0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah Mojtaba Khamenei Spesial

    Khomeini Pulang Kampung Naik Boeing 747 Air France, Turun Pesawat Dituntun Pilot - beritajatim

    6 min read

     

    Khomeini Pulang Kampung Naik Boeing 747 Air France, Turun Pesawat Dituntun Pilot

    Surabaya (beritajatim.com) – Ada tiga revolusi, perubahan luar biasa, radikal, dan bersifat menyeluruh, yang mengguncang jagat politik global: Revolusi Prancis pada 1799, revolusi Bolshevik (Revolusi Oktober) 1917 di Rusia yang melahirkan negara Uni Sovyet, dan revolusi Islam di Iran pada Februari 1979 yang melahirkan negara Republik Islam Iran.

    Ketiga revolusi itu digerakkan nilai-nilai filosofis, ideologis, dan nilai-nilai politik berbeda. Revolusi Prancis digerakkan nilai-nilai Liberalisme dan Kapitalisme. Revolusi Bolshevik Sovyet bergerak atas dasar spirit nilai-nilai ideologi Sosialisme-Komunisme. Dan revolusi Islam di Iran oleh nilai-nilai Islamisme, khususnya aliran Syiah, yang dianut mayoritas warga Iran.

    Sejak 28 Februari 2026, negara Iran menjadi perhatian dan diskursus masyarakat global, khususnya rezim politik manapun di dunia. Iran tiba-tiba diserang Amerika Serikat dan Israel, dua negara Sekuler yang lebih dari 47 tahun, tak bersahabat dan bermusuhan dengan rezim politik Iran.

    Sejak revolusi Islam Iran pada Februari 1979 yang dipimpin Ayatullah Ruhullah Khomeini, relasi Amerika Serikat-Israel dengan Iran terputus. Keduanya terlibat permusuhan politik panjang dan beberapa kali terlibat perang secara langsung maupun lewat proksi-proksinya di kawasan Timur Tengah (Middle East). Cukup banyak proksi Iran di kawasan Middle East, seperti Houthi di Yaman, Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon, dan banyak proksi lain di middle east dan Afrika Utara.

    Revolusi Islam Iran 1979 membalik relasi politik, ekonomi, sosial, dan budaya Iran dengan banyak negara sahabatnya di era rezim Shah Reza Pahlavi, rezim politik sekuler yang digulingkan Khomeini dan digantikan dengan rezim Islam yang dipimpin Khomeini hingga sekarang. Fenomena paling menonjol adalah terputusnya relasi diplomatik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, dua negara yang menjadi sahabat dekat Iran di era rezim Shah Reza Pahlavi.

    Artikel ini merupakan flashback (kilas balik) tentang latar belakang, proses, dan realitas politik Iran di saat dan setelah revolusi Islam Februari 1979: Perubahan radikal dan komprehensif yang mengubah sendi-sendi politik, ekonomi, sosial, dan kultural masyarakat Iran secara cepat dan menyeluruh.

    Naik Pesawat 747 Air France

    “Imperialisme bukanlah pendudukan politik dan militer belaka. Itu juga sebuah penjajahan cara berpikir dan cara hidup yang datang dari luar, terkadang secara halus dan terlihat, merasuki suatu bangsa,” kata Fairus, orang warga Iran sebagaimana dikutip dalam buku Dr Nasir Tamara (2017) berjudul: Revolusi Iran.

    Doktor (Dr) Nasir Tamara adalah seorang wartawan Indonesia yang mengikuti dan meliput langsung jalannya revolusi Islam Iran dari dekat pada Februari 1979. Dia mengikuti rombongan dan terbang satu pesawat Boeing 747 Air France yang membawa Khomeini dan para pembantu dekatnya dari Paris ke Teheran di bulan Februari 1979.

    “Saya telah mengikuti kegiatan Ayatullah Ruhullah Khomeini dan pembantu-pembantunya ketika mereka berada di pengasingan di Neauphle-le-Chateau di Prancis di akhir tahun 1978. Saya juga mengikuti penerbangan satu pesawat dengan Khomeini ketika tokoh revolusi ini pulang ke negerinya yang telah ditinggalkannya selama 15 tahun. Saya menyaksikan langsung perubahan kekuasaan dari bentuk kerajaan yang berusia tak kurang 3000 tahun ke sebuah Republik Islam,” tulis Nasir Tamara.

    Foto BeritaJatim.com
    Ainur Rohim, Penanggung Jawab beritajatim.com dan Alumni Magister Ilmu Politik Fisip Unair.

    Sebelum menjalani hidup di pengasingan di Prancis, Khomeini pernah hidup dalam pengasingan di Irak. Saat rezim politik Irak dipimpin Saddam Husain, pimpinan Partai Baath yang beraliran Sunni, Khomeini mengalami persona non grata. Dia diminta keluar dari Irak dan harus mencari tempat hidup baru di negara lain. Prancis menyediakan tempat pengasingan bagi Khomeini. Dari bumi Prancis, perlawanan politik Khomeini terhadap rezim Shah Reza Pahlavi digelorakan dan mencapai puncaknya.

    Pada tanggal 31 Januari 1979, tulis Nasir Tamara, pukul 20.00, bertepatan dengan hari Rabu, menjadi tempo yang menegangkan bagi Khomeini, pembantu, dan para pengikutnya. Termasuk kalangan wartawan yang selama ini mengikuti kegiatan Khomeini selama dalam pengasingan di Prancis. Sebab, pada jam tersebut bakal diputuskan apakah Khomeini bakal jadi terbang ke Iran atau tidak.

    “Jam 21.00, Shadeq Quthbzadeh, seorang pembantu Khomeini, mengumumkan bahwa keberangkatan sudah pasti. Nama 150 wartawan ditambah 50 orang Iran yang naik pesawat Boeing 747 Air France yang disebut oleh pihak Khomeini sebagai ‘penerbangan revolusi’ diumumkan,” tulis Nasir Tamara.

    Pada tanggal 31 Januari 1978, di Bandar Udara Internasional Charles De Gaulle Paris, sekitar pukul 24.00, tak kurang sebanyak 1.000 warga Iran di Prancis memadati bandar udara. Tujuannya, menghantarkan dan memberikan dukungan politik kepada Khomeini yang akan terbang ke Teheran untuk memimpin revolusi Islam. Khomeini, ulama Syiah yang sangat dihormati, tampak tenang dan terharu dengan dukungan politik yang diberikan warga Iran di pengasingan. Khomeini sempat menyapa warga Iran itu sebelum melangkah mantap dan tenang ke tangga pesawat Boeing 747 Air France yang akan membawanya pulang kampung ke Teheran Iran.

    “Di atas pesawat yang membawa kami ke Teheran didapat keterangan bahwa kapal terbang ini disewa dengan harga USD 130.000 dari Air France. Kabarnya, Perdana Menteri Iran Syapur Bakhtiar sudah berjanji tidak akan menembak pesawat ini. Perjanjian itu dibuat setelah perundingan selama satu minggu. Mula-mula Bakhtiar menolak, akhirnya setuju,” tegas Nasir Tamara dalam bukunya.

    Penerbangan dari Paris Prancis ke Teheran Iran sebenarnya bisa ditempuh dalam tempo 4 jam. Saat pesawat Air France ini akan mendarat, di ketinggian 500 meter dari landasan bandar udara Teheran, otoritas bandar udara belum mengizinkan. Air France sempat berputar-putar di atas udara Teheran sekitar sejam sebelum pesawat ini diizinkan mendarat di bandar udara.

    Selama dalam penerbangan, tepatnya sekitar tiga jam setelah penerbangan berlangsung, Khomeini turun dari ruang tingkat satu, di dekat kamar pilot, di mana sebuah kamar darurat dibuatkan untuknya. Wajah Khomeini tampak tenang, tanpa emosi.

    “Takutkah ia seperti halnya kami? Saya teringat akan jawabannya ketika Khomeini ditanya wartawan tentang hal itu. ‘Tidak, saya tidak takut mati. Hanya Tuhan yang menentukan nasib manusia’,” tegas Khomeini.

    “Mula-mula yang turun setelah pesawat mendarat adalah Dr Ibrahim Yazdi, Abolhasan Bani Shadr, dan Shadeq Quthzadeh. Beberapa saat kemudian, Khomeini turun dengan anggun seperti seorang pemenang, tidak kelihatan angkuh sedikitpun. Ia digandeng pilot pesawat dan seorang anak laki-lakinya,” tulis Nasir Tamara. [air/bersambung]

    Ainur Rohim,
    Dirut beritajatim.com, Alumni Program Magister Ilmu Politik FISIP Unair

    Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita

    Komentar
    Additional JS