Netlanyahu Ungkap Kerja Sama Dengan Negara Teluk Serang Iran - Rep
Netlanyahu Ungkap Kerja Sama Dengan Negara Teluk Serang Iran
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk pertama kalinya mengakui serangan negaranya bersama Amerika Serikat (AS) menggandeng negara-negara regional dalam serangan ke Iran. Serangan ke Iran, menurutnya akan membuka babak baru diplomasi Israel dengan negara sekitar.
“Saat ini, saya dan tim sedang menjalin aliansi tambahan dengan negara-negara di kawasan ini – aliansi yang beberapa minggu lalu tampaknya tidak terbayangkan,” ujarnya dalam keterangan pers semalam, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Pemerintahan pertama Presiden AS Donald Trump menjadi perantara perjanjian normalisasi Abraham Accords antara Israel dan beberapa negara Arab. Telah berulang kali dikatakan oleh Netanyahu dan Trump bahwa mereka berharap dapat memperluas perjanjian tersebut sebagai bagian dari penataan kembali regional yang lebih luas.
Serangan AS ke Iran memang dimungkinkan dengan keberadaan pangkalan militer AS di negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Saudi, Qatar, dan Irak. Pangkalan-pangkalan itu kemudian jadi sasaran serangan balasan Iran.
Baca Juga :
Israel Bunuh 687 Orang di LebanonNetanyahu dalam keterangannya juga memuji hubungannya dengan Trump di tengah kampanye pemboman AS-Israel yang sedang berlangsung di Iran.

"Kami telah menciptakan aliansi yang berbeda dengan Amerika Serikat sebelumnya – aliansi dengan teman baik kami, teman pribadi saya, Presiden Trump. Kami berbicara hampir setiap hari. Kami berbicara dengan bebas, bertukar ide dan saran, dan membuat keputusan bersama," kata Netanyahu dalam konferensi persnya.
Dia mengatakan bahwa dia dan Trump telah berbicara beberapa waktu yang lalu, dan presiden mengatakan kepadanya,
"'Hubungan kami seratus kali lebih kuat daripada hubungan apa pun yang pernah ada antara presiden Amerika dan perdana menteri Israel. Kami tidak hanya memikirkan negara kami, atau hanya tentang generasi ini. Kami memikirkan generasi mendatang – tentang masa depan umat manusia.'”
Berkebalikan dengan yang ia katakan, kepemimpinan Netanyahu bersama Trump belakangan jadi kekuatan perusak stabilitas terbesar di dunia. Secara total, puluhan ribu orang tak bersalah tewas dalam serangan-serangan yang mereka perintahkan di Palestina, Lebanon, Yaman, dan kini Iran.
Halaman 2 / 2
Pemimpin spiritual tertinggi Iran Mojtaba Khamanei bersuara lantang. Dalam pernyataan tertulis yang dibacakan di televisi pemerintah, pemimpin tertinggi Iran mengatakan negara itu akan mendapatkan kompensasi dari musuh.
"Jika mereka menolak, kami akan mengambil aset mereka sejauh yang kami anggap pantas, dan jika itu tidak memungkinkan, kami akan menghancurkan aset mereka dengan jumlah yang sama," katanya dalam pernyataan tersebut.
Pernyataan ini merupakan statemen pertama Mojtaba usai diangkat menggantikan sang ayah yang terbunuh dalam serangan Udara AS.
Mojtaba Khamenei juga meminta semua pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut harus segera ditutup, atau pangkalan-pangkalan tersebut akan terus diserang.

Di sisi lain, ia menekankan Iran menginginkan hubungan baik dengan negara-negara tetangganya. Teheran hanya menargetkan pangkalan-pangkalan AS di wilayah mereka, dan akan terus melakukannya.
Rob Geist Pinfold, seorang dosen keamanan internasional di King’s College London, mengatakan pernyataan publik pertama dari pemimpin tertinggi Iran yang baru merupakan penegasan kembali posisi Iran yang sudah mapan.
Ia mengatakan kepada Aljazirah bahwa pesan tersebut sama dengan pengulangan garis standar Iran.
Pesan utamanya adalah bahwa mereka tidak memiliki konflik dengan negara-negara GCC. Namun Iran tetap menyerang pangkalan AS di negara-negara tersebut. Iran tak akan mundur dan meminta Selat Hormuz tetap tertutup. Pangkalan AS di wilayah tersebut juga harus ditutup.
Ia mengatakan bahwa alih-alih apa yang mungkin diharapkan oleh pemerintahan Trump – semacam perubahan retorika dari pemimpin tertinggi yang baru – apa yang sebenarnya didengar di sini adalah hal yang sama.