Kebohongan Trump Soal Perundingan dengan Iran Cuma Siasat Turunkan Harga Minyak - Tribunnews
Kebohongan Trump Soal Perundingan dengan Iran Cuma Siasat Turunkan Harga Minyak
Walau harga minyak turun, situasi di Selat Hormuz, jalur yang melayani 20 persen aliran minyak dan gas alam likuid global, masih sangat kritis.
Ringkasan Berita:
- Teheran menilai pernyataan Trump yang mengklaim berunding dengan Iran, hingga buat keputusan menunda serangan ke Iran, hanyalah bentuk perang psikologis
- Pascaklaim sepihak Trump, harga minyak mentah dunia seperti dilaporkan Reuters, langsung merosot sekitar 11 persen pada perdagangan Senin (23/3/2026)
- Penurunan ini memberikan napas lega bagi pasar setelah sebelumnya harga minyak melonjak ke level tertinggi sejak 2022 akibat penutupan Selat Hormuz
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan menarik diri dari ultimatum 48 jam untuk menyerang infrastruktur energi Iran jika tidak membuka Selat Hormuz.
Langkah ini diambil setelah Teheran meladeni ancaman Trump dengan keras. Iran siap membalas menghancurkan seluruh instalasi energi di kawasan Timur Tengah jika aset mereka diserang.
Melalui platform Truth Social, Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan "pembicaraan yang sangat baik dan konstruktif" dalam dua hari terakhir guna mencapai resolusi total atas konflik di Timur Tengah.
Atas dasar klaim tersebut, Trump memerintahkan Pentagon untuk menunda semua rencana serangan militer terhadap jaringan listrik Iran selama lima hari ke depan.
"Saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk menunda setiap dan semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama periode lima hari, tergantung pada keberhasilan diskusi yang sedang berlangsung," tulis Trump.
Namun, klaim adanya negosiasi tersebut langsung dibantah mentah-mentah oleh pihak Iran. Sumber internal di Teheran melalui kantor berita Tasnim menegaskan bahwa tidak ada kontak resmi maupun pembicaraan rahasia antara kedua negara.
Baca juga: Ragam Strategi 12 Negara Asia Menghemat Pemakaian Energi di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Baca juga: Prabowo Wacanakan WFH 1 Hari Seminggu Imbas Konflik AS vs Iran, Bappisus: Sedia Payung sebelum Hujan
"Sejak awal perang hingga hari ini, pesan-pesan memang dikirim ke Teheran melalui mediator, namun jawaban kami jelas, kami akan terus membela diri hingga mencapai deterensi yang diperlukan," ujar sumber tersebut.
Teheran menilai pernyataan Trump hanyalah bentuk perang psikologis.
Sumber tersebut menduga manuver Trump sengaja dilakukan untuk menstabilkan pasar global yang terguncang sekaligus mengulur waktu, untuk mematangkan rencana militer Amerika Serikat yang sebenarnya.
Dan klaim "negosiasi konstruktif" yang digembar-gemborkan Trump, terbukti ampuh meredam gejolak ekonomi global, setidaknya untuk sementara.
Harga minyak mentah dunia seperti dilaporkan Reuters, langsung merosot sekitar 11 persen pada perdagangan Senin (23/3/2026).
Minyak mentah jenis Brent turun drastis sebesar 12,25 dolar AS menjadi 99,94 dolar AS per barel.
Penurunan ini memberikan napas lega bagi pasar setelah sebelumnya harga minyak melonjak ke level tertinggi sejak 2022 akibat penutupan Selat Hormuz.
Walaupun harga minyak turun, situasi di Selat Hormuz, jalur nadi yang melayani 20 persen aliran minyak dan gas alam likuid (LNG) global, masih sangat kritis.
Iran tetap pada pendiriannya untuk tidak membuka blokade Selat Hormuz ke kondisi sebelum perang sebelum tuntutan mereka dipenuhi.
Analis memperkirakan dunia kehilangan pasokan 7 hingga 10 juta barel minyak per hari akibat krisis ini.
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Selat-Hormuz-OK1.jpg)