Pengamat UI: 3 Hal yang Jadi Indikasi AS Tak akan Kerahkan Pasukan via Darat ke Iran - Tribunnews
Pengamat UI: 3 Hal yang Jadi Indikasi AS Tak akan Kerahkan Pasukan via Darat ke Iran
Guru Besar HI dari UI Hikmahanto Juwana turut menyoroti, ada tiga hal yang mengindikasikan bahwa pengerahan pasukan darat AS tidak akan terja
Ringkasan Berita:
- Operasi militer AS-Israel terhadap Iran terus berlanjut, dan Pentagon sempat mempertimbangkan pengiriman 10.000 pasukan darat ke Timur Tengah.
- Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bilang bahwa operasi militer AS ke Iran akan tercapai semua tujuannya tanpa menggunakan pasukan darat.
- Guru Besar HI Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana turut menyoroti, ada tiga hal yang mengindikasikan bahwa pengerahan pasukan darat AS tidak akan terjadi.
TRIBUNNEWS.COM - Empat pekan berlalu, serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran masih berlangsung sejak agresi militer yang dinamai Operation Epic Fury itu dimulai Sabtu (28/2/2026).
Iran pun gencar melaksanakan serangan balasan.
Sementara itu, foxnews.com mewartakan bahwa Pentagon sedang mempertimbangkan untuk mengirim 10.000 pasukan darat ke Timur Tengah seiring berlanjutnya Operation Epic Fury melawan Iran, kata seorang pejabat senior pertahanan AS kepada The Wall Street Journal.
Angka ini akan menjadi tambahan dari 1.500 pasukan yang dimobilisasi dari Divisi Lintas Udara ke-82 (82nd Airborne Division).
Akan tetapi, pada Jumat (27/3/2026), Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bilang bahwa operasi militer yang dilakukan AS ke Iran akan selesai dalam beberapa pekan, bukan beberapa bulan, dan Washington dapat mencapai semua tujuannya tanpa menggunakan pasukan darat, dikutip dari france24.com.
Guru Besar Hukum Internasional (HI) Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana turut menyoroti, ada tiga hal yang mengindikasikan bahwa pengerahan pasukan darat AS tidak akan terjadi.
Pertama, kata Hikmahanto, AS sama saja mengirimkan anak muda ke medan pembunuhan.
Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh mantan Director of the National Counterterrorism Center (NCTC) Joe Kent yang mundur awal Maret 2026 lalu.
"Ada tiga hal yang memang bisa menjadi basis untuk mengatakan pasukan darat itu tidak akan diterjunkan," ucap Hikmahanto dalam program Sapa Indonesia Malam di kanal YouTube KompasTV, Sabtu (28/7/2026).
"Pertama adalah apa yang disampaikan oleh mantan Direktur Counterterrorism yang mengatakan bahwa tidak seharusnya Amerika Serikat mengirim anak-anak muda ke perang Iran karena ini akan menjadi killing field."
"Itu sudah disampaikan oleh Joe Kent."
Baca juga: 4 Hal yang Disebut Buat Iran Kecewa Sekali kepada Indonesia: Kapal Arman hingga BoP
Kedua, Iran sudah bersiap-siap menghadapi kemungkinan serangan via darat oleh pasukan AS.
Bahkan, menurut Hikmahanto, jumlah prajurit yang disiapkan Iran mencapai 1 juta orang.
"Yang kedua adalah Iran sekarang ini sudah memberikan impresi bahwa mereka akan menghadapi serangan darat kalau Amerika Serikat akan mengirimnya," ucap Hikmahanto.
"Bahkan mereka sudah mengatakan akan ada 1 juta orang, kalau saya tidak salah, yang akan disiapkan untuk menghadapi tentara-tentara dari Amerika Serikat."
"Yang pasti adalah tidak mungkin tentara Amerika Serikat itu akan diterjunkan ke Iran. Kalau jumlahnya cuma kemarin 2.500, airborne-nya juga 1.000 orang. Jumlah itu sangat kecil."
Ketiga, Hikmahanto menilai, AS lebih mungkin menerjunkan pasukan ke titik-titik yang spesifik saja.
Misalnya, di Pulau Kharg atau Pulau Abu Musa, untuk mengendalikan Selat Hormuz.
Meski begitu, Hikmahanto juga yakin, Iran pasti mempersiapkan diri untuk kemungkinan ini meski belum diketahui berapa pasukan yang akan dikerahkan Negeri Para Mullah tersebut.
"Kemudian yang ketiga itu, kemungkinan besar ini akan diterjunkan ke tempat-tempat tertentu, misalnya di Kharg Island, di Abu Musa untuk mengendalikan Selat Hormuz," jelas Hikmahanto.
"Tapi kita juga tidak tahu berapa pasukan darat dari Iran yang akan dikirim ke sana."
Hikmahanto juga memaparkan, ada kemungkinan AS akan melakukan operasi yang sama seperti yang dilakukannya terhadap Venezuela pada awal Januari 2026 lalu.
Bisa jadi, kata akademisi yang meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari Nottingham University pada 1997 itu, AS hanya akan menerjunkan pasukan darat di titik-titik tertentu yang dijadikan target.
Seperti, fasilitas nuklir atau bunker tempat para pemimpin Iran diduga bersembunyi.
Kata Prof. Hik, sapaan akrab Hikmahanto Juwana, pengerahan pasukan darat tetap diperlukan untuk menangkap target, yang tidak bisa dilakukan dari serangan udara.
"Juga, mungkin ada yang mengatakan bahwa ini akan diterjunkan sama seperti pada waktu Venezuela; di target-target tertentu saja, misalnya di nuklir, di tempat-tempat di mana para pemimpin Iran bersembunyi, di bunker-bunker," papar Hikmahanto.
"Karena kalau misalnya dilakukan serangan udara, walaupun serangan itu ada presisinya, tidak mungkin bisa menangkap mereka dan kemudian membuat mereka mengatakan bahwa sebaiknya menyerah."
"Nah, jadi tiga indikasi itu sebenarnya menurut saya mungkin ada benarnya Marco Rubio mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan mengirim pasukan daratnya."
Satu Bulan Serangan AS-Israel, 1.937 Orang Tewas di Iran
Satu bulan setelah perang disulut oleh serangan AS-Israel ke Iran dimulai dan mengubah wajah Timur Tengah, sejumlah dampak signifikan kini dirasakan di seluruh dunia.
Harga minyak melonjak, potensi krisis energi, kekerasan meningkat di seluruh wilayah, dan upaya untuk mencapai jalan keluar diplomatik diimbangi oleh retorika agresif dan ancaman eskalasi lebih lanjut dari kedua belah pihak.
Para ahli mengatakan 28 hari terakhir juga telah membawa realitas politik, keamanan, dan ekonomi baru. Banyak pemimpin tingkat atas di Iran yang tewas, sedangkan AS kesulitan menggalang sekutu untuk membantunya.
Jumlah korban tewas di Iran mencapai lebih dari 1.937 orang, dikutip dari Al Jazeera.
(Tribunnews.com/Rizki A.)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KEMUNGKINAN-INVASI-DARAT-Proses-pendaratan-pasukan-amfibi-Amerika-Serikat-di-Iran.jpg)