IHSG dan Rupiah Melemah, Purbaya Minta Investor Tak Panik, Ekonomi RI Masih Ekspansif -
- • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak khawatir terhadap pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah.
- • Ia menilai tekanan pasar dipicu konflik geopolitik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, bukan karena kondisi fundamental ekonomi domestik.
- • APBN masih memiliki ruang fiskal untuk meredam gejolak ekonomi dan menjaga momentum pertumbuhan.
INFORMASI.COM, Jakarta - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, meminta masyarakat dan investor tidak khawatir terhadap pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Purbaya, berbagai indikator ekonomi menunjukkan kondisi perekonomian Indonesia masih berada dalam fase ekspansi. Ia menilai pelemahan pasar lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal, terutama ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kami jaga mati-matian. Boro-boro krisis, resesi saja belum, melambat saja belum. Kami masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kami jaga terus dalam beberapa minggu ke depan,” kata Purbaya, dikutip Selasa (10/3).
IHSG dan Rupiah Tertekan di Awal Pekan
Pada perdagangan Senin (9/3) sore, IHSG ditutup melemah cukup tajam. Indeks utama pasar saham Indonesia itu turun 248,32 poin atau 3,27 persen ke posisi 7.337,37.
Penurunan juga terjadi pada indeks saham unggulan Indeks LQ45. Indeks tersebut turun 25,47 poin atau 3,28 persen ke level 750,57.
Tekanan pasar saham turut diikuti pelemahan nilai tukar rupiah. Mata uang Indonesia ditutup melemah 24 poin ke posisi Rp16.949 per dolar Amerika Serikat dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.925 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat terdepresiasi hingga 70 poin.
Pemerintah Andalkan Pengalaman Hadapi Krisis
Purbaya menyatakan pemerintah memiliki pengalaman menghadapi berbagai krisis ekonomi yang pernah terjadi sebelumnya. Ia menyinggung tiga periode tekanan besar yang pernah dilalui Indonesia, yakni Krisis Moneter Asia 1998, Krisis Keuangan Global 2008, serta pandemi COVID-19 pada 2020.
Pengalaman tersebut, menurut Purbaya, menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyiapkan langkah mitigasi apabila kondisi global memburuk.
“Jadi, investor di pasar saham enggak usah takut. Kami bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.
APBN Disiapkan Jadi Peredam Gejolak
Selain menjaga stabilitas ekonomi domestik, pemerintah juga menyiapkan kebijakan fiskal untuk mengantisipasi dampak lonjakan harga energi global. Purbaya menegaskan pemerintah akan mengambil langkah apabila harga minyak dunia melampaui kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Menurut dia, pemerintah akan memaksimalkan fungsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penyangga ketika terjadi guncangan ekonomi.
“Anggaran fiskal masih cukup untuk menampung gejolak saat ini,” pungkasnya.