga terjadi di Beirut, Lebanon.
TRT World melaporkan keluarga-keluarga yang mengungsi akibat bentrokan antara Hizbullah dan Israel merayakan Idul Fitri di tenda-tenda jalanan, sementara sebagian lain berkumpul di luar Masjid Al-Amin.
Al Jazeera menambahkan, kawasan tepi laut pusat kota Beirut kini menjadi lokasi tenda-tenda darurat bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik.
Laporan itu menyebut lebih dari satu juta orang telah mengungsi di Lebanon.
Kondisi tersebut membuat banyak warga tidak lagi memikirkan perayaan Idul Fitri seperti biasanya, melainkan lebih fokus mencari tempat aman untuk bertahan hidup.
Baca juga: Niat Sholat Idul Fitri sebagai Imam dan Makmum, Bacaan Arab Latin dan Arti
Seorang peneliti dan aktivis politik di Beirut, Karim Safieddine, mengatakan dirinya tetap akan merayakan Idul Fitri bersama keluarga besar meski dalam situasi sulit.
Al Jazeera melaporkan, Karim menilai ikatan keluarga dan solidaritas komunitas menjadi syarat utama untuk bertahan dalam masa perang.
Ia menilai tanpa solidaritas, masyarakat akan kesulitan membangun kembali kehidupan sosial dan masa depan negara yang terdampak bom.
Iran Juga Dihantam Tekanan Perang dan Ekonomi
Selain Gaza dan Lebanon, tekanan serupa juga dirasakan warga Iran.
Al Jazeera melaporkan warga Iran yang memasuki pekan ketiga serangan Amerika Serikat dan Israel juga menghadapi tekanan ekonomi yang berat menjelang Idul Fitri.
Aktivitas belanja untuk kebutuhan Lebaran menjadi semakin sulit karena kerusakan di sejumlah area dan kondisi keamanan yang tidak menentu.
Pasar besar Teheran bahkan disebut ikut terdampak pemboman sehingga membuat aktivitas warga menjadi lebih berisiko.
Laporan Al Jazeera juga menyoroti bahwa unsur keagamaan Idul Fitri menambah sensitivitas tersendiri bagi sebagian warga Iran anti-pemerintah.
Sebagian dari mereka lebih memilih fokus pada perayaan Nowruz, Tahun Baru Persia, yang tahun ini jatuh pada hari yang sama, dibanding menghadiri agenda terkait Idul Fitri
Hari Raya di Tengah Luka Kawasan
Baca juga: Salat Idul Fitri di Sukoharjo Dibatalkan, Panitia Diintimidasi dan Diancam Petugas Keamanan
Rangkaian perayaan Idul Fitri 2026 di Timur Tengah memperlihatkan bahwa hari besar keagamaan tidak selalu hadir dalam suasana damai.
Di banyak tempat, Lebaran tetap dirayakan, tetapi dalam bentuk yang jauh lebih sederhana, sunyi, dan penuh ketahanan.
Dari Gaza yang dilanda krisis, Beirut yang dipenuhi pengungsi, hingga Yerusalem Timur dan Iran yang dibayangi perang, Idul Fitri tahun ini menjadi simbol keteguhan warga sipil di tengah konflik berkepanjangan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)