Jusuf Kalla Serukan Prabowo Temui Trump, Minta Serangan ke Iran Dihentikan - Kompas TV
YOGYAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Presiden RI ke-10 dan 12, Jusuf Kalla, mengaku pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto beberapa hari lalu, membahas banyak hal, salah satunya terkait perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Hal itu dikatakan Jusuf Kalla, saat ditemui awak media di masjid kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (5/3/2026) malam.
Dalam pertemuan itu, Jusuf Kalla juga mendesak Prabowo sebagai kepala negara anggota Board Of Peace (BOP) untuk meminta Presiden AS Donald Trump, agar menghentikan serangan ke Iran.
Baca Juga: Jusuf Kalla Tegaskan Indonesia Harus Tegas Sikapi Konflik Iran vs AS Israel: Berpihak pada Korban!
"Trump harus dikunjungi, karena dia yang menyerang. Jadi pemerintah Indonesia sebaiknya meminta Board Of Peace itu menjadi perdamaian," kata JK, sapaan akrabnya.
Sementara terkait niat Presiden Prabowo untuk memediasi Iran dan Amerika-Israel, ia menyebut hal itu baik dilakukan, tapi ia mengaku lebih menyukai Indonesia menggunakan jalur Board Of Peace untuk melahirkan perdamaian di tengah perang.
Adapun pada Sabtu (7/3) kemarin, seperti mengutip Antara, dalam kesempatan berbeda, JK juga menilai Indonesia seharusnya bersikap lebih tegas atas perang yang diluncurkan AS dan Israel di Iran. Ia menilai Indonesia seharusnya berpihak kepada Iran sebagai negara yang diserang.
Dalam penilaiannya, keberpihakan tersebut penting agar Indonesia tetap konsisten dalam mendrong kerja sama dengan negara-negara di Asia dan dunia Islam.
Baca Juga: Jusuf Kalla Desak Indonesia Tagih Perdamaian Iran-Israel ke Board of Peace
"Sebagai negara yang diserang dan teraniaya, Indonesia harus punya sikap. Logikanya kita harus berpihak kepada negara yang diserang," kata JK.
Ia menilai Indonesia sebagai negara berpopulasi Muslim terbesar di dunia semestinya memiliki posisi jelas dama menykapi konflik yang melibatkan negara-negara Islam. Jusuf Kalla pun menegaskan Indonesia seharusnya tidak bersikap netral tanpa menunjukkan keberpihakan. Menurutnya, Indonesia harus menyatakan sikap secara tegas.
Penulis: Michael Aryawan, jurnalis KompasTV
Penulis : Gading-Persada