0
News
    Home Berita Featured Spesial Sritex Sukoharjo

    Kisah Eks Karyawan Sritex Sukoharjo, Usia Tak Muda Lagi, Kini Jualan Asongan Demi Bertahan Hidup - Tribunnews

    7 min read

     

    Kisah Eks Karyawan Sritex Sukoharjo, Usia Tak Muda Lagi, Kini Jualan Asongan Demi Bertahan Hidup

    Untung Jokosuwarso (56), salah satu mantan karyawan ex PT Sritex kini harus berjualan asongan di rumah demi menyambung hidup.


    Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

    TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Sudah setahun, ribuan karyawan PT Sri Rejeji Isman Tbk (Sritex) di-PHK.

    Total ada sebanyak 8.475 keryawan yang di PHK sejak perusahaan itu dinyatakan pailit. 

    Baca juga: 50 Eks Karyawan Sritex Sukoharjo Berdoa di Depan Pabrik Pasca Setahun di PHK, Tagih Pesangon dan Hak

    Baca juga: Sebulan Bolos, Seorang Polisi Karanganyar Berpangkat Bripka Dipecat: Termasuk Pelanggaran Berat

    Gelombang PHK tersebut menjadi pukulan berat bagi ribuan buruh yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup di perusahaan tekstil raksasa itu.

    Kini, setahun berselang, dampaknya masih sangat dirasakan para eks karyawan.

    Salah satunya Untung Jokosuwarso (56), yang kini harus berjualan asongan di rumah demi menyambung hidup.

    Selama 35 tahun, Jokosuwarso bekerja di bagian finishing.

    Puluhan tahun hidupnya dihabiskan di dalam pabrik, hingga akhirnya badai PHK memaksanya berhenti.

    Di usia yang tak lagi muda, ia harus memulai segalanya dari nol.

    Tak banyak, namun cukup untuk berharap ada pembeli yang datang silih berganti.

    “Untuk usia produktif mungkin mereka masih bisa mencari pekerjaan. Tetapi usia 50 tahun ke atas seperti saya ini ya mau tidak mau harus banting tulang dan berusaha asongan bagaimana caranya kita masih bisa bertahan hidup,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).

    Setiap hari ia menggantungkan penghasilan dari jualan kecil-kecilan tersebut.

    Menurutnya, tidak sedikit rekan sesama eks buruh yang mengalami kondisi serupa.

    Bahkan ada yang terpaksa menjual aset pribadi seperti sepeda motor demi memenuhi kebutuhan hidup, terlebih bagi mereka yang masih memiliki tanggungan cicilan rumah maupun pinjaman bank.

    “Memang ada sebagian teman-teman kita yang jual aset pribadinya seperti sepeda motor untuk kebutuhan hidup. Apalagi yang masih ada tanggungan seperti cicilan rumah atau bank,” tuturnya.

    AKSI DOA BERSAMA - Sebanyak 50 orang yang tergabung dalam Solidaritas Eks Karyawan Sritex menggelar aksi doa bersama di depan gerbang pintu masuk gedung PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Sabtu (28/2/2026). Aksi tersebut dilakukan untuk memperingati satu tahun pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang mereka alami. Di depan pabrik, para eks karyawan membentangkan spanduk bertuliskan, “Satu Tahun Sritex Tumbang, Satu Tahun Hak Tak Kunjung Datang.” 
    AKSI DOA BERSAMA - Sebanyak 50 orang yang tergabung dalam Solidaritas Eks Karyawan Sritex menggelar aksi doa bersama di depan gerbang pintu masuk gedung PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Sabtu (28/2/2026). Aksi tersebut dilakukan untuk memperingati satu tahun pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang mereka alami. Di depan pabrik, para eks karyawan membentangkan spanduk bertuliskan, “Satu Tahun Sritex Tumbang, Satu Tahun Hak Tak Kunjung Datang.”  (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)

    Berharap Pesangon Segera Cair

    Di tengah ketidakpastian tersebut, para eks karyawan masih menunggu kejelasan pembayaran hak-hak mereka.

    Untung Jokosuwarso berharap proses pemberesan aset perusahaan segera rampung agar pesangon bisa dibayarkan.

    “Artinya pesangon ini sangat dibutuhkan oleh eks karyawan. Apalagi ini bulan Ramadan, kebutuhan anak-anak, kebutuhan hari raya,” katanya.

    Bagi Untung, pesangon dan THR yang belum diberikan bukan sekadar angka.

    Itu adalah harapan untuk menutup kebutuhan keluarga, menyambut Lebaran dengan lebih layak, serta memastikan dapur tetap mengepul.

    Meski keadaan memaksanya berjuang lebih keras di usia senja, ia tetap berusaha tegar. 

    Doa Bersama untuk Ingatkan Kurator 

    Sebanyak 50 orang yang tergabung dalam Solidaritas Eks Karyawan Sritex menggelar aksi doa bersama di depan gerbang pintu masuk gedung PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Sabtu (28/2/2026).

    Aksi tersebut dilakukan untuk memperingati satu tahun pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang mereka alami, sekaligus mengingatkan pihak kurator agar segera membayarkan hak-hak buruh yang hingga kini belum diterima.

    Di depan pabrik, para eks karyawan membentangkan spanduk bertuliskan, “Satu Tahun Sritex Tumbang, Satu Tahun Hak Tak Kunjung Datang.” 

    Suasana aksi berlangsung tertib dengan doa bersama sebagai bentuk harapan agar persoalan hak pekerja segera terselesaikan.

    “Pada hari ini genap satu tahun kami menjalani PHK. Ini menjadi pengingat bahwa kami pernah berada di dalam pabrik dan sekarang kami di-PHK,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).

    Ia menegaskan, kedatangan mereka bukan untuk membuat kericuhan, melainkan untuk mengingatkan kurator agar segera membayarkan hak-hak pekerja yang sudah setahun dinanti dengan penuh ketidakpastian.

    “Kami hanya mengingatkan kepada kurator, segerakanlah pembayaran hak-hak kami karena sudah setahun lamanya kami menunggu,” tegasnya.

    Selain itu, pihaknya juga berharap adanya transparansi informasi terkait progres pemberesan aset perusahaan. 

    Menurut Agus, hingga saat ini telah dilakukan dua kali lelang kendaraan, namun hasilnya dinilai belum signifikan.

    Baca juga: Ketidakjelasan Pesangon Bikin Eks Karyawan Sritex Sukoharjo Harus Jual Barang Berharga Hingga Motor

    “Lelang pertama hanya laku lima unit, lelang kedua kemarin hanya enam unit dari 72 unit yang dilelang. Ini sangat mengecewakan kami,” ungkapnya.

    Para eks karyawan kini menunggu pelaksanaan lelang ketiga dengan harapan hasilnya lebih maksimal dibandingkan dua lelang sebelumnya. 

    Mereka berharap dana hasil lelang tersebut dapat segera digunakan untuk membayarkan hak-hak buruh yang masih tertunda. (*)

     


    Komentar
    Additional JS