0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Iron Dome Israel Konflik Timur Tengah Spesial

    Kala Iron Dome Tak Berdaya: Rudal Iran Hantam Dekat Nuklir Israel - detik

    3 min read

     

    Kala Iron Dome Tak Berdaya: Rudal Iran Hantam Dekat Nuklir Israel

    Fino Yurio Kristo - detikInet


    Sistem pertahanan Iron Dome. Foto: AP/Ariel Schalit

    Jakarta -

    Kementerian Kesehatan Israel mengatakan setidaknya 180 orang luka dalam serangan rudal Iran di kota Dimona, tempat fasilitas nuklir utama negara itu berada dan kota Arad di dekatnya, dalam salah satu eskalasi dramatis sejak perang Amerika Serikat-Israel lawan Iran dimulai. Televisi pemerintah Iran menyebutnya tanggapan terhadap serangan kompleks pengayaan nuklir Natanz.

    Kemampuan sistem pertahanan canggih Iron Dome pun dipertanyakan. Tak banyak tempat di Israel punya perlindungan lebih baik dari fasilitas penelitian dan reaktor nuklir di Gurun Negev itu.

    Karenanya, banyak pihak terkejut ketika rudal balistik Iran berhasil menembus pertahanan udara Israel dan menghantam kota Dimona yang hanya berjarak sekitar 12,8 kilometer dari situs itu. Beberapa jam kemudian, giliran kota Arad jadi sasaran.

    Dikutip detikINET dari iNDTV, militer Israel mengakui telah coba mencegat kedua rudal balistik yang menghantam dengan selang waktu sekitar tiga jam tersebut, namun rudal itu tetap berhasil menembus Iron Dome. Angkatan Udara Israel meluncurkan investigasi atas kegagalan ini dan menyatakan temuan awal menunjukkan rudal-rudal gagal dicegat karena serangkaian malfungsi, bukan kegagalan sistemik.

    Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang mengunjungi lokasi terdampak, mengatakan bahwa sebuah "keajaiban" tidak ada korban jiwa dalam serangan. Namun, ia tidak memberikan penjelasan mengenai mengapa sistem pertahanan udara, di mana Israel dan Amerika Serikat menginvestasikan miliaran dolar, gagal mencegat serangan Iran.

    Iron Dome, elemen pertahanan rudal Israel yang paling dikenal, dirancang terutama untuk mencegat roket dan rudal jarak pendek. Menurut New York Times, senjata tercanggih Israel untuk melawan rudal balistik adalah Arrow 3, sistem rudal anti balistik yang dikembangkan Israel dan AS untuk mencegat target di angkasa, di luar atmosfer Bumi.

    Namun, rudal pencegatnya mahal dan makan waktu lama untuk diproduksi, sehingga penggunaannya harus hati-hati. Komponen pertahanan lain adalah David's Sling, sistem pertahanan bergerak yang dirancang mencegat roket jarak menengah hingga jauh, rudal jelajah, pesawat terbang, dan drone pada jarak 40-300 km.

    Sistem rudal pertahanan THAAD milik AS yang mahal juga dilaporkan dikerahkan di Israel. Israel sedang berupaya memperluas cakupan dan jangkauan sistem pencegat lainnya yang lebih hemat biaya dan lebih banyak tersedia.

    "Mereka (Israel) sedang mencoba memaksimalkan kemampuan pertahanan udara tingkat bawah seperti Iron Dome dan David's Sling," ungkap Jenderal Ran Kochav, mantan komandan pasukan pertahanan udara dan rudal Israel.

    Kepala juru bicara militer Israel, Effie Defrin, mengatakan kegagalan di Arad dan Dimona tak saling berkaitan. Namun, media Israel melaporkan sistem rudal anti balistik Arrow 3 yang mahal tak dikerahkan untuk menghadapi rudal yang menghantam Arad dan Dimona, sehingga memunculkan kekhawatiran tentang perlunya sistem pertahanan lebih hemat biaya.

    Militer Israel juga membantah laporan yang menyebut mereka mulai kehabisan rudal pencegat. Situasi ini mengingatkan perang Juni 2025, ketika beberapa pihak di lembaga keamanan Israel dilaporkan menyuarakan kekhawatiran mengenai apakah mereka akan kehabisan rudal pertahanan sebelum Iran menghabiskan persenjataan rudal balistiknya.


    Komentar
    Additional JS