0
News
    Home Badan Gizi Nasional Berita Featured Makan Bergizi Gratis Pendidikan Spesial

    Kepala BGN: Adanya MBG Dana Pendidikan justru Bertambah - SindoNews

    9 min read

     

    Kepala BGN: Adanya MBG Dana Pendidikan justru Bertambah


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Kamis, 05 Maret 2026 - 15:26 WIB

    Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan program MBG tidak mengusik anggaran pendidikan tahun anggaran 2026. Biaya program MBG 2026 Rp223 triliun diklasifikasikan sebagai anggaran pendidikan. Foto: Dok Sindonews

    JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak mengusik anggaran pendidikan tahun anggaran 2026. Biaya program MBG 2026 sebesar Rp223 triliun diklasifikasikan sebagai anggaran pendidikan.

    “Justru adanya MBG, dana pendidikan bertambah,” ujar Dadan dalam sebuah podcast yang dikutip Kamis (5/3/2026).

    Dia menjelaskan biaya MBG tergolong anggaran pendidikan karena target penerima manfaatnya adalah 59 juta anak sekolah. “Kalau target penerima manfaatnya ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita, klasifikasinya anggaran kesehatan. Sedangkan kalau nanti lansia dan penyandang disabilitas mendapat MBG masuknya anggaran sosial,” ungkapnya.

    Baca juga: MBG Disebut Pangkas Anggaran Pendidikan, Mendikdasmen: Tidak Benar

    Dia mengklaim MBG tidak mengurangi jatah anggaran pendidikan di Kementerian Pendidikan maupun Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

    Pemerintah menganggarkan program MBG tahun ini sebesar Rp335 triliun. Dari jumlah itu, 67 persennya atau Rp223,6 triliun dialokasikan dari anggaran pendidikan, 7 persennya dari anggaran kesehatan (Rp24,7 triliun), 6 persen melalui fungsi ekonomi (Rp19,7 triliun), dan dana cadangan 20 persen (Rp67 triliun).

    “Dana cadangan itu menjadi bagian anggaran Bendahara Umum Negara yang sewaktu-waktu bisa dicairkan atas permintaan presiden,” kata Dadan.

    Diketahui, ada kenaikan anggaran pendidikan yang signifikan dari Rp724 triliun pada 2025, menjadi Rp769 triliun tahun ini. Dari jumlah itu, alokasi anggaran MBG pada 2026 tercatat Rp268 triliun, naik dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp71 triliun. Anggaran MBG tahun ini rencananya dibelanjakan untuk pelaksanaan program (Rp255,5 triliun) dan dukungan manajemen (Rp12,4 triliun).

    Terkait itu, Dadan menyebut anggaran pendidikan dasar, menengah, dan tinggi justru naik. Jumlah penerima manfaat Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah justru naik, begitu pun tunjangan guru dan anggaran pembangunan sekolah rusak. “Jadi anggaran BGN tidak diambil dari anggaran pendidikan baik dasar, menengah, maupun tinggi,” katanya.

    Tak hanya itu, Dadan juga mengklaim MBG berdampak positif bagi kegiatan belajar-mengajar. Setelah ada MBG, tingkat kehadiran anak sekolah naik dari 70% menjadi 95%. “Jadi ada peningkatan partisipasi sekolah, semangat belajarnya juga naik, dan ada rasa senang ada di sekolah karena kehadiran MBG,” ucapnya.

    Keberadaan MBG tak hanya berdampak pada peningkatan gizi anak, tapi juga dalam menggerakkan perekonomian. Hal ini terkait kritik anggaran MBG per porsi sebesar Rp15 ribu, yang Rp5 ribu di antaranya habis untuk operasional dan insentif.

    Sebagian kalangan menganggap yang Rp5 ribu itu adalah sepertiga dari Rp15 ribu, jadi akan ada sebesar Rp111,6 triliun dari Rp335 triliun tidak tepat sasaran, yang sebenarnya bisa dioptimalkan penggunaannya jika dana MBG diserahkan langsung ke orang tua murid maupun kantin sekolah.

    Menurut Dadan, justru dengan sistem yang sekarang yakni pengelolaan oleh SPPG membantu banyak UMKM. MBG bisa membuka lapangan pekerjaan untuk 1,2 juta orang. Angka penjualan kendaraan bermotor juga diklaim Dadan naik setelah MBG beroperasi. Begitu pun nilai tukar petani yang juga naik. “Jadi dari segi ekonomi ini menggerakkan seluruh unsur di masyarakat, terutama yang bergerak di bidang food and beverage,” ujar Dadan.

    Program MBG juga diputuskan tetap berjalan selama Ramadan. Tentunya, MBG selama Ramadan berjalan dengan skema khusus untuk menyesuaikan ibadah puasa, walau tetap dibagikan pada jam belajar di sekolah. Misalnya, dengan memilih menu siap santap yang tahan lama jika dikonsumsi lebih dari 12 jam setelah dibagikan. Misalnya kurma, abon, buah, dan telur rebus.

    Sedangkan untuk daerah yang mayoritas penduduknya tidak menjalankan ibadah puasa, pelayanan MBG berlangsung normal. Skema ini sebenarnya sudah pernah berlaku pada Ramadan tahun lalu. “Kita harus tahu, banyak masyarakat kita yang bersyukur jika ada kiriman makanan (MBG). Jadi meskipun puasa ya orang tetap butuh makan,” ujar Dadan.

    Pelaksanaan MBG selama Ramadan sempat menuai kritikan sebagai penerima manfaat. Salah satunya karena menu yang diberikan tidak sesuai dengan sistem rapel tiga harian baik secara harga maupun kualitas makanannya. Kondisi itu dicurigai terjadi karena ada kecurangan dalam praktik pengadaannya.

    Namun, hal itu disangkal Dadan. Menurut dia, bahan baku menu MBG sifatnya at cost alias sesuai harga modal tanpa ditambahi keuntungan. Sehingga jika ada mitra yang curang atau merekayasa bukti fisik pengadaan pasti akan ketahuan dalam proses audit.

    Dia menuturkan pengawasan dari BGN dan pengecekan oleh auditor cukup untuk mengawal proses MBG berlangsung transparan.

    “Karena sifatnya at cost, kita punya bukti harganya. Kemarin ada kejadian SPPG-nya mark up harga dan dia akhirnya mengembalikan uang senilai miliaran,” ujar Dadan.

    BGN juga tak segan menindak unit SPPG yang ketahuan melakukan pelanggaran. “Dari investigasi, kami akan analisis seberapa berat pelanggaran yang dilakukan. Kalau pelanggarannya krusial, operasionalnya bisa disetop agak lama,” katanya.

    (jon)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Infografis

    10 Kapolda Lulusan Akpol...

    10 Kapolda Lulusan Akpol 1994, Teman Satu Angkatan Kepala BNN


    Komentar
    Additional JS