0
News
    Home Berita Featured Spesial

    Pelajar SMP di Ogan Ilir Tewas Diduga Dianiaya Senior Silat, Saksi Akui Ada Pukulan Keras saat Latihan - Merdeka

    3 min read

     

    Pelajar SMP di Ogan Ilir Tewas Diduga Dianiaya Senior Silat, Saksi Akui Ada Pukulan Keras saat Latihan

    Kepolisian masih melakukan pendalaman untuk menentukan kasus ini.

    Pelajar SMP di Ogan Ilir Tewas Diduga Dianiaya Senior Silat, Saksi Akui Ada Pukulan Keras saat Latihan

    Polisi memeriksa tiga saksi terkait laporan dugaan penganiayaan saat latihan silat yang menyebut seorang pelajar SMP inisial AS (15) meninggal dunia. Penyidik masih melakukan pendalaman untuk menentukan kasus ini.

    Tiga saksi adalah dua rekan korban sesama anggota perguruan silat dan seorang bidan inisial WW yang pertama kali menangani korban. Pemeriksaan dua saksi, NP dan DK, didampingi orangtua masing-masing karena berstatus anak di bawah umur.

    Kasi Humas Polres Ogan Ilir AKP Herman Ansori mengungkapkan, pemeriksaan para saksi dilakukan setelah laporan masuk disertai dengan pengambilan keterangan terhadap orangtua korban selaku pelapor. Penyidik masih mengembangkan kasus ini dengan memeriksa saksi-saksi lain.

    "Ya, sudah tiga saksi yang diperiksa, dua orang di antaranya teman seperguruan dengan korban," ujar Herman, Kamis (5/3).

    Pengakuan Saksi


    Kepada penyidik, saksi NP mengakui adanya tindakan fisik terhadap korban saat latihan yang disebut bagian dari metode di perguruan mereka. NP menyaksikan korban dan beberapa anggota perguruan disuruh menahan nafas kemudian dipukul di leher, tangan, dan bahu.

    "Memang ada begitu (dipukul), saya juga kena pukul, tapi AS lebih kuat dipukulnya dan lebih parah," ujar NP.

    Kronologi Pelajar Meninggal Diduga Disiksa Senior

    Diberitakan sebelumnya, seorang pelajar, AS (15), tewas diduga akibat disiksa senior di perguruan silat. Atas kematian tak wajar, keluarga melapor ke polisi.

    Korban awalnya pamit untuk berlatih silat di Rantau Alai, Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Sabtu (28/2). Saat pergi dia membawa sebatang tebu seperti yang dipinta seniornya.

    Begitu teman-temannya sudah pulang, korban tak ada kabar yang membuat keluarga panik. Tak lama mereka dikabarkan bahwa korban dilarikan ke rumah sakit.

    Keluarga tak menyangka korban yang saat pamit dalam keadaan sehat malah masuk rumah sakit. Kondisi korban makin kritis dan meninggal dunia sehari kemudian, Minggu (1/3).

    Orangtua korban, Helmi mengungkapkan, kecurigaan adanya penyiksaan muncul ketika dokter menyebut korban memgalami banyak luka lebam, seperti di leher bagian belakang, punggung, dan paha. Ada juga tulang retak pada lengan dan punggung.

    "Dokter yang bilang begitu, buktinya ada, ada rontgennya juga," ungkap Helmi, Rabu (4/3).

    Teranyar, keluarga mendapat informasi bahwa korban sempat mengalami penyiksaan saat berlatih silat. Karena itulah keluarga melaporkan kasus ini ke polisi.


    Komentar
    Additional JS