Iran Berkabung, Gelar Upacara Pemakaman 3 Hari untuk Lepas Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei - Tribunnews
Iran Berkabung, Gelar Upacara Pemakaman 3 Hari untuk Lepas Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei
Iran berkabung. Pemakaman 3 hari Ayatollah Ali Khamenei digelar di Teheran, suksesi pemimpin tertinggi jadi penentu arah politik Iran ke depan.
Ringkasan Berita:
- Iran menggelar upacara pemakaman kenegaraan selama 4–6 Maret 2026 di Lapangan Doa Imam Khomeini, Teheran, untuk Ayatollah Ali Khamenei.
- Khamenei meninggal dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Citra satelit Airbus Defence and Space menunjukkan kediamannya hancur akibat dugaan bom penghancur bunker.
- Proses pemilihan pengganti dilakukan oleh Majelis Ahli. Nama Mojtaba Khamenei disebut sebagai kandidat terdepan.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran resmi menggelar upacara pemakaman kenegaraan selama tiga hari bagi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu,
Adapun prosesi penghormatan dijadwalkan berlangsung pada Rabu (4/3/2026) pukul 22.00 waktu setempat hingga Jumat (6/3/2026) di Lapangan Doa Imam Khomeini, sebuah kompleks besar di pusat Teheran yang selama ini menjadi lokasi Khamenei menyampaikan pidato publik dan memimpin doa besar kenegaraan.
Sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Islamic Republic News Agency (IRNA), selama prosesi pemakaman digelar jenazah Khamenei akan dipajang.
Hal ini dilakukan guna memberi kesempatan kepada warga Iran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Khamenei, yang selama lebih dari tiga dekade memimpin Republik Islam dengan kekuasaan politik dan keagamaan yang luas.
"Mulai pukul 22.00, umat Islam dapat memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah pemimpin bangsa yang gugur sebagai syahid, dengan mengunjungi masjid agung Imam Khomenei di Teheran," bunyi pernyataan Dewan Koordinasi Pembangunan Islam Iran.
Setelah rangkaian upacara di ibu kota, Khamenei akan dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, wilayah timur laut Iran.
Masshad sendiri merupakan kota terbesar kedua di Iran. Kota ini menyandang gelar 'Kota Suci' karena merupakan lokasi berdirinya Kompleks Suci Imam Reza, tempat makam Imam kedelapan penganut Syiah.
Kronologi Tewasnya Khamenei
Sebelumnya diberitakan, Khamenei meninggal dunia dalam serangan gabungan AS-Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Selain Khamenei, serangan tersebut juga menewaskan anggota keluarganya, termasuk istri, putri, menantu, dan cucunya. Buntut Pemerintah Iran langsung menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Citra satelit yang dirilis oleh Airbus Defence and Space menunjukkan kerusakan parah pada kompleks Beit-e Rahbari, kediaman resmi Pemimpin Tertinggi di Teheran. Bangunan utama dilaporkan hancur total, termasuk perimeter keamanannya.
Baca juga: Kemampuan 15 Rudal Balistik dan Jelajah Iran: Ada yang Mampu Jangkau Jarak Setara Jakarta-Aceh
Analisis sejumlah ahli pertahanan menyebut pola kawah dan dampak ledakan konsisten dengan penggunaan amunisi penghancur bunker atau bunker-buster. Jenis senjata ini dirancang untuk menembus lapisan beton tebal sebelum meledak di dalam struktur bawah tanah yang diperkuat.
Proses Suksesi: Siapa Pengganti Pemimpin Tertinggi Iran?
Di tengah suasana duka dan eskalasi militer, perhatian kini tertuju pada proses suksesi Pemimpin Tertinggi Iran. Sejumlah ulama Syiah senior dilaporkan telah memulai pembahasan untuk menentukan pengganti.
Nama Mojtaba Khamenei, putra Khamenei yang berusia 56 tahun, disebut sebagai kandidat terdepan berdasarkan informasi dari tiga pejabat Iran yang mengetahui proses internal tersebut. Namun, hingga kini belum ada pengumuman resmi.
Perlu diketahui, Pemimpin Tertinggi Iran tidak dipilih melalui pemilu langsung oleh rakyat. Jabatan ini ditentukan oleh lembaga bernama Majelis Ahli, yang terdiri dari 88 ulama senior. Anggota Majelis Ahli dipilih publik setiap delapan tahun sekali.
Namun, setiap calon anggota Majelis Ahli harus lebih dulu lolos seleksi ketat oleh Dewan Penjaga, sebuah badan pengawas konstitusi yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh Pemimpin Tertinggi.
Jika jabatan Pemimpin Tertinggi kosong akibat wafat atau pengunduran diri, Majelis Ahli akan segera menggelar sidang untuk memilih pengganti melalui pemungutan suara sederhana.
Sesuai konstitusi Iran, kandidat harus merupakan ahli hukum Islam Syiah dengan kapasitas keilmuan tinggi, memiliki penilaian politik yang matang, keberanian, serta kemampuan administrasi.
Sejak Revolusi Islam 1979, hanya satu kali terjadi peralihan kekuasaan di posisi ini, yakni ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat pada 1989 dan digantikan oleh Khamenei.
Kematian Khamenei menandai babak baru dalam politik Iran dan berpotensi memicu perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri maupun strategi militernya.
Sebagai Pemimpin Tertinggi, posisi tersebut bukan hanya otoritas keagamaan tertinggi, tetapi juga panglima tertinggi angkatan bersenjata serta pengendali utama kebijakan strategis negara.
Dengan ketegangan yang masih tinggi antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, keputusan Majelis Ahli dalam memilih pemimpin baru akan menjadi faktor penentu arah stabilitas kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.
Prosesi pemakaman kenegaraan selama tiga hari ini diperkirakan akan dihadiri jutaan warga Iran, sekaligus menjadi simbol konsolidasi politik di tengah situasi keamanan yang belum mereda
(Tribunnews.com / Namira)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/tidak-ada-pesawat-yang-melintasi-Iran-Irak.jpg)