Luas Sawah Bali Menyusut 3 Ribu Hektare, Koster Percepat Sistem Organik - detik
Luas Sawah Bali Menyusut 3 Ribu Hektare, Koster Percepat Sistem Organik
Ahmad Firizqi Irwan - detikBali
Foto: Rapat Paripurna ke-28 DPRD Provinsi Bali, Rabu (25/3/2026). (Ahmad Firizqi Irwan/detikBali)
Gubernur Bali Wayan Koster membeberkan luas sawah di Bali yang terus menyusut. Hampir satu windu, luas sawah di Bali berkurang sekitar 3 ribu hektare. Untuk memaksimalkan lahan yang ada, Koster akan mempercepat transformasi sistem pertanian organik.
"Kita akan mempercepat pelaksanaan sistem pertanian organik," ujar Koster dalam pidatonya dalam Rapat Paripurna ke-28 di Gedung Utama DPRD Provinsi Bali, Rabu (25/3/2026).
Menurut Koster, saat awal ia memimpin Bali pada 2018, ada sekitar 71 ribu hektare sawah. Namun, sekarang menyusut tinggal 68 ribu hektare.
"Dulu waktu saya baru pertama (menjadi Gubernur), itu sekitar 71 ribu hektare, sekarang tinggal 68 ribu hektare. Organik sekitar 44 ribu atau sekitar 65 persen," jelasnya.
Koster sudah menugaskan Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Bali untuk mengatur kembali sistem transformasi pertanian organik. Menurutnya, Bali mendapat dukungan penuh Kementerian Pertanian (Kementan) karena menjadi satu-satunya provinsi yang punya peraturan daerah tentang sistem pertanian organik.
"Provinsi Bali, satu-satunya provinsi yang memiliki peraturan daerah tentang sistem pertanian organik, sehingga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pertanian," terang politikus PDIP itu.
"Jadi harus selesai paling lambat pada tahun 2028. Pertanian organik semuanya sudah tuntas di semua kabupaten dan kota," imbuhnya.
Tak hanya itu, ia meminta semua agar memperluas penerapan Peraturan Provinsi Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali.
Koster juga meminta agar semua pihak bisa mengendalikan alih fungsi lahan produktif sesuai dengan peta yang telah dikeluarkan. Ada juga percepatan program budi daya pohon kelapa sebagai sumber sarana upacara dan produksi tuak, minuman tradisional Bali.
Ia meminta agar semua pihak baik pelaku usaha, perusahaan, hotel, restoran, hingga mal untuk menggunakan produk lokal Bali. "Harus menggunakan produk lokal Bali untuk memutar ekonomi masyarakat Bali, agar berkontribusi meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat Bali," tegasnya.
"Jangan enak-enak sendiri, mencari untung sendiri, melepaskan diri dari keterikatan dengan masyarakat Bali. Itu bukan sesuatu yang kita harapkan. Kita harus membangun sama-sama, berkolaborasi agar saling memberi manfaat satu sama lain dan bisa eksis survive ke depan," pungkas Koster.