Tradisi Barong Ider Bumi Banyuwangi Digelar, Ritual Tolak Bala Suku Osing Sejak 1840 - Berita Jatim
Banyuwangi (beritajatim.com) – Tepat pada 2 Syawal atau hari kedua Hari Raya Idulfitri, ritual adat Barong Ider Bumi kembali digelar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
Sejak pagi, ruas jalan di Desa Kemiren telah dipadati pengunjung yang antusias menyaksikan tradisi sakral tersebut. Bagi masyarakat Suku Osing, Barong Ider Bumi bukan sekadar pertunjukan, melainkan simbol perlindungan sekaligus ungkapan rasa syukur yang telah mengakar selama ratusan tahun.
Tokoh masyarakat adat Desa Kemiren, Suhaimi, menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki sejarah panjang sejak 1840-an. Kala itu, desa dilanda wabah mematikan dan gagal panen akibat serangan hama yang meluas.
“Kemudian muncul masa paceklik yang sangat panjang. Sesepuh desa saat itu meminta petunjuk kepada Mbah Buyut Cili yang dipercaya sebagai leluhur kami. Pencerahan datang melalui mimpi, di mana warga diminta mengarak Barong berkeliling kampung untuk mengusir kemalangan,” ungkapnya.
Masyarakat Kemiren meyakini sosok Barong sebagai makhluk bermahkota dengan sayap megah yang memiliki kekuatan menjaga desa dari marabahaya. Sebelum arak-arakan dimulai, para tokoh adat terlebih dahulu memanjatkan doa di petilasan Buyut Cili sebagai bentuk penghormatan dan permohonan izin.
Arak-arakan Barong kemudian bergerak dari sisi timur menuju barat desa dengan jarak sekitar dua kilometer. Sepanjang perjalanan, tokoh adat melakukan tradisi sembur uthik-uthik dengan menebarkan sekitar 999 koin logam yang dicampur beras kuning dan bunga.
“Aksi ini menjadi rebutan warga karena simbolis sebagai bentuk membuang sial,” jelas Suhaimi.
Sebagai penutup, rangkaian ritual diakhiri dengan selamatan kampung secara massal. Tradisi ini semakin lengkap dengan sajian Pecel Pitik, kuliner khas Banyuwangi yang menjadi hidangan wajib dalam setiap ritual sakral di Desa Kemiren.
Pecel pitik berbahan dasar ayam kampung muda yang dipanggang, kemudian disuwir dan dicampur bumbu parutan kelapa muda dengan rempah khas seperti cabai rawit, terasi, dan daun jeruk.
“Jamuan ini menjadi penanda berakhirnya ritual sekaligus mempererat tali persaudaraan antarwarga,” tuturnya.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Hartono, yang hadir mewakili Bupati Banyuwangi, menyampaikan apresiasinya atas kelancaran acara tersebut. Ia menyebut Barong Ider Bumi kini telah masuk dalam kalender Banyuwangi Attraction 2026 sebagai salah satu magnet wisata budaya unggulan.
“Terima kasih kepada masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan acara ini. Tradisi ini terbukti mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah,” pungkasnya. [ayu/but]