0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Selat Hormuz Spesial

    Iran Buka Jalur Selat Hormuz, Tapi Beri Syarat Keras: Usir Dubes AS dan Israel - Ulasan Co

    6 min read

      

    Iran Buka Jalur Selat Hormuz, Tapi Beri Syarat Keras: Usir Dubes AS dan Israel


    Ilustrasi - Selat Hormuz berubah menjadi wilayah yang mencekam bagi kapal tanker internasional. (Foto: dok/freepik)

    JAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengeluarkan pernyataan tegas terkait akses pelayaran di jalur energi paling vital di dunia.

    Negara tersebut membuka peluang bagi kapal tanker minyak untuk kembali melintas di Selat Hormuz, namun dengan syarat diplomatik yang cukup keras.

    Melalui pernyataan resmi, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan bahwa kapal tanker dari berbagai negara dapat melintas dengan aman mulai Selasa 10 Maret 2026. Namun demikian, negara-negara yang ingin mendapatkan jaminan keamanan pelayaran harus terlebih dahulu mengambil langkah politik tertentu.

    IGRC menyatakan kapal-kapal bisa melintas mulai Selasa (10/3) ini jika duta besar Israel dan Amerika Serikat diusir dari negara mereka.

    Baca Juga: AS Murka ke Israel Usai Serang Depot BBM Iran, Washington Sebut Operasi Tel Aviv di Luar Rencana

    Pernyataan tersebut dilaporkan oleh stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa negara-negara Arab maupun Eropa tetap memiliki hak penuh untuk menggunakan jalur pelayaran strategis tersebut.

    Namun, hak tersebut diberikan dengan syarat mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat dan Israel, demikian dilaporkan oleh CNN.

    Situasi ini bermula setelah Iran menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz sejak serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Penutupan tersebut langsung memicu ketegangan besar di pasar energi global.

    Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perairan sempit dengan lebar sekitar 33 kilometer. Meskipun ukurannya relatif kecil, jalur ini memiliki peran sangat penting dalam perdagangan energi dunia.

    Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global serta pengiriman gas alam cair atau LNG melewati jalur tersebut setiap harinya. Oleh karena itu, setiap gangguan di wilayah ini dapat langsung berdampak pada stabilitas harga energi dunia.

    Saat ini, banyak kapal tanker dari berbagai negara masih tertahan dan tidak berani melintas di kawasan tersebut. IRGC bahkan memperingatkan bahwa pihaknya siap menyerang kapal yang mencoba melintas tanpa izin.

    Namun demikian, pengecualian diberikan bagi kapal tanker milik sekutu Iran seperti China dan Rusia yang masih diizinkan melintas dengan relatif aman.

    Baca Juga: Selat Hormuz Makin Mencekam: 10 Kapal Diserang, Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel

    Penutupan Selat Hormuz serta meningkatnya eskalasi konflik di kawasan tersebut langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak tajam dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2022.

    Pada perdagangan Senin (9/3), harga minyak global bahkan sempat menembus angka 119 dolar AS per barel. Lonjakan ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global.

    Selain kebijakan penutupan jalur pelayaran, Iran juga disebut tengah menyiapkan strategi lain untuk menekan lawannya. Salah satunya adalah rencana memberlakukan biaya keamanan bagi kapal tanker dan kapal komersial yang melintas di kawasan Teluk Persia.

    Menurut laporan lain dari CNN, biaya tersebut akan dikenakan kepada kapal milik Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara sekutunya.

    Sumber dari Iran yang mengetahui rencana tersebut menyebut kebijakan ini merupakan bagian dari strategi tekanan politik terhadap pemerintahan Donald Trump.

    Tujuannya adalah memaksa Amerika Serikat menghentikan serangan terhadap Teheran sekaligus menurunkan intensitas konflik di kawasan tersebut.

    “Kami memegang kendali atas harga minyak dunia dan untuk waktu yang lama AS harus menunggu tindakan kami untuk mengendalikan harga. Harga energi sudah tidak stabil dan kami akan terus berjuang sampai Trump menyatakan kekalahan,” bebernya.

    Ikuti Berita Ulasan.co di Google News


    Komentar
    Additional JS