0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Inggris Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Pertama Kali, Bomber B-1 AS Lepas Landas dari Inggris Menuju Iran - Tribunnews

    14 min read

      

    Pertama Kali, Bomber B-1 AS Lepas Landas dari Inggris Menuju Iran

    Pertama kalinya, bomber B-1 AS lepas landas dari pangkalan militer Fairford di Inggris menuju Iran untuk meluncurkan serangan di wilayah tersebut.


    Ringkasan Berita:
    • Pesawat pembom strategis AS, B-1 Lancer, lepas landas dari pangkalan Fairford di Inggris menuju Timur Tengah untuk mendukung serangan AS terhadap Iran.
    • Sejak menyerang Iran, AS meningkatkan kehadiran bomber di sejumlah pangkalan militer di luar negeri.
    • Setidaknya, 3 pesawat pembom B-52 AS dilaporkan mendarat di Inggris minggu ini.
    • Inggris sebelumnya menolak penggunaan pangkalan militernya untuk serangan terhadap Iran.

    TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) mengerahkan lebih banyak pesawat pembom strategis dari berbagai pangkalan militernya di sejumlah negara untuk mendukung serangan terhadap Iran.

    Untuk pertama kalinya, pesawat pembom strategis B-1 lepas landas dari pangkalan Fairford di Inggris guna melancarkan serangan jauh ke dalam wilayah Iran.

    Pesawat pembom B-1 diketahui mampu membawa hingga sekitar 34 ton persenjataan.

    Dalam perjalanannya, jalur penerbangan dari Inggris jauh lebih pendek daripada jalur penerbangan dari Amerika Serikat.

    Hal ini mengindikasikan peningkatan kekuatan udara dan intensifikasi operasi pengeboman oleh pesawat pengebom berat dalam waktu dekat, lapor BBC.

    Bomber B-1 Lancer

    Sebelumnya pada 2 Maret, AS mengonfirmasi militernya menggunakan pesawat pembom strategis B-1 Lancer untuk menyerang target jauh di dalam Iran dengan dalih menyerang fasilitas rudal Iran

    Pesawat-pesawat ini paling cocok untuk misi tersebut, mengingat kemampuannya untuk membawa bom penembus lapis baja yang paling ampuh.

    Pesawat pembom B-1 Lancer adalah senjata yang tangguh dengan panjang 45 meter dan bentang sayap 41 meter, pesawat ini dapat membawa hingga 57 ton bahan peledak, rudal presisi, dan bom penghancur bunker, menjadikannya salah satu mesin perang paling ampuh di udara. 

    Pesawat-pesawat pembom ini dikerahkan dengan kekuatan luar biasa untuk menyerang fasilitas produksi dan benteng bawah tanah Iran, menggunakan kemampuan penetrasi dan presisi yang luar biasa. 

    Persenjataan yang ampuh ini memungkinkan penghancuran industri rudal Iran secara tepat dan terarah.

    Baca juga: Iran Dituduh Pasang Ranjau di Selat Hormuz, Trump: Singkirkan atau Ada Konsekuensi Berat

    AS Kerahkan Lebih Banyak Bomber ke Inggris

    Tiga pesawat pembom B-52 milik Amerika Serikat dilaporkan mendarat di Inggris di tengah perang AS-Israel yang sedang berlangsung melawan Iran.

    Pesawat-pesawat tersebut tiba di pangkalan Royal Air Force (RAF) Fairford di Gloucestershire, Inggris Barat Daya, dan mampu meluncurkan rudal dengan jangkauan lebih dari 1.500 mil, seperti dilaporkan BBC pada Senin (9/3/2026).

    Kedatangan tiga pesawat B-52 itu menambah armada pesawat militer AS yang sudah ditempatkan di pangkalan tersebut. 

    Sebelumnya, satu pesawat pembom B-1 Lancer tiba pada Jumat (6/3/2026) malam, disusul dua pesawat lainnya pada Sabtu (7/3/2026).

    Setelah memberikan izin kepada AS untuk menggunakan RAF Fairford di Gloucestershire dan Diego Garcia di Samudra Hindia, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan kepada anggota parlemen bahwa pemerintah "tidak percaya pada perubahan rezim dari udara."

    Ini merupakan pertama kalinya pesawat B-52 terlihat di Inggris sejak perang AS-Israel melawan Iran berlangsung.

    Sebagai salah satu pesawat pembom berat Angkatan Udara AS yang paling lama bertugas dan paling serbaguna, B-52 mampu membawa hingga 31.751 kilogram (hampir 70.000 pon) berbagai jenis persenjataan.

    Sebelumnya, Starmer sempat menolak memberikan izin kepada AS untuk menggunakan pangkalan militer di Inggris dalam serangan gabungan dengan Israel terhadap Iran.

    Keputusan itu sempat memicu perselisihan dengan Presiden AS Donald Trump.

    Namun, dalam pernyataan video yang dirilis pada Minggu, perdana menteri Inggris akhirnya mengabulkan permintaan AS demi "pertahanan diri kolektif" sekutu dan untuk melindungi nyawa warga Inggris, lapor Anadolu Agency.

    Perang AS-Israel Vs Iran

    Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, dengan menembakkan sejumlah rudal ke berbagai wilayah di negara tersebut, termasuk ibu kota Teheran.

    Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran digelar di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026.

    Pertemuan putaran ketiga itu berakhir tanpa kesepakatan. Meski demikian, kedua pihak sebelumnya sempat berencana melanjutkan pembicaraan pada tahap berikutnya.

    Selama ini, Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir melalui program nuklirnya.

    Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankannya semata-mata untuk tujuan damai, seperti pengembangan energi dan penelitian ilmiah.

    Ketegangan antara kedua pihak sebenarnya telah meningkat selama bertahun-tahun, dan perjanjian nuklir tahun 2015 tidak berjalan dengan baik. 

    Pada 22 Juni 2025, Amerika Serikat menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran untuk mendukung serangan Israel terhadap negara tersebut yang berlangsung selama 12 hari.

    Serangan itu semakin memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.

    Washington kemudian mendesak Teheran kembali ke meja perundingan nuklir, bahkan mengancam dengan "opsi militer" jika Iran tidak memenuhi tuntutan AS.

    Selama beberapa bulan terakhir, kedua pihak sempat sepakat melanjutkan dialog melalui perundingan dengan Oman sebagai mediator. 

    Oman menyatakan pembicaraan di Jenewa menunjukkan kemajuan signifikan, meskipun masih ada sejumlah isu penting yang belum mencapai kesepakatan.

    Perbedaan pandangan yang besar membuat kedua pihak belum berhasil mencapai perjanjian final.

    Harapan untuk melanjutkan proses diplomasi pun kembali runtuh setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan baru ke Iran pada 28 Februari.

    Menanggapi serangan tersebut, Iran menarik diri dari proses perundingan selama serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap negaranya masih berlangsung.

    Iran membalas serangan AS-Israel dengan menargetkan pangkalan militer mereka dan fasilitasnya di berbagai wilayah di Timur Tengah, serta memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran energi global di Timur Tengah.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)


    Komentar
    Additional JS