Baca 10 detik
  • Bendera merah simbol balas dendam dikibarkan di kubah Masjid Jamkaran, Qom, menyusul serangan udara terhadap Pemimpin Tertinggi Iran.
  • Bendera merah dalam tradisi Syiah melambangkan kemarahan dan janji pembalasan atas darah martir, berakar pada tragedi Karbala.
  • Pengibaran bendera ini memicu reaksi global dan berpotensi memperkeruh situasi geopolitik tegang di kawasan Timur Tengah.

Suara.com - Sebuah momen sarat simbol mengguncang dunia Islam setelah bendera merah yang dikenal sebagai “bendera balas dendam” berkibar di atas kubah Masjid Jamkaran, salah satu situs ziarah paling sakral di kota Qom, Iran.

Pengibaran bendera tersebut segera memicu reaksi luas dan menjadi sorotan media global. Dalam tradisi Syiah, bendera merah diyakini sebagai ungkapan kemarahan sekaligus janji pembalasan atas darah yang tertumpah.

Sejumlah laporan media internasional menyebut, simbol itu dikibarkan setelah rentetan serangan militer yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, figur tertinggi dalam hierarki politik dan religius Republik Islam Iran, dalam serangan udara di Teheran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Bendera merah itu bukan sekadar kain berwarna. Dalam tradisi Syiah, warna merah melambangkan darah para martir dan menjadi penanda bahwa keadilan atas darah tersebut diyakini belum ditegakkan. Simbol ini berakar pada tragedi Karbala abad ke-7, ketika Husayn ibn Ali gugur dalam pertempuran yang kemudian menjadi fondasi spiritual dan emosional komunitas Syiah.

Tulisan yang kerap tertera pada bendera itu berbunyi “Ya Latharat al-Husayn”, yang berarti seruan untuk membalas darah Husayn. Bagi penganut Syiah, kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan panggilan moral dan religius untuk menegakkan keadilan.

Dalam konteks Iran kontemporer, simbol ini juga memiliki dimensi politik. Pengibaran serupa pernah terjadi pada Januari 2020 setelah tewasnya Jenderal Qasem Soleimani dalam serangan drone Amerika Serikat di Irak. Saat itu, bendera merah juga dikibarkan di Masjid Jamkaran dan menjadi penanda kemarahan nasional Iran.

Akun resmi Masjid Jamkaran di media sosial menyebut pengibaran bendera “Ya Latharat al-Husayn” sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai kejahatan “Amerika dan Zionis”, menyiratkan pesan moral sekaligus politik.

Di dalam negeri, simbol tersebut muncul di tengah suasana duka dan kemarahan yang meluas. Warga dan tokoh keagamaan memadukan doa, peringatan, dan pernyataan sikap di berbagai kota.

Meski demikian, dalam tradisi Syiah, bendera merah tidak selalu dimaknai sebagai deklarasi perang. Ia lebih sering dipahami sebagai simbol bahwa janji keadilan belum tuntas, bahwa darah yang tertumpah belum dianggap terbayar secara adil.

Baca Juga: Gugur dalam Agresi AS-Israel, Silsilah Ali Khamenei Sebagai 'Sayyid' Keturunan Nabi Jadi Sorotan

Namun secara geopolitik, pengibaran bendera ini berpotensi memperkeruh situasi Timur Tengah yang sudah tegang. Amerika Serikat dan sekutunya disebut meningkatkan kewaspadaan, sementara komunitas internasional memantau kemungkinan respons Iran dalam beberapa waktu ke depan.

Pada akhirnya, pengibaran bendera merah di Masjid Jamkaran bukan sekadar visual dramatis di media sosial. Ia mencerminkan lapisan sejarah, teologi, dan politik yang saling bertaut, di mana simbol spiritual dapat berubah menjadi pesan geopolitik yang menggema jauh melampaui kubah sebuah masjid di Qom.